Welcome, Guest. Please login or register.

Login with username, password and session length

 
Advanced search

7207 Posts in 2546 Topics- by 6224 Members - Latest Member: agueroc

September 09, 2010, 10:33:35 PM
IndoDiva.COM ForumsIndoDiva.COM FavoritesCerita Cerita Seru/Erotic Stories (Moderator: indodiva)Pengalamanku
Pages: [1]
Print
Author Topic: Pengalamanku  (Read 4953 times)
0 Members and 1 Guest are viewing this topic.
chacha
Agile Player
**
Posts: 85



View Profile Email
« on: January 19, 2007, 02:03:27 PM »

cirita ini gue dapat dari milis tetangga

Jakarta ! Ya, akhirnya jadi juga aku ke Jakarta. Kota impian semua
orang, paling tidak bagi orang sedesaku di Gumelar, Kabupaten Banyumas,
23 Km ke arah utara Purwokerto, Jawa Tengah. Aku memang orang desa.
Badanku tidak menggambarkan usiaku yang baru menginjak 16 tahun,
bongsor
berotot dengan kulit sawo gelap. Baru saja aku menamatkan ST (Sekolah
Teknik) Negeri Baturaden, sekitar 5 Km dari Desa Gumelar, atau 17 Km
utara Purwokerto. Kegiatanku sehari-hari selama ini kalau tidak
sekolah, membantu Bapak dan Emak berkebun. Itulah sebabnya badanku jadi
kekar dan kulit gelap. Kebunku memang tak begitu luas, tapi cukup untuk
menopang kehidupan keluarga kami sehari-hari yang hanya 5 orang. Aku
punya 2 orang adik laki-laki semua, 12 dan 10 tahun.

Boleh dikatakan aku ini orangnya 'kuper'. Anak dari desa kecil yang
terdiri dari hanya belasan rumah yang terletak di kaki Gunung Slamet.
Jarak antar rumahpun berjauhan karena diselingi kebun-kebun, aku jadi
jarang bertemu orang. Situasi semacam ini mempengaruhi kehidupanku
kelak. Rendah diri, pendiam dan tak pandai bergaul, apalagi dengan
wanita. Pengetahuanku tentang wanita hampir dapat dikatakan nol, karena
lingkungan bergaulku hanya seputar rumah, kebun, dan sekolah teknik
yang
muridnya 100% lelaki.

Pembaca yang budiman, kisah yang akan Anda baca ini adalah pengalaman
nyata kehidupanku sekitar 9 sampai 6 tahun lalu. Pengalaman nyata ini
aku ceritakan semuanya kepada Mas Joko, kakak kelasku, satu-satunya
orang yang aku percayai yang hobinya memang menulis. Dia sering menulis
untuk majalah dinding, buletin sekolah, koran dan majalah lokal yang
hanya beredar di seputar Purwokerto. Mas Joko kemudian meminta izinku
untuk menulis kisah hidupku ini yang katanya unik dan katanya akan
dipasang di internet. Aku memberinya izin asalkan nama asliku tidak
disebutkan. Jadi panggil saja aku Tarto, nama samaran tentu saja.

Aku ke Jakarta atas seizin orang tuaku, bahkan merekalah yang
mendorongnya. Pada mulanya aku sebenarnya enggan meninggalkan
keluargaku, tapi ayahku menginginkan aku untuk melanjutkan sekolah ke
STM. Aku lebih suka kerja saja di Purwokerto. Aku menerima usulan
ayahku
asalkan sekolah di SMA (sekarang SMU) dan tidak di kampung. Dia memberi
alamat adik misannya yang telah sukses dan tinggal di bilangan Tebet,
Jakarta. Ayahku sangat jarang berhubungan dengan adik misannya itu.
Paling hanya beberapa kali melalui surat, karena telepon belum masuk ke
desaku. Kabar terakhir yang aku dengar dari ayahku, adik misannya itu,
sebut saja Oom Ton, punya usaha sendiri dan sukses, sudah berkeluarga
dengan satu anak lelaki umur 4 tahun dan berkecukupan. Rumahnya lumayan
besar. Jadi, dengan berbekal alamat, dua pasang pakaian, dan uang
sekedarnya, aku berangkat ke Jakarta. Satu-satunya petunjuk yang aku
punyai: naik KA pagi dari Purwokerto dan turun di stasiun Manggarai.
Tebet tak jauh dari stasiun ini.

Stasiun Manggarai, pukul 15.20 siang aku dicekam kebingungan. Begitu
banyak manusia dan kendaraan berlalu lalang, sangat jauh berbeda dengan
suasana desaku yang sepi dan hening. Singkat cerita, setelah "berjuang"
hampir 3 jam, tanya ke sana kemari, dua kali naik mikrolet (sekali
salah
naik), sekali naik ojek yang mahalnya bukan main, sampailah aku pada
sebuah rumah besar dengan taman yang asri yang cocok dengan alamat yang
kubawa.

Berdebar-debar aku masuki pintu pagar yang sedikit terbuka, ketok pintu
dan menunggu. Seorang wanita muda, berkulit bersih, dan .. ya ampun,
menurutku cantik sekali (mungkin di desaku tidak ada wanita cantik),
berdiri di depanku memandang dengan sedikit curiga. Setelah aku
jelaskan
asal-usulku, wajahnya berubah cerah. "Tarto, ya ? Ayo masuk, masuk.
Kenalkan, saya Tantemu." Dengan gugup aku menyambut tangannya yang
terjulur. Tangan itu halus sekali. "Tadinya Oom Ton mau jemput ke
Manggarai, tapi ada acara mendadak. Tante engga sangka kamu sudah
sebesar ini. Naik apa tadi, nyasar, ya ?" Cecarnya dengan ramah.
"Maaar, bikin minuman !" teriaknya kemudian. Tak berapa lama datang
seorang wanita muda meletakkan minuman ke meja dengan penuh hormat.
Wanita ini ternyata pembantu, aku kira keponakan atau anggota keluarga
lainnya, sebab terlalu 'trendy' gaya pakaiannya untuk seorang pembantu.

Sungguh aku tak menduga sambutan yang begitu ramah. Menurut cerita yang
aku dengar, orang Jakarta terkenal individualis, tidak ramah dengan
orang asing, antar tetangga tak saling kenal. Tapi wanita tadi, isteri
Oomku, Tante Yani namanya ("Panggil saja Tante," katanya akrab) ramah,
cantik lagi. Tentu karena aku sudah dikenalkannya oleh Oom Ton.

Aku diberi kamar sendiri, walaupun agak di belakang tapi masih di rumah
utama, dekat dengan ruang keluarga. Kamarku ada AC-nya, memang seluruh
ruang yang ada di rumah utama ber-AC. Ini suatu kemewahan bagiku.
Dipanku ada kasur yang empuk dan selimut tebal. Walaupun AC-nya cukup
dingin, rasanya aku tak memerlukan selimut tebal itu. Mungkin aku cukup
menggunakan sprei putih tipis yang di lemari itu untuk selimut. Rumah
di
desaku cukup dingin karena letaknya di kaki gunung, aku tak pernah
pakai
selimut, tidur di dipan kayu hanya beralas tikar. Aku diberi
"kewenangan" untuk mengatur kamarku sendiri.

Aku masih merasa canggung berada di rumah mewah ini. Petang itu aku tak
tahu apa yang musti kukerjakan. Selesai beres-beres kamar, aku hanya
bengong saja di kamar. "Too, sini, jangan ngumpet aja di kamar," Tante
memanggilku. Aku ke ruang keluarga. Tante sedang duduk di sofa nonton
TV. "Sudah lapar, To ?" "Belum Tante." Sore tadi aku makan kue-kue yang
disediakan Si Mar. "Kita nunggu Oom Ton ya, nanti kita makan malam
bersama-sama." Oom Ton pulang kantor sekitar jam 19 lewat. "Selamat
malam, Oom," sapaku. "Eh, Ini Tarto ? Udah gede kamu." "Iya Oom."
"Gimana kabarnya Mas Kardi dan Yu Siti," Oom menanyakan ayah dan ibuku.
"Baik-baik saja Oom." Di meja makan Oom banyak bercerita tentang
rencana sekolahku di Jakarta. Aku akan didaftarkan ke SMA Negeri yang
dekat rumah. Aku juga diminta untuk menjaga rumah sebab Oom
kadang-kadang harus ke Bandung atau Surabaya mengurusi bisnisnya. "Iya,
saya kadang-kadang takut juga engga ada laki-laki di rumah," timpal
Tante. "Berapa umurmu sekarang, To ?" "Dua bulan lagi saya 16 tahun,
Oom." "Badanmu engga sesuai umurmu."

