|
|
|
|
|
|
|
|
- |
Gay Lesbian |
Nyata |
2007-06-25 04:51:42 |
|
14 |
7159 |
Sebut saja namaku Dewi. Kira-kira delapan tahun yang lalu, aku merantau ke kota udang, Cirebon. Di sana aku hidup sebagai anak kost. di sana pula aku berkenalan dengan Tia, seorang gadis yang cantik, berbadan tinggi sintal dan berkepribadian menarik. Semua pria pasti langsung jatuh hati pada Tia bila melihatmya. Hampir setiap hari Tia datang ke kost ku, mulai dari hanya sekedar ngobrol di kamar, jalan-jalan ke mall atau bahkan nongkrong di kafe. Dari awal kedekatanku dengan Tia ini yang membuat perasaan kami berbeda, karena tidak bisa sedetikpun kami berpisah. Kalaupun tidak bertemu, kami tetap berkominikasi lewat telepon. Bumbu-bumbu cemburu pun mulai dikenalkan Tia pada ku.
Setiap aku berhubungan dengan temanku yang lain, Tia pasti marah-marah tanpa alasan yang jelas. Begitulah setiap hari kami lalui berdua, tanpa komitmen apapun dan tidak lebih dari hanya sekedar pegangan tangan, cium kening, saling ngegombal satu sama lain. Hingga suatu hari, aku dekat dengan seseorang bernama Evi. Sifat manja Evi yang selalu menatap aku tanpa berkedip yang membuatku akhirnya sedikit melupakan Tia. Memang sih, secara fisik, Tia memang jauh di atas Evi, tapi mengapa perasaanku cenderung memilih Evi? Ada apakah ini, Tuhan?
Hari itu hujan cukup deras mengguyur kota Cirebon, hingga akhirnya di kantor hanya tersisa aku, Evi dan satu teman lagi. Suasana yang dingin, jadi pemicu kedekatanku dengan Evi. Kami bertiga hanya duduk terbengong-bengong menatap keluar jendela. Hujan tidak juga berhenti. Tanpa aku duga sebelumnya, tiba-tiba Evi sudah menghampiri aku dan langsung duduk bersandar di depanku sambil meraih kedua tanganku untuk memeluknya erat-erat. Direbahkan kepalanya di bahu kananku, sambil sesekali menyibakkan rambutnya yang panjang hingga lehernya terlihat dan nyaris tanpa batasmenyentuh bibirku. Oh my God ... perasaan apa ini. Dadaku bergemuruh kencang hingga sulit untuk menelan ludah. Sesekali Evi memegang erat tanganku sambil membimbing tanganku menyentuh payudaranya. Detak jantungku mulai kencang.Bergemuruh. Tapi sekali lagi, aku memang pengecut. aku hanya mengikuti setiap gerakan Evi tanpa perlawanan dan tanpa balasan. Pengecut!!!
Siang itu, aku sedang ngobrol dan bercanda-canda dengan Tia di teras Depan Kantor. Tiba-tiba aku menangkap sorot mata Evi yang begitu marah, menghujam di hadapanku. Cemburukah dia? Aku hanya tersenyum dalam hati. Apa sih menariknya aku hingga ada 2 gadis cantik yang memperebutkan aku. Mengapa bukan Hendra atau Rudi yang mereka perebutkan?
Untuk menebus kesalahan, akhirnya aku mengabulkan permintaan Evi untuk mengantarnya ber window shopping ke Cirebon Mall. Sepanjang jalan, tangan Evi selalu menggelanyut manja dan kepalanya di sandarkan dilenganku seakan tidak peduli berpasang-pasang mata menatap heran ke arah kami. Tidak terasa sudah jam 7 malam saat Evi mengajakku untuk nonton The beach. "Yah, udah malam, Vi. Ntar dicari mama lho, besok lagi aja yah." Jawabku, karena sudah malam.Sebenernya pingin juga sih, nonton berdua dengannya. Tapi aku engga mau menculik Evi terrlalu lama..dasar pengecut !!. Wajah Evi langsung cemberut sambul melepaskan tangannya dari gandenganku. Aku malah jadi geli melihat Evi cemberut kecewa.
Untuk long weekend minggu depan kami, teman-teman satu kantor berencana refreshing ke suatu tempat di pinggiran kota Cirebon. Sampai pada hari yang dinanti-nanti,sekali lagi Tia mendominasi ku. Evi? Tentu saja dia cemberut sampai mukanya dilepat-lipat jadi tujuh.Sesekali aku hanya bisa mencuri-curi pandang ke arah Evi yang matanya juga tidak pernah lepas menatap setiap gerak gerikku dan Tia. Akhirnya kami memisahkan diri dari keramaian. Aku dan Tia memilih untuk sembunyi di kamar. Sesekali bibir Tia mengecup keningku dengan hangat dan tangannya membelai lembut setiap helai rambutku. Kami berdua saling bercerita sambil sesekali rayuan gombal Tia menggelikan telingaku.Mata kami saling beradu, kami mulai merasakan ketidakmyamanan. Kami mulai gelisah hingga hanya menggesek-gesekkan kaki kami satu sama lain.Nafas Tia mulai turun naik tidak terkendali. Tiba-tiba pintu kamar yang lupa kami Kunci pun terbuka. Rudi menatap curiga ke arah kami yang mungkin masih terlihat tidak siap dan kacau.
Setelah makan malam selesai, acara selanjutnya dimulai. Aku dan Tia berpasangan berdansa sambil mengikuti alunan lagu dari tape recorder. Tia memeluk erat tubuhku dari belakang, sambil bibirnya sesekali ditempelkan diarea sensitifku, di belakang telinga dan payudaranya yang kenyal menempel lembut dipunggungku, membuat darahku naik sampai di kepala.Terdengar bisikan suaranya yang manja "Terasa ngga ?". Aku hanya sanggup menganggukkan kepala. Malam semakin larut, kamipun sudah kelelahan dan akhirnya malam itu ditutup dengan mencari tempat tidur masing-masing. Kecuali...Evi. aku cari kemana-mana tidak ada satu kamarpun yang berisi makhluk cantik bernama Evi. Akhirnya aku temukan Evi sedang duduk seorang diri di teras bu ... [mohon login dengan username anda untuk melanjutkan cerita/article ini].
|