Kumpulan Cerita Cerita Seru
Cerita Seru Kirim Cerita IndoDiva Home IndoDiva Gallery IndoDiva Forum
Finding SEO - Bringing Traffics Closer To You
Articles
Daun Muda
Gay/Lesbian
Group Sex
Lain Lain
Oral Sex
Selingkuh
Setengah Baya
Sex Umum
Tukar Pasangan
Daun Muda :: Anak Tiriku Luar Biasa
Pengirim
Category
Type
Date Added
Rating
Voters
Readers
-
Daun Muda
Fiktif
2009-03-25 18:57:23
55
17459

Aku dan Mimin sudah jarang lagi punya kesempatan untuk berdua saja, karena isteriku sekarang lebih sering di rumah, jarang bepergian. Sebenarnya aku juga sudah 'usaha' mendapatkan kesempatan berdua saja dengan Mimin dengan cara menawari isteriku untuk menengok anak-anak di Bandung. Tapi tetap saja dia tak bersedia.
"Minggu depan mereka kan pulang.", begitu katanya, atau ...
"Biarlah, toh mereka udah gede", atau ...
"Ayo kita tengok bareng"
Tentu saja aku jawab tak bisa, sibuk alasanku.

Sejauh ini 'pelajaran' yang kuberikan kepada Mimin sudah hampir seluruhnya, seingatku. Mimin dalam umurnya yang hampir 17 tahun sudah mengerti tentang hubungan suami-isteri, tentang bagaimana perangsangan dilakukan, dan juga tentang ejakulasi. Menyaksikan aku, ayah angkatnya ejakulasi saat dia belajar mengoralku, juga menonton hubungan seks yang kulakukan dengan isteriku dari awal sampai akhir. Bahkan dia juga sudah merasakan sendiri nikmatnya dirangsang ketika aku mengulumi puting dadanya dan menjilati kewanitaannya.

Yang dia belum alami adalah orgasme-nya sendiri. Tentu saja ini sulit kuberikan, karena aku sudah commit tak akan merusak anak angkatku walaupun dia pernah memintanya. Bahkan aku sempat juga tergoda untuk melakukannya. Tapi, biarlah yang satu itu ia dapatkan dari suaminya kelak. Kadang aku merindukan saat-saat berdua saja dan bebas melakukan apa saja (kecuali yang satu itu). Tapi aku memang benar-benar ingin lagi merabai tubuhnya. Sudah beberapa bulan aku tak lagi 'memeriksa' sudah sebesar apa buah dadanya, atau sudah lebatkah bulu-bulu kelaminnya. Kesempatan untuk berdua semakin susah kudapatkan, apalagi Mimin sudah semakin sibuk dengan kegiatan-kegiatan eks-kul-nya. Bahkan untuk bertanya berapa sekarang ukuran bra dia, aku tak punya kesempatan.

Tapi ... suatu pagi ketika aku sedang di kantor, telepon berdering.
"Ayah, punya nomor telepon Avia Travel gak?" terdengar suara isteriku.
Aku hampir melonjak kegirangan. Itu artinya isteriku mau ke Bandung.
"Ada ... ada ... bentar Ayah cari dulu ...", kataku girang.
Cepat-cepat aku cari di HP, gak ketemu. Di buku catatan juga tak ketemu.
"Tutup dulu dah Bu, entar Ayah telepon."

Kenapa musti bingung cari-cari? Telepon saja 108, beres. Itulah aku, saking gembiranya sampai lupa. Aku juga tak memikirkan kenapa isteriku tak nelepon saja ke Penerangan, mungkin dia juga lupa. Nomor sudah kudapat.
"Kapan Ibu mau ke Bandung?"tanyaku
"Eh ... siapa yang mo ke Bandung" Seketika lenyaplah kegembiraanku.
"Lhah ... nanya travel buat apa?"tanyaku.
"Ini ... ibu-ibu tetangga pada mau jalan-jalan ke Jatiluhur ..."
"Oooh ..."kataku melongo, dan tentu saja kecewa.
"Ibu gak ikut?"
"Pasti dong ... boleh kan Yah ..."
"Boleh ... boleh ..."jawabku cepat.
"Makasih ya ..." Untung dia tak curiga, kenapa aku begitu bersemangat memberi izin ...

***

Hari Minggu pagi-pagi isteriku sudah sibuk melakukan persiapan untuk jalan-jalan. Mimin sibuk pula membantunya.
"Bener kamu gak ikut, Min", tanya isteriku.
"Penginnya sih Bu. tapi udah janjian ama temen-temen nih. Lagian kan ibu-ibu semua.", jawab Mimin.
"Tante Rina bawa anaknya tuh."
"Iya emang, tapi kan masa Mimin gaul ama anak SD?", kata Mimin.
"Iya sih, emang ini acara ibu-ibu. Kali aja Mimin pengin ikutan?", kata isteriku.

Aku antarkan isteriku sampai pintu pagar, selanjutnya Mimin membawakan tas berisi makanan sampai ke taman di kompleks perumahan, di mana bus Avia travel sudah siap terparkir. Aku hanya melihatnya dari kejauhan saja. Dasar ibu-ibu, heboh, mulutnya yang lebih banyak bekerja dibanding tangannya. Kulihat Mimin masih disitu, padahal aku harapkan dia segera balik. Sampai bus berangkat dan lenyap di tikungan, barulah Mimin pulang. Aku masih di depan pintu memperhatikan Mimin jalan menuju rumah. Inilah saatnya. Aha, belum-belum penisku menegang melihat Mimin dengan blouse ketatnya. Dadanya berguncang indah ketika dia jalan cepat. Uh. dada anak ini sudah tumbuh sempurna. Berapa bulan ya aku tak melihat gumpalan daging kembar itu?

Aku masuk, dengan berdebar menunggu kedatangan Mimin. Begitu beberapa langkah Mimin memasuki pintu, aku sergap dan memeluknya erat-erat. Walaupun agak kaget Miminpun segera menyambut pelukanku. Kurasakan ganjalan dadanya memang lebih sesak.
"Min ...".
"Ayah ...", jawabnya manis.
"Ayah kangen.".
"Kan tiap hari ketemu", katanya.
"Iya, tapi udah lama Ayah ngga peluk kamu".
"Iya ya Yah. Dah lama banget".
"Tubuh kamu ini ...", kataku sambil merabai pantatnya. Makin padat dan makin membulat.
"Kanapa tubuh Mimin Yah."
"Makin sexy aja."
"Masa sih Yah?", katanya sambil melepas pelukan dan mengamati tubuhnya sendiri.
"Rasanya biasa aja tuh. Sexy gimana Yah", sambungnya.
Kutangkupkan kedua telapak tanganku ke kedua bu ... [mohon login dengan username anda untuk melanjutkan cerita/article ini].



Cerita Seru Kirim Cerita IndoDiva Home IndoDiva Gallery IndoDiva Forum