***

Hari-hari baruku dimulai. Aku diterima di SMA Negeri 26 Tebet, tak jauh
dari rumah Oom dan Tanteku. Ke sekolah cukup berjalan kaki. Aku memang
belum sepenuhnya dapat melepas kecanggunganku. Bayangkan, orang udik
yang kuper tamatan ST (setingkat SLTP) sekarang sekolah di SMA
metropolitan. Kawan sekolah yang biasanya lelaki melulu, kini banyak
teman wanita, dan beberapa diantaranya cantik-cantik. Cantik ? Ya,
sejak
aku di Jakarta ini jadi tahu mana wanita yang dianggap cantik, tentunya
menurut ukuranku. Dan tanteku, Tante Yani, isteri Oom Ton menurutku
paling cantik, dibandingkan dengan kawan-kawan sekolahku, dibanding
dengan tante sebelah kiri rumah, atau gadis (mahasiswi ?) tiga rumah ke
kanan. Cepat-cepat kuusir bayangan wajah tanteku yang tiba-tiba muncul.
Tak baik membayangkan wajah tante sendiri.

Pada umumnya teman-teman sekolahku baik, walaupun kadang-kadang mereka
memanggilku 'Jawa', atau meledek cara bicaraku yang mereka sebut
'medok'. Tak apalah, tapi saya minta mereka panggil saja Tarto.
Alasanku, kalau memanggil 'Jawa', toh orang Jawa di sekolah itu bukan
hanya aku. Mereka akhirnya mau menerima usulanku. Terus terang aku di
kelas menjadi cepat populer, bukan karena aku pandai bergaul.
Dibandingkan teman satu kelas tubuhku paling tinggi dan paling besar.
Bukan sombong, aku juga termasuk murid yang pintar. Aku memang serius
kalau belajar, kegemaranku membaca menunjang pengetahuanku.

Kegemaranku membaca inilah yang mendorongku bongkar-bongkar isi rak
buku
di kamarku di suatu siang pulang sekolah. Rak buku ini milik Oom Ton.
Nah, di antara tumpukan buku, aku menemukan selembar majalah bergambar,
namanya Popular.

Rupanya penemuan majalah inilah merupakan titik awalku belajar mandiri
tentang wanita. Tidak sendiri sebetulnya, sebab ada "guru" yang
diam-diam membimbingku. Kelak di kemudian hari aku baru tahu tentang
"guru" itu.

Majalah itu banyak memuat gambar-gambar wanita yang bagus, maksudnya
bagus kualitas fotonya dan modelnya. Dengan berdebar-debar satu-persatu
kutelusuri halaman demi halaman. Ini memang majalah hiburan khusus
pria. Semua model yang nampang di majalah itu pakaiannya terbuka dan
seronok. Ada yang pakai rok demikian pendeknya sehingga hampir seluruh
pahanya terlihat, dan mulus. Ada yang pakai blus rendah dan membungkuk
memperlihatkan bagian belahan buah dada. Dan, ini yang membuat
jantungku
keras berdegup : memakai T-shirt yang basah karena disiram, sementara
dalamnya tidak ada apa-apa lagi. Samar-samar bentuk sepasang buah
kembar
kelihatan. Oh, begini tho bentuk tubuh wanita. Dasarnya aku sangat
jarang ketemu wanita. Kalau ketemu-pun wanita desa atau embok-embok,
dan
yang aku lihat hanya bagian wajah. Bagaimana aku tidak deg-deg-an baru
pertama kali melihat gambar tubuh wanita, walaupun hanya gambar paha
dan
sebagian atas dada.

Sejak ketemu majalah Popular itu aku jadi lain jika memandang wanita
teman kelasku. Tidak hanya wajahnya yang kulihat, tapi kaki, paha dan
dadanya "kuteliti". Si Rika yang selama ini aku nilai wajahnya lumayan
dan putih, kalau ia duduk menyilangkan kakinya ternyata memiliki paha
mulus agak mirip foto di majalah itu. Memang hanya sebagian paha bawah
saja yang kelihatan, tapi cukup membuatku tegang. Ya tegang. "Adikku"
jadi keras! Sebetulnya penisku menjadi tegang itu sudah biasa setiap
pagi. Tapi ini tegang karena melihat paha mulus Rika adalah pengalaman
baru bagiku. Sayangnya dada Rika tipis-tipis saja. Yang dadanya besar
si Ani, demikian menonjol ke depan. Memang ia sedikit agak gemuk. Aku
sering mencuri pandang ke belahan kemejanya. Dari samping terkadang
terbuka sedikit memperlihatkan bagian dadanya di sebelah kutang. Walau
terlihat sedikit cukup membuatku "ngaceng". Sayangnya, kaki Ani tak
begitu bagus, agak besar. Aku lalu membayangkan bagaimana bentuk dada
Ani seutuhnya, ah ngaceng lagi ! Atau si Yuli. Badannya biasa-biasa
saja, paha dan kaki lumayan berbentuk, dadanya menonjol wajar, tapi
aku senang melihat wajahnya yang manis, apalagi senyumnya. Satu lagi,
kalau ia bercerita, tangannya ikut "sibuk". Maksudku kadang mencubit,
menepuk, memukul, dan, ini dia, semua roknya berpotongan agak pendek.
Ah, aku sekarang punya "wawasan" lain kalau memandang teman-teman cewe.

Ah ! Tante Yani ! Ya, kenapa selama ini aku belum "melihat dengan cara
lain"? Mungkin karena ia isteri Oomku, orang yang aku hormati, yang
membiayai hidupku, sekolahku. Mana berani aku "menggodanya" meskipun
hanya dari cara memandang. Sampai detik ini aku melihat Tante Yani
sebagai : wajahnya putih bersih dan cantik. Tapi dasar setan selalu
menggoda manusia, bagaimana tubuhnya ? Ah, aku jadi pengin cepat-cepat
pulang sekolah untuk "meneliti" Tanteku. Jangan ah, aku menghormati
Tanteku.

Aduh ! Kenapa begini ? Apanya yang begini ? Tante Yani ! Seperti biasa,
kalau pulang aku masuk dari pintu pagar langsung ke garasi, lalu masuk
dari pintu samping rumah ke ruang keluarga di tengah-tengah rumah.
Melewati ruang keluarga, sedikit ke belakang sampai ke kamarku. Isi
ruang keluarga ini dapat kugambarkan : di tengahnya terhampar karpet
tebal yang empuk yang biasa digunakan tante untuk membaca sambil
rebahan, atau sedang dipijit Si Mar kalau habis senam. Agak di belakang
ada satu set sofa dan pesawat TV di seberangnya. Sewaktu melewati ruang
keluarga, aku menjumpai Tante Yani duduk di kursi dekat TV menyilang
kaki sedang menyulam, berpakaian model kimono. Duduknya persis si Rika
tadi pagi, cuma kaki Tante jauh lebih indah dari Rika. Putih, bersih,
panjang, di betis bawahnya dihiasi bulu-bulu halus ke atas sampai paha.
Ya, paha, dengan cara duduk menyilang, tanpa disadari Tante belahan
kimononya tersingkap hingga ke bagian paha agak atas. Tanpa sengaja
pula aku jadi tahu bahwa tante memiliki paha selain putih bersih juga
berbulu lembut. Sejenak aku terpana, dan lagi-lagi tegang. Untung aku
cepat sadar dan untung lagi Tante begitu asyik menyulam sehingga tidak
melihat ulah keponakannya yang dengan kurang ajar "memeriksa" pahanya.
Ah, kacau.

Sebenarnya tidak sekali ini aku melihat Tante memakai kimono. Kenapa
aku
tadi terangsang mungkin karena "penghayatan" yang lain, gara-gara
majalah itu. Selesai makan ada dorongan aku ingin ke ruang tengah,
meneruskan "penelitianku" tadi. Aku ada alasan lain tentu saja, nonton
TV swasta, hal baru bagiku. Mungkin aku mulai kurang ajar : mengambil
posisi duduk di sofa nonton TV tepat di depan Tante, searah-pandang
kalau mengamati pahanya ! "Gimana sekolahmu tadi To ?" tanya Tante
tiba-tiba yang sempat membuatku kaget sebab sedang memperhatikan bulu-
bulu kakinya. "Biasa-biasa saja Tante." "Biasa gimana ? Ada kesulitan
engga ?" "Engga Tante." "Udah banyak dapat kawan ?" "Banyak, kawan
sekelas." "Kalau kamu pengin main lihat-lihat kota, silakan aja."
"Terima kasih, Tante. Saya belum hafal angkutannya." "Harus dicoba, yah
nyasar-nyasar dikit engga apa-apa, toh kamu tahu jalan pulang." "Iya
Tante, mungkin hari Minggu saya akan coba." "Kalau perlu apa-apa, uang
jajan misalnya atau perlu beli apa, ngomong aja sama Tante, engga usah
malu-malu." Gimana kurang baiknya Tanteku ini, keponakannya saja yang
nakal. Nakal ? Ah 'kan cuma dalam pikiran saja, lagi pula hanya
"meneliti" kaki yang tanpa sengaja terlihat, apa salahnya. "Terima
kasih Tante, uang yang kemarin masih ada kok." "Emang kamu engga jajan
di sekolah ?" Berdesir darahku. Sambil mengucapkan 'jajan' tadi Tante
mengubah posisi kakinya sehingga sekejap, tak sampai sedetik, sempat
terlihat warna merah jambu celana dalamnya ! Aku berusaha keras
menenangkan diri. "Jajan juga sih, hanya minuman dan makanan kecil."
Akupun ikut-ikutan mengubah posisi, ada sesuatu yang mengganjal di
dalam celanaku. Untung Tante tidak memperhatikan perubahan wajahku.
Sepanjang siang ini aku bukannya nonton TV. Mataku lebih sering ke arah
Tante, terutama bagian bawahnya!

Hari-hari berikutnya tak ada kejadian istimewa. Rutin saja, sekolah,
makan siang, nonton TV, sesekali melirik kaki Tante. Oom Ton pulang
kantor selalu malam hari. Saat ketemu Oomku hanya pada makan malam,
bertiga. Si Luki, anak lelakinya 4 tahun biasanya sudah tidur. Kalau
Luki sudah tidur, Tinah, pengasuhnya pamitan pulang. Pada acara makan
malam ini, sebetulnya aku punya kesempatan untuk "menikmati" (cuma
dengan mata) paha mulus berbulu Tante, sebab malam ini ia memakai rok
pendek, biasanya memakai daster. Tapi mana berani aku menatap
pemandangan indah ini di depan Oom. Betapa bahagianya mereka menurut
pandanganku. Oom tamat sekolahnya, punya usaha sendiri yang sukses,
punya isteri yang cantik, putih, mulus. Anak hanya satu. Punya sopir,
seorang pembantu, Si Mar dan seorang baby sitter Si Tinah. Sopir dan
baby sitter tidak menginap, hanya pembantu yang punya kamar di
belakang. Praktis Tante Yani banyak waktu luang. Anak ada yang
mengasuh, pekerjaan rumah tangga beres ditangan pembantu. Oh ya, ada
seorang lagi, pengurus taman biasa di panggil Mang Karna, sudah agak
tua yang datang sewaktu-waktu, tidak tiap hari.

Keesokkan harinya ada kejadian 'penting' yang perlu kuceritakan.
Pagi-pagi ketika aku sedang menyusun buku-buku yang akan kubawa ke
sekolah, ada beberapa lembar halaman yang mungkin lepasan atau sobekan
dari majalah luar negeri terselip di antara buku-buku pelajaranku. Aku
belum sempat mengamati lembaran itu, karena buru-buru mau berangkat
takut telat. Di sekolah pikiranku sempat terganggu ingat sobekan
majalah
berbahasa Inggris itu, milik siapa ? Tadi pagi sekilas kulihat ada
gambarnya wanita hanya memakai celana jean tak berbaju. Inilah yang
mengganggu pikiranku. Sempat kubayangkan, bagaimana kalau Ani hanya
memakai jean. Kaki dan pahanya yang kurang bagus tertutup, sementara
bulatan dadanya yang besar terlihat jelas. Ah.. nakal kamu To !

Pulang sekolah tidak seperti biasa aku tidak langsung ke meja makan,
tapi ngumpet di kamarku. Pintu kamar kukunci dan mulai mengamati
sobekan
majalah itu. Ada 4 lembar, kebanyakan tulisan yang tentu saja tidak
kubaca. Aku belum paham Bahasa Inggris. Di setiap pojok bawah lembaran
itu tertulis: Penthouse. Langsung saja ke gambar. Gemetaran aku
dibuatnya. Wanita bule, berpose membusungkan dadanya yang besar, putih,
mulus, dan terbuka seluruhnya ! Paha dan kakinya meskipun tertutup jean
ketat, tapi punya bentuk yang indah, panjang, persis kaki milik Tante.
Hah, kenapa aku jadi membandingkan dengan tubuh Tante ? Peduli amat,
tapi itulah yang terbayang. Kenapa aku sebut kejadian penting, karena
baru sekaranglah aku tahu bentuk utuh sepasang buah dada, meskipun
hanya dari foto. Bulat, di tengah ada bulatan kecil warna coklat, dan
di
tengah-tengah bulatan ada ujungnya yang menonjol keluar. Segera saja
tubuhku berreaksi, penisku tegang, dada berdebar-debar. Halaman
berikutnya membuatku lemas, mungkin belum makan. Masih wanita bule yang
tadi tapi sekarang di close-up. Buah dadanya makin jelas, sampai ke
pori-porinya. Ini kesempatanku untuk "mempelajari" anatomi buah kembar
itu. Dari atas kulit itu bergerak naik, sampai puting yang merupakan
puncaknya, kemudian turun lagi "membulat". Ya, beginilah bentuk buah
dada wanita. Putingnya, apakah selalu menonjol keluar seperti menunjuk
ke depan ? Jawabannya baru tahu kelak kemudian hari ketika aku
"praktek". Tiba-tiba terlintas pikiran nakal, Tante Yani ! Bagaimana
ya bentuk buah dada Tanteku itu ? Ah, kenapa selama ini aku tak
memperhatikannya. Asyik lihat ke bawah terus sih ! Memang kesempatannya
baru lihat paha. Kimono Tante waktu itu, kalau tak salah, tertutup
sampai dibawah lehernya. Tapi 'kan bisa lihat bentuk luarnya. Ah,
memang mataku tak sampai kesitu. Melihat bentuk paha dan kaki cewe bule
ini mirip milik Tante, aku rasa bentuk dadanyapun tak jauh berbeda,
begitu aku mencoba memperkirakan. Begitu banyak aku berdialog dengan
diri sendiri tentang buah dada. Begitu banyak pertanyaan yang bermuara
pada pertanyaan inti : Bagaimana bentuk buah dada Tanteku yang cantik
itu ? Untungnya, atau celakanya, pertanyaanku itu segera mendapat
jawaban, di meja makan. Di pertengahan makan siangku, Tante muncul
istimewa. Mengenakan baju-mandi, baju mirip kimono tapi pendek dari
bahan seperti handuk tapi lebih tipis warna putih dan ada pengikat di
pinggangnya. Tante kelihatan lain siang itu, segar, cerah.
Kelihatannya baru selesai mandi dan keramas, sebab rambutnya diikat
handuk ke atas mirip ikat kepala para syeh. "Oh, kamu sudah pulang,
engga kedengaran masuknya," sapanya ramah sambil berjalan menuju ke
tempatku. "Dari tadi Tante," jawabku singkat. Ia berhenti, berdiri tak
jauh dari dudukku. Kedua tangannya ke atas membenahi handuk di
rambutnya. Posisi tubuh Tante yang beginilah memberi jawaban atas
pertanyaanku tadi. Luar biasa ! Besar juga buah dada Tante ini, persis
seperti perkiraanku tadi, bentuknya mirip punya cewe bule di Penthouse
tadi.

Meskipun aku melihatnya masih "terbungkus" baju-mandi, tapi jelas
alurnya, bulat menonjol ke depan. Di bagian kanan baju mandinya rupanya
ada yang basah, ini makin mempertegas bentuk buah indah itu.
Samar-samar
aku bisa melihat lingkaran kecil di tengahnya. Sehabis mandi mungkin
hanya baju-mandi itu saja yang membungkus tubuhnya sekarang. Bawahnya
aku tak tahu. Bawahnya ! Ya, aku melupakan pahanya. Segera saja mataku
turun. Kini lebih jelas, bulu-bulu lembut di pahanya seperti diatur,
berbaris rapi. Ah aku sekarang lagi tergila-gila buah dada. Pandanganku
ke atas lagi. Mudah-mudahan ia tak melihatku melahap (dengan mata)
tubuhnya. Memang ia tidak memperhatikanku, pandangannya ke arah lain
masih terus asyik merapikan rambutnya. Tapi aku tak bisa berlama-lama
begini, disamping takut ketahuan, lagipula aku 'kan sedang makan.
Kuteruskan makanku. Bagaimana reaksi tubuhku, susah diceritakan. Yang
jelas kelaminku tegang luar biasa. Tiba-tiba ia menarik kursi makan di
sebelahku dan duduk. Ah, wangi tubuhnya terhirup olehku. "Makan yang
banyak, tambah lagi tuh ayamnya." Bagaimana mau makan banyak, kalau
"diganggu" seperti ini. Aku mengiakan saja. Rupanya "gangguan nikmat"
belum selesai. Aku duduk menghadap ke utara. Di dekatku duduk si
Badan-sintal yang habis mandi, menghadap ke timur. Aku bebas
melihat tubuhnya dari samping kiri. Ia menundukkan kepalanya dan
mengurai rambutnya ke depan. Dengan posisi seperti ini, badan agak
membungkuk ke depan dan satu-satunya pengikat baju ada di pinggang,
dengan serta merta baju mandinya terbelah dan menampakkan pemandangan
yang bukan main. Buah dada kirinya dapat kulihat dari samping dengan
jelas. Ampun.. putihnya, dan membulat. Kalau aku menggeser kepalaku
agak ke kiri, mungkin aku bisa melihat putingnya. Tapi ini sih ketahuan
banget. Jangan sampai. Betapa tersiksanya aku siang ini. Tersiksa tapi
nikmat ! Oh Tuhan, janganlah aku Kau beri siksa yang begini. Aku
khawatir tak sanggup menahan diri. Rasa-rasanya tanganku ingin
menelusup ke belahan baju mandi ini lalu meremas buah putih itu...
Kalau itu terjadi, bisa-bisa aku dipulangkan, dan hilanglah
kesempatanku meraih masa depan yang lebih baik. Apa yang kubilang pada
ayahku ? Dapat kupastikan ia marah besar, dan artinya, kiamat bagiku.

Untung, atau sialnya, Tante cepat bangkit menuju ke kamar sambil
menukas: "Teruskan ya makannya." "Ya Tante," sahutku masih gemetaran.
Aah., aku menemukan sesuatu lagi. Aku mengamati Tante berjalan ke
kamarnya dari belakang, gerakan pinggulnya indah sekali. Pinggul yang
tak begitu lebar, tapi pantatnya demikian menonjol ke belakang. Tubuh
ideal, memang.

Malamnya aku disuruh makan duluan sendiri. Tante menunggu Oom yang
telat
pulang malam ini. Masih terbayang kejadian siang tadi bagaimana aku
menikmati pemandangan dada Tante yang membuat aku tak begitu selera
makan. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh kedatangan Tante yang muncul dari
kamarnya. Masih mengenakan baju-mandi yang tadi, rambutnya juga masih
diikat handuk. Langsung ia duduk disebelahku persis di kursi yang tadi.
Belum habis rasa kagetku, tiba-tiba pula ia pindah dan duduk di
pangkuanku ! Bayangkan pembaca, bagaimana nervous-nya aku. Yang jelas
penisku langsung mengeras merasakan tindihan pantat Tante yang padat.
Disingkirkannya piringku, memegang tangan kiriku dan dituntunnya
menyelinap ke belahan baju-mandinya. Aku tidak menyia-nyiakan
kesempatan
emas ini. Kuremas dadanya dengan gemas. Hangat, padat dan lembut.
Tantepun menggoyang pantatnya, terasa enak di kelaminku. Goyangan makin
cepat, aku jadi merasa geli di ujung penisku. Rasa geli makin meningkat
dan meningkat, dan .. Aaaaah, aku merasakan nikmat yang belum pernah
kualami, dan eh, ada sesuatu terasa keluar berbarengan rasa nikmat
tadi, seperti pipis dan... aku terbangun. Sialan ! Cuma mimpi rupanya.
Masa memimpikan Tante, aku jadi malu sendiri. Kejadian siang tadi
begitu membekas sampai terbawa mimpi. Eh, celanaku basah. Mana mungkin
aku ngompol. Lalu apa dong ? Cepat-cepat aku periksa. Memang aku
ngompol ! Tapi tunggu dulu, kok airnya lain, lengket-lengket agak
kental. Ah, kenapa pula aku ini ? Apa yang terjadi denganku ? Besok
coba aku tanya pada Oom. Gila apa ! Jangan sama Oom dong. Lalu tanya
kepada Tante, tak mungkin juga. Coba ada Mas Joko, kakak kelasku di ST
dulu. Mungkin teman sekolahku ada yang tahu, besok aku tanyakan.

***

Esoknya aku ceritakan hal itu kepada Dito teman paling dekat. Sudah
barang tentu kisahnya aku modifikasi, bukan Tante yang duduk di
pangkuanku, tapi "seseorang yang tak kukenal". "Kamu baru mengalami
tadi
malam ?" "Ya, tadi malam." "Telat banget. Aku sudah mengalami sewaktu
kelas 2 SMP, dua tahun lalu. Itu namanya mimpi basah." "Mimpi basah ?"
"Ya. Itu tandanya kamu mulai dewasa, sudah aqil-baliq. Lho, emangnya
kamu belum pernah dengar ?" Malu juga aku dibilang telat dan belum tahu
mimpi basah. Tapi juga ada rasa sedikit bangga, aku mulai dewasa!
"Rupanya kamu badan aja yang gede, pikiran masih anak-anak." Ah biar
saja. Beberapa hari sebelum mimpi basah itu toh aku sudah "menghayati"
wanita sebagai orang dewasa! "Kamu punya pacar ?" "Engga." "Atau pernah
pacaran ?" "Engga juga." "Pantesan telat kalau begitu. Waktu kelas 3
SMP
aku punya pacar, teman sekelas. Enak deh, sekolah jadi semangat."
"Kalau
pacaran ngapain aja sih ?" tanyaku lugu. Memang betul aku belum tahu
tentang pacaran. Tentang wanitapun aku baru tahu beberapa hari lalu.
"Ha.. ha.. ha.! Kampungan lu ! Ya tergantung orangnya. Kalau aku sih
paling-paling ciuman, raba-raba, udah. Kalau si Ricky kelewatan, sampai
pacarnya hamil." Ciuman, raba-raba. Aku pernah lihat orang ciuman di
filem TV, enak juga kelihatannya, belum pernah aku membayangkan. Kalau
meraba, pernah kubayangkan meremas dada Tante. "Hamil ?" Pelajaran baru
nih. "Ada juga yang sampai 'gitu' tapi engga hamil. Engga tahu aku
caranya gimana." "Gitu gimana ?" "Kamu betul-betul engga tahu ?" Lalu
ia
cerita bagaimana hubungan kelamin itu. Dengan bisik-bisik tentunya. Aku
jadi tegang. Pantaslah aku dibilang kampungan, memang betul-betul baru
tahu saat ini. Kelamin lelaki masuk ke kelamin wanita, keluar bibit
manusia, lalu hamil. Bibit ! Mungkin yang keluar dari kelaminku semalam
adalah bibit manusia. Bagaimana mungkin kelaminku sebesar ini bisa
masuk
ke lubang pipis wanita ? Sebesar apa lubangnya, dan di mana ? Yang
pernah aku lihat kelamin wanita itu kecil, berbentuk segitiga terbalik
dan ada belahan kecil di ujung bawahnya. Tapi yang kulihat dulu itu di
desa adalah kelamin anak-anak perempuan yang sedang mandi di pancuran.
Kelamin wanita dewasa sama sekali aku belum pernah lihat. Bagaimana
bentuknya ya ? Mungkin segitiganya lebih besar. Ah, pikiranku terlalu
jauh. Ciuman saja dulu. Aku sependapat dengan Dito, kalau pacaran
ciuman dan raba-raba saja. Aku jadi ingin pacaran, tapi siapa yang mau
pacaran sama aku yang kuper ini ? Ya dicari dong! Si Rika, Ani atau
Yuli ? Siapa sajalah, asal mau jadi pacarku, buat ciuman dan diraba-
raba. Sepertinya sedap.

Dalam perjalanan pulang aku membayangkan bagaimana seandainya aku
pacaran sama Rika. Pahanya yang lumayan mulus enak dielus-elus.
Tanganku
terus ke atas membuka kancing bajunya, lalu menyelusup dan... sopir
Bajaj itu memaki-maki membuyarkan lamunanku. Tanpa sadar aku berjalan
terlalu ke tengah. Di balik kutang Rika hanya ada sedikit tonjolan, tak
ada "pegangan", kurang enak ah. Tiba-tiba Rika berubah jadi Ani.
Melamun
itu memang enak, bisa kita atur semau kita. Ketika membuka kancing baju
Ani aku mulai tegang. Kususupkan empat jariku ke balik kutang Ani. Nah
ini, montok, keras walau tak begitu halus. Telapak tanganku tak cukup
buat "menampung" dada Ani. Aku berhenti, menunggu lampu penyeberangan
menyala hijau. Sampai di seberang jalan kusambung khayalanku. Ani telah
berubah menjadi Yuli. Anak ini memang manis, apalagi kalau tersenyum,
bibirnya indah, setidaknya menurutku. Aku mulai mendekatkan mulutku ke
bibir Yuli yang kemudian membuka mulutnya sedikit, persis seperti di
film TV kemarin. Kamipun berciuman lama. Kancing baju seragam Yulipun
mulai kulepas, dua kancing dari atas saja cukup. Kubayangkan, meski
dari luar dada Yuli menonjol biasa, tak kecil dan tak besar, ternyata
dadanya besar juga. Kuremas-remas sepuasnya sampai tiba di depan rumah.

Aku kembali ke dunia nyata. Masuk melalui pintu garasi seperti biasa,
membuka pintu tengah sampai ke ruang keluarga. Juga seperti biasa kalau
mendapati Tante sedang membaca majalah sambil rebahan di karpet, atau
menyulam, atau sekedar nonton TV di ruang keluarga. Yang tidak biasa
adalah, kedua bukit kembar itu. Tante membaca sambil tengkurap
menghadap
pintu yang sedang kumasuki. Posisi punggungnya tetap tegak dengan
bertumpu pada siku tangannya. Mengenakan daster dengan potongan dada
rendah, rendah sekali. Inipun tak biasa, atau karena aku jarang
memperhatikan bagian atas. Tak ayal lagi, kedua bukit putih itu hampir
seluruhnya tampak. Belahannya jelas, sampai urat-urat lembut agak
kehijauan di kedua buah dada itu samar-samar nampak. Aku tak melewatkan
kesempatan emas ini. Tante melihat sebentar ke arahku, senyum sekejap,
terus membaca lagi. Akupun berjalan amat perlahan sambil mataku tak
lepas dari pemandangan amat indah ini...

Hampir lengkap aku "mempelajari" tubuh Tanteku ini. Wajah dan
"komponen"nya mata, alis, hidung, pipi, bibir, semuanya indah yang
menghasilkan : cantik. Walaupun dilihat sekejap, apalagi berlama-lama.
Paha dan kaki, panjang, semuanya putih, mulus, berbulu halus. Pinggul,
meski baru lihat dari bentuknya saja, tak begitu lebar, proporsional,
dengan pantat yang menonjol bulat ke belakang. Pinggang, begitu sempit
dan perut yang rata. Ini juga hanya dari luar. Dan yang terakhir buah
dada. Hanya puting ke bawah saja yang belum aku lihat langsung. Kalau
daerah pinggul, bagian depannya saja yang aku belum bisa membayangkan.
Memang aku belum pernah membayangkan, apalagi melihat kelamin wanita
dewasa. Aku masih penasaran pada yang satu ini.
Keesokan harinya, siang-siang, Dito memberiku sampul warna coklat agak
besar, secara sembunyi-sembunyi.

"Nih, buat kamu."

"Apa nih ?"

"Simpan aja dulu, lihatnya di rumah, Hati-hati." Aku makin penasaran.
"Lanjutan pelajaranku kemarin. Gambar-gambar asyik," bisiknya.

Sampai di rumah aku berniat langsung masuk kamar untuk memeriksa benda
pemberian Dito. Tante lagi membaca di karpet, kali ini terlentang,
mengenakan daster dengan kancing di tengah membelah badannya dari atas
ke bawah. Kancingnya yang terbawah lepas sebuah yang mengakibatkan
sebagian pahanya tampak, putih. "Suguhan" yang nikmat sebenarnya, tapi
kunikmati hanya sebentar saja, pikiranku sedang tertuju ke sampul
coklat. Dengan tak sabaran kubuka sampul itu, sesudah mengunci pintu
kamar, tentunya. Wow, gambar wanita bule telanjang bulat! Sepertinya
ini
lembaran tengah suatu majalah, sebab gambarnya memenuhi dua halaman
penuh. Wanita bule berrambut coklat berbaring terlentang di tempat
tidur. Segera saja aku mengeras. Buah dadanya besar bulat, putingnya
lagi-lagi menonjol ke atas warna coklat muda. Perutnya halus, dan ini
dia, kelaminnya! Sungguh beda jauh dengan apa yang selama ini
kuketahui.
Aku tak menemukan "segitiga terbalik" itu. Di bawah perut itu ada
rambut-rambut halus keriting. Ke bawah lagi, lho apa ini ? Sebelah kaki
cewe itu dilipat sehingga lututnya ke atas dan sebelahnya lagi
menjuntai
di pinggir ranjang memperlihatkan selangkangannya. Inilah rupanya
lubang
itu. Bentuknya begitu "rumit". Ada daging berlipat di kanan kirinya,
ada
tonjolan kecil di ujung atasnya, lubangnya di tengah terbuka sedikit.
Mungkin di sinilah tempat masuknya kelamin lelaki. Tapi, mana cukup ?
Oo, seperti inilah rupanya wujud kelamin wanita dewasa. Tiba-tiba
pikiran nakalku kambuh : begini jugakah punya Tante? Pertanyaan yang
jelas-jelas tak mungkin mendapatkan jawaban! Bagaimana dengan punya
Rika, Ani, atau Yuli? Sama susahnya untuk mendapatkan jawaban. Lupakan
saja. Tunggu dulu, barangkali Si Mar pembantu itu bisa memberikan
"jawaban". Orangnya penurut, paling tidak dia selalu patuh pada
perintah
majikannya, termasuk aku. Bahkan dulu itu tanpa aku minta membantuku
beres-beres kamarku, dengan senang pula. Orangnya lincah dan ramah.
Tidak terlalu jelek, tapi bersih. Kalau sudah dandan sore hari ngobrol
dengan pembantu sebelah, orang tak menyangka kalau ia pembantu. Dulu
waktu pertama kali ketemu pun aku tak mengira bahwa ia pembantu. Setiap
pagi ia menyapu dan mengepel seluruh lantai, termasuk lantai kamarku.
Kadang-kadang aku sempat memperhatikan pahanya yang tersingkap sewaktu
ngepel, bersih juga. Yang jelas ia periang dan sedikit genit. Tapi masa
kusuruh ia membuka celana dalamnya, "Coba Mar aku pengin lihat punyamu,
sama engga dengan yang di majalah." Gila ! Jangan langsung begitu,
pacari saja dulu. Ah, pacaran kok sama pembantu. Apa salahnya? Dari
pada tidak pacaran sama sekali. Okey, tapi bagaimana ya cara memulainya
? Ah, dasar kuper!

Aku jadi lebih memperhatikan Si Mar. Mungkin ia setahun atau dua tahun
lebih tua dariku, sekitar 18 lah. Wajahnya biasa-biasa saja, bersih dan
selalu cerah, kulit agak kuning, dadanya tak begitu besar, tapi sudah
berbentuk. Paha dan kaki bersih. Mulai hari ini aku bertekat untuk
mulai
menggoda Si Mar, tapi harus hati-hati, jangan sampai ketahuan oleh
siapapun. Seperti hari-hari lainnya ia membersihkan kamarku ketika aku
sedang sarapan. Pagi ini aku sengaja menunda makan pagiku menunggu Si
Mar. Tante masih ada di kamarnya. Si Mar masuk tapi mau keluar lagi
ketika melihat aku ada di dalam kamar.

"Masuk aja mbak, engga apa-apa," kataku sambil pura-pura sibuk
membenahi
buku-buku sekolah. Masuklah dia dan mulai bersih-bersih. Tanganku terus
sibuk berbenah sementara mataku melihatnya terus. Sepasang pahanya
nampak, sudah biasa sih lihat pahanya, tapi kali ini lain. Sebab aku
membayangkan apa yang ada di ujung atas paha itu. Aku mengeras. Sekilas
tampak belahan dadanya waktu ia membungkuk-bungkuk mengikuti irama
ngepel. Tiba-tiba ia melihatku, mungkin merasa aku perhatikan terus.

"Kenapa, Mas." Kaget aku.

"Ah, engga. Apa mbak engga cape tiap hari ngepel."

"Mula-mula sih capek, lama-lama biasa, memang udah kerjaannya,"
jawabnya
cerah.

"Udah berapa lama mbak kerja di sini ?"

"Udah dari kecil saya di sini, udah 5 tahun."

"Betah ?"

"Betah dong, Ibu baik sekali, engga pernah marah. Mas dari mana sih
asalnya ?" tanyanya tiba-tiba. Kujelaskan asal-usulku.

"Oo, engga jauh dong dari desaku. Saya dari Cilacap."

Pekerjaannya selesai. Ketika hendak keluar kamar aku mengucapkan terima
kasih.

"Tumben," katanya sambil tertawa kecil. Ya, tumben biasanya aku tak
bilang apa-apa.

***

"Mana, yang kemarin ?" Dito meminta gambar cewe itu.

"Lho, katanya buat aku."

"Jangan dong, itu aku koleksi. Kembaliin dulu entar aku pinjamin yang
lain, lebih serem !"

"Besok deh, kubawa."

Sampai di rumah Si Luki sedang main-main di taman sama pengasuhnya.
Sebentar aku ikut bermain dengan anak Oomku itu. Tinah sedikit lebih
putih dibanding Si Mar, tapi jangan dibandingkan dengan Tante, jauh.
Orangnya pendiam, kurang menarik. Dadanya biasa saja, pinggulnya yang
besar. Tapi aku tak menolak seandainya ia mau memperlihatkan miliknya.
Pokoknya milik siapa saja deh, Rika, Ani, Yuli, Mar, atau Tinah asal
itu
kelamin wanita dewasa. Penasaran aku pada "barang" yang satu itu.
Apalagi milik Tante, benar-benar suatu karunia kalau aku "berhasil"
melihatnya ! Di dalam ada Si Mar yang sedang nonton telenovela buatan
Brazil itu. Aku kurang suka, walaupun pemainnya cantik-cantik.
Ceritanya
berbelit. Duduk di karpet sembarangan, lagi-lagi pahanya nampak.
Rasanya
si Mar ini makin menarik.

"Mau makan sekarang, Mas ?"

"Entar aja lah."

"Nanti bilang, ya. Biar saya siapin."

"Tante mana mbak?"

"Kan senam." Oh ya, ini hari Rabu, jadwal senamnya. Seminggu Tante
senam
tiga kali, Senin, Rabu dan Jumat. Ketika aku selesai ganti pakaian, aku
ke ruang keluarga, maksudku mau mengamati Si Mar lebih jelas. Tapi Si
Mar cepat-cepat ke dapur menyiapkan makan siangku. Biar sajalah, toh
masih banyak kesempatan. Kenapa tidak ke dapur saja pura-pura bantu ?
Akupun ke dapur.

"Masak apa hari ini ?" Aku berbasa-basi.

"Ada ayam panggang, oseng-oseng tahu, sayur lodeh, pilih aja."

"Aku mau semua," candaku. Dia tertawa renyah. Lumayan buat kata
pembukaan.

"Sini aku bantu."

"Ah, engga usah." Tapi ia tak melarang ketika aku membantunya. Ih,
pantatnya menonjol ke belakang walau pinggulnya tak besar. Aku ngaceng.
Kudekati dia. Ingin rasanya meremas pantat itu. Beberapa kali kusengaja
menyentuh badannya, seolah-olah tak sengaja. 'Kan lagi membantu dia.
Dapat juga kesempatan tanganku menyentuh pantatnya, kayaknya sih padat,
aku tak yakin, cuma nyenggol sih. Mar tak bereaksi. Akhirnya aku tak
tahan, kuremas pantatnya. Kaget ia menolehku.

"Iih, Mas To genit, ah," katanya, tapi tidak memprotes.

"Habis, badanmu bagus sih." Sekarang aku yakin, pantatnya memang padat.

"Ah, biasa saja kok."

Akupun berlanjut, kutempelkan badan depanku ke pantatnya. Barangku yang
sudah mengeras terasa menghimpit pantatnya yang padat, walaupun
terlapisi sekian lembar kain. Aku yakin iapun merasakan kerasnya
punyaku. Berlanjut lagi, kedua tanganku ke depan ingin memeluk
perutnya.
Tapi ditepisnya
tanganku.

"Ih, nakal. Udah ah, makan dulu sana !"

"Iya deh makan dulu, habis makan terus gimana ?"

"Yeee !" sahutnya mencibir tapi tak marah. Tangannya berberes lagi
setelah tadi berhenti sejenak kuganggu. Walaupun penasaran karena
aksiku
terpotong, tapi aku mendapat sinyal bahwa Si Mar tak menolak kuganggu.
Hanya tingkat mau-nya sampai seberapa jauh, harus kubuktikan dengan
aksi-aksi selanjutnya !

Kembali aku menunda sarapanku untuk "aksi selanjutnya" yang telah
kukhayalkan tadi malam. Ketika ia sedang menyapu di kamarku, kupeluk ia
dari belakang. Sapunya jatuh, sejenak ia tak bereaksi. Amboi .. dadanya
berisi juga! Jelas aku merasakannya di tanganku, bulat-bulat padat.
Kemudian Si Mar pun meronta.

"Ah, Mas, jangan !" Protesnya pelan sambil melirik ke pintu. Aku
melepaskannya, khawatir kalau ia berteriak. Sabar dulu, masih banyak
kesempatan.

"Terima kasih," kataku waktu ia melangkah keluar kamar. Ia hanya
mencibir memoncongkan mulutnya lucu. Mukanya tetap cerah, tak marah.
Sekarang aku selangkah lebih maju !

***

Aku ingat janjiku hari ini untuk mengembalikan foto porno milik Dito.
Tapi di mana foto itu ? Jangan-jangan ada yang mengambilnya. Aku yakin
betul kemarin aku selipkan di antara buku Fisika dan Stereometri (kedua
buku itu memang lebar, bisa menutupi). Nah ini dia ada di dalam buku
Gambar. Pasti ada seseorang yang memindahkannya. Logikanya, sebelum
orang itu memindahkan, tentu ia sempat melihatnya. Tiba-tiba aku cemas.
Siapa ya ? Si Mar, Tinah, atau Tante ? Atau lebih buruk lagi, Oom Ton ?
Aku jadi memikirkannya. Siapapun orang rumah yang melihat foto itu,
membuatku malu sekali! Yang penting, aku harus kembalikan ke Dito
sekarang.

Siangnya pulang sekolah ketika aku masuk ke ruang keluarga, Si Mar
sedang memijit punggung Tante. Tante tengkurap di karpet, Si Mar
menaiki
pantat Tante. Punggung Tante itu terbuka 100 %, tak ada tali kutang di
sana. Putihnya mak..! Si Mar cepat-cepat menutup punggung itu ketika
tahu mataku menjelajah ke sana, sambil melihatku dengan senyum penuh
arti. Sialan! Si Mar tahu persis kenakalanku. Aku masuk kamar. Hilang
kesempatan menikmati punggung putih itu. Tadi pagi aku lupa membawa
buku
gambar gara-gara mengurus foto si Dito. Aku berniat mempersiapkan dari
sekarang sambil berusaha melupakan punggung putih itu. Sesuatu jatuh
bertebaran ke lantai ketika aku mengambil buku gambar. Seketika dadaku
berdebar kencang setelah tahu apa yang jatuh tadi. Lepasan dari majalah
asing. Di tiap pojok bawahnya tertulis "Hustler" edisi tahun lalu. Satu
serial foto sepasang bule yang sedang berhubungan kelamin! Ada tiga
gambar, gambar pertama Si Cewe terlentang di ranjang membuka kakinya
sementara Si Cowo berdiri di atas lututnya memegang alatnya yang tegang
besar (mirip punyaku kalau lagi tegang cuma beda warna, punyaku gelap)
menempelkan kepala penisnya ke kelamin Cewenya. Menurutku, dia
menempelnya kok agak ke bawah, di bawah "segitiga terbalik" yang penuh
ditumbuhi rambut halus pirang.

Gambar kedua, posisi Si Cewe masih sama hanya kedua tangannya memegang
bahu si Cowo yang kini condong ke depan. Nampak jelas separoh batangnya
kini terbenam di selangkangan Si Cewe. Lho, kok di situ masuknya ?
Kuperhatikan lebih saksama. Kayaknya dia "masuk" dengan benar, karena
di
samping jalan masuk tadi ada "yang berlipat-lipat", persis gambar milik
Dito kemarin. Menurut bayanganku selama ini, "seharusnya" masuknya
penis
agak lebih ke atas. Baru tahu aku, khayalanku selama ini ternyata
salah!
Gambar ketiga, kedua kaki Si Cewe diangkat mengikat punggung Si Cowo.
Badan mereka lengket berimpit dan tentu saja alat Si Cowo sudah
seluruhnya tenggelam di "tempat yang layak" kecuali sepasang "telornya"
saja menunggu di luar. Mulut lelaki itu menggigit leher wanitanya,
sementara telapak tangannya menekan buah dada, ibujari dan telunjuk
menjepit puting susunya. Gemetaran aku mengamati gambar-gambar ini
bergantian. Tanpa sadar aku membuka resleting celanaku mengeluarkan
milikku yang dari tadi telah tegang. Kubayangkan punyaku ini separoh
tenggelam di tempat si Mar persis gambar kedua. Kenyataannya memang
sekarang sudah separoh terbenam, tapi di dalam tangan kiriku. Akupun
meniru gambar ketiga, tenggelam seluruhnya, gambar kedua, setengah,
ketiga, seluruhnya.. geli-geli nikmat... terus kugosok... makin geli..
gosok lagi.. semakin geli... dan.. aku terbang di awan.. aku melepas
sesuatu... hah.. cairan itu menyebar ke sprei bahkan sampai bantal,
putih, kental, lengket-lengket. Enak, sedap seperti waktu mimpi basah.
Sadar aku sekarang ada di kasur lagi, beberapa detik yang lalu aku
masih
melayang-layang. He! Kenapa aku ini? Apa yang kulakukan ? Aku panik.
Berbenah. Lap sini lap sana. Kacau ! Kurapikan lagi celanaku, sementara
si Dia masih tegang dan berdenyut, masih ada yang menetes. Aku
menyesal,
ada rasa bersalah, rasa berdosa atas apa yang baru saja kulakukan. Aku
tercenung. Gambar-gambar sialan itu yang menyebabkan aku begini.
Masturbasi. Istilah aneh itu baru aku ketahui dari temanku beberapa
hari
sesudahnya. Si Dito menyebutnya 'ngeloco'. Aneh. Ada sesuatu yang lain
kurasakan, keteganganku lenyap. Pikiran jadi cerah meski badan agak
lemas..

***

Sehari itu aku jadi tak bersemangat, ingat perbuatanku siang tadi.
Rasanya aku telah berbuat dosa. Aku menyalahkan diriku sendiri. Bukan
salahku seluruhnya, aku coba membela diri. Gambar-gambar itu juga punya
dosa. Tepatnya, pemilik gambar itu. Eh, siapa yang punya ya ? Tahu-tahu
ada di balik buku-bukuku. Siapa yang menaruh di situ ? Ah, peduli amat.
Akan kumusnahkan. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, tidak
akan
masturbasi lagi. Perasaan seperti ini masih terbawa sampai keesokkan
harinya lagi. Sehingga kulewatkan kesempatan untuk meraba dada Mar
seperti kemarin. Ia telah memberi lampu hijau untuk aku
"tindaklanjuti".
Tapi aku lagi tak bersemangat. Masih ada rasa bersalah.

Hari berikutnya aku "harus" tegang lagi. Bukan karena Si Mar yang
(menurutku) bersedia dijamah tubuhnya. Tapi lagi-lagi karena Si Putih
molek itu, Tante Yani. Siang itu aku pulang agak awal, pelajaran
terakhir bebas. Sebentar aku melayani Luki melempar-lempar bola di
halaman, lalu masuk lewat garasi, seperti biasa. Hampir pingsan aku
ketika membuka pintu menuju ruang keluarga. Tante berbaring terlentang,
mukanya tertutupi majalah "Femina", terdengar dengkur sangat halus dan
teratur. Rupanya ketiduran sehabis membaca. Mengenakan baju-mandi
seperti dulu tapi ini warna pink muda, rambut masih terbebat handuk.
Agaknya habis keramas, membaca terus ketiduran. Model baju mandinya
seperti yang warna putih itu, belah di depan dan hanya satu pengikat di
pinggang. Jelas ia tak memakai kutang, kelihatan dari bentuk buah
dadanya yang menjulang dan bulat, serta belahan dadanya
seluruhnya terlihat sampai ke bulatan bawah buah itu. Sepasang buah
bulat itu naik-turun mengikuti irama dengkurannya. Berikut inilah yang
membuatku hampir pingsan. Kaki kirinya tertekuk, lututnya ke atas,
sehingga belahan bawah baju-mandi itu terbuang ke samping, memberiku
"pelajaran" baru tentang tubuh wanita, khususnya milik Tante. Tak ada
celana dalam di sana. Tanteku ternyata punya bulu lebat. Tumbuh
menyelimuti hampir seluruh "segitiga terbalik". Berwarna hitam legam,
halus dan mengkilat, tebal di tengah menipis di pinggir-pinggirnya.
"Arah" tumbuhnya seolah diatur, dari tengah ke arah pinggir sedikit ke
bawah kanan dan kiri. Berbeda dengan yang di gambar, rambut Tante yang
di sini lurus, tak keriting. Wow, sungguh "karya seni" yang indah
sekali
! Kelaminku tegang luar biasa. Aku lihat sekeliling. Si Tinah sedang
bermain dengan anak asuhnya di halaman depan. Si Mar di belakang,
mungkin sedang menyetrika. Kalau Tante sedang di ruang ini, biasanya Si
Mar tidak ke sini, kecuali kalau diminta Tante memijit. Aman !

Dengan wajah tertutup majalah aku jadi bebas meneliti kewanitaan Tante,
kecuali kalau ia tiba-tiba terbangun. Tapi aku 'kan waspada. Hampir tak
bersuara kudekati milik Tante. Kini giliran bagian bawah rambut indah
itu yang kecermati. Ada "daging berlipat", ada benjolan kecil warna
pink, tampaknya lebih menonjol dibanding milik bule itu. Dan di bawah
benjolan itu ada "pintu". Pintu itu demikian kecil, cukupkah punyaku
masuk ke dalamnya ? Punyaku ? Enak saja ! Memangnya lubang itu milikmu
?
Bisa saja sekarang aku melepas celanaku, mengarahkan ujungnya ke situ,
persis gambar pertama, mendorong, seperti gambar kedua, dan ... Tiba-
tiba Tante menggerakkan tangannya. Terbang semangatku. Kalau ada cermin
di situ pasti aku bisa melihat wajahku yang pucat pasi. Dengkuran halus
terdengar kembali. Untung, nyenyak benar tidurnya. Bagian atas
baju-mandinya menjadi lebih terbuka karena gerakan tangannya tadi.
Meski
perasaanku tak karuan, tegang, berdebar, nafas sesak, tapi pikiranku
masih waras untuk tidak membuka resleting celanaku. Bisa berantakan
masa
depanku. Aku "mencatat" beberapa perbedaan antara milik Tante dengan
milik bule yang di majalah itu. Rambut, milik Tante hitam lurus, milik
bule coklat keriting. Benjolan kecil, milik Tante lebih "panjang",
warna
sama-sama pink. Pintu, milik Tante lebih kecil. Lengkaplah sudah aku
mempelajari tubuh wanita. Utuhlah sudah aku mengamati seluruh tubuh
Tante. Seluruhnya ? Ternyata tidak, yang belum pernah aku lihat sama
sekali : puting susunya. Kenapa tidak sekarang ? Kesempatan terbuka di
depan mata, lho ! Mataku beralih ke atas, ke bukit yang bergerak naik-
turun teratur. Dada kanannya makin lebar terbuka, ada garis tipis warna
coklat muda di ujung kain. Itu adalah lingkaran kecil di tengah buah,
hanya pinggirnya saja yang tampak. Aku merendahkan kepalaku mengintip,
tetap saja putingnya tak kelihatan. Ya, hanya dengan sedikit menggeser
tepi baju mandi itu ke samping, lengkaplah sudah "kurikulum" pelajaran
anatomi tubuh Tante. Dengan amat sangat hati-hati tanganku menjangkau
tepi kain itu. Mendadak aku ragu. Kalau Tante terbangun bagaimana ?
Kuurungkan niatku. Tapi pelajaran tak selesai dong ! Ayo, jangan
bimbang, toh dia sedang tidur nyenyak. Ya, dengkurannya yang teratur
menandakan ia tidur nyenyak. Kembali kuangkat tanganku. Kuusahakan
jangan sampai kulitnya tersentuh. Kuangkat pelan tepi kain itu, dan
sedikit demi sedikit kugeser ke samping. Macet, ada yang nyangkut
rupanya. Angkat sedikit lagi, geser lagi. Kutunggu reaksinya. Masih
mendengkur. Aman. Terbukalah sudah.. Puting itu berwarna merah jambu
bersih. Berdiri tegak menjulang, bak mercusuar mini. Amboi, indahnya
buah dada ini. Tak tahan aku ingin meremasnya. Jangan, bahaya. Aku
harus
cepat-cepat pergi dari sini. Bukan saja khawatir Tante terbangun, tapi
takut aku tak mampu menahan diri, menubruk tubuh indah tergolek hampir
telanjang bulat ini.

***

Aku jadi tak tenang. Berulang kali terbayang rambut-rambut halus
kelamin
dan puting merah jambu milik Tante itu. Apalagi menjelang tidur. Tanpa
sadar aku mengusap-usap milikku yang tegang terus ini. Tapi aku segera
ingat janjiku untuk tidak masturbasi lagi. Mendingan praktek langsung.
Tapi dengan siapa ?

Hari ini aku pulang cepat. Masih ada dua mata pelajaran sebetulnya, aku
membolos, sekali-kali. Toh banyak juga kawanku yang begitu. Percuma di
kelas aku tak bisa berkonsentrasi. Di garasi aku ketemu Tante yang
siap-siap mau pergi senam. Dibalut baju senam yang ketat ini Tante jadi
istimewa. Tubuhnya memang luar biasa. Dadanya membusung tegak ke depan,
bagian pinggang menyempit ramping, ke bawah lagi melebar dengan pantat
menonjol bulat ke belakang, ke bawah menyempit lagi. Sepasang paha yang
nyaris bulat seperti batang pohon pinang, sepasang kaki yang panjang
ramping. Walaupun tertutup rapat aku ngaceng juga. Lagi-lagi aku
terangsang. Diam-diam aku bangga, sebab di balik pakaian senam itu aku
pernah melihatnya, hampir seluruhnya ! Justru bagian tubuh yang
penting-penting sudah seluruhnya kulihat tanpa ia tahu ! Salah sendiri,
teledor sih. Ah, salahku juga, buktinya kemarin aku menyingkap
putingnya.

"Lho, kok udah pulang, To," sapanya ramah. Ah bibir itu juga menggoda.

"Iya Tante, ada pelajaran bebas," jawabku berbohong. Kubukakan pintu
mobilnya. Sekilas terlihat belahan dadanya ketika ia memasuki mobil.
Uih, dadanya serasa mau "meledak" karena ketatnya baju itu.

"Terima kasih," katanya. "Tante pergi dulu ya." Mobilnya hilang dari
pandanganku.

***

Selasai mandi hari sudah hampir gelap. Di ruang keluarga Tante sedang
duduk di sofa nonton TV sendiri.

"Senamnya di mana Tante ?" Aku coba membuka percakapan. Aku
memberanikan
diri duduk di sofa yang sama sebelah kanannya.

"Dekat, di Tebet Timur Dalam." Malam ini Tante mengenakan daster pendek
tak berlengan, ada kancing-kancing di tengahnya, dari atas ke bawah.

"Tumben, kamu tidur siang."

"Iya Tante, tadi main voli di situ," jawabku tangkas.

"Kamu suka main voli ?"

"Di kampung saya sering olah-raga Tante." Aku mulai berani memandangnya
langsung, dari dekat lagi. Ih, bahu dan lengan atasnya putih banget !

"Pantesan badanmu bagus." Senang juga aku dipuji Tanteku yang rupawan
ini.

"Ah, Kalau ini mungkin saya dari kecil kerja keras di kebun, Tante."
Wow, buah putih itu mengintip di antara kancing pertama dan kedua di
tengah dasternya. Ada yang bergerak di celanaku.

"Kerja apa di kebun ?"

"Mengolah tanah, menanam, memupuk, panen." Buah dada itu rasanya mau
meledak keluar.

"Apa saja yang kamu tanam ?" tanyanya lagi sambil mengubah posisi
duduknya, menyilangkan sebelah kakinya.

Kancing terakhir daster itu sudah terlepas. Waktu sebelah pahanya
menaiki pahanya yang lain, ujung kain daster itu tidak "ikut", jadi 70
%
paha Tante tersuguh di depan mataku. Putih licin. Yang tadi bergerak di
celanaku, berangsur membesar.

"Macam-macam tergantung musimnya, Tante. Kentang, jagung, tomat."
Hampir
saja aku ketahuan mataku memelototi pahanya.

"Kalau kamu mau makan, duluan aja."

"Nanti aja Tante, nunggu Oom." Aku memang belum lapar. Adikku mungkin
yang "lapar"

"Oom tadi nelepon ada acara makan malam sama tamu dari Singapur,
pulangnya malam."

"Saya belum lapar," jawabku supaya aku tidak kehilangan momen yang
bagus
ini.

"Kamu betah di sini ?" Ia membungkuk memijit-mijit kakinya. Betisnya
itu...

"Kerasan sekali, Tante. Cuman saya banyak waktu luang Tante, biasa
kerja
di kampung, sih. Kalau ada yang bisa saya bantu Tante, saya siap."

"Ya, kamu biasakan dulu di sini, nanti Tante kasih tugas."

"Kenapa kakinya Tante ?" Sekedar ada alasan buat menikmati betisnya.

"Pegel, tadi senamnya habis-habisan."

Di antara kancing daster yang satu dengan kancing lainnya terdapat
"celah". Ada yang sempit, ada yang lebar, ada yang tertutup. Celah
pertama, lebar karena busungan dadanya, menyuguhkan bagian kanan atas
buah dada kiri. Celah kedua memperlihatkan kutang bagian bawah. Celah
ketiga rapat, celah keempat tak begitu lebar, ada perutnya. Celah
berikutnya walaupun sempit tapi cukup membuatku tahu kalau celana dalam
Tante warna merah jambu. Ke bawah lagi ada sedikit paha atas dan
terakhir, ya yang kancingnya lepas tadi.

"Mau bantu Tante sekarang ?"

"Kapan saja saya siap."

"Betul ?"

"Kewajiban saya, Tante. Masa numpang di sini engga kerja apa-apa."

"Pijit kaki Tante, mau ?"

Hah ? Aku tak menyangka diberi tugas mendebarkan ini.

"Biasanya sama Si Mar, tapi dia lagi engga ada."

"Tapi saya engga bisa mijit Tante, cuma sekali saya pernah mijit kaki
teman yang keseleo karena main bola." Aku berharap ia jangan
membatalkan
perintahnya.

"Engga apa-apa. Tante ambil bantal dulu." Goyang pinggulnya itu...

Sekarang ia tengkurap di karpet. Hatiku bersorak. Aku mulai dari
pergelangan kaki kirinya. Aah, halusnya kulit itu. Hampir seluruh tubuh
Tante pernah kulihat, tapi baru inilah aku merasakan mulus kulitnya.
Mataku ke betis lainnya mengamati bulu-bulu halus.

"Begini Tante, kurang keras engga ?"

"Cukup segitu aja, enak kok."

Tangan memijit, mata jelalatan. Lekukan pantat itu bulat menjulang,
sampai di pinggang turun menukik, di punggung mendaki lagi. Indah.
Kakinya sedikit membuka, memungkinkan mataku menerobos ke celah
pahanya.
Tanganku pindah ke betis kanannya aku menggeser dudukku ke tengah,
dan..
terobosan mataku ke celah paha sampai ke celana dalam merah jambu itu.
Huuuh, sekarang aku betul-betul keras.

"Aah," teriaknya pelan ketika tanganku menjamah ke belakang lututnya.

"Maaf Tante."

"Engga apa-apa. Jangan di situ, sakit. Ke atas saja."

Ke atas ? Berarti ke pahanya ? Apa tidak salah nih ? Jelas kok,
perintahnya. Akupun ke paha belakangnya. Ampuuun, halusnya paha itu.
Kulit Tante memang istimewa. Kalau ada lalat hinggap di paha itu,
mungkin tergelincir karena licin ! Aku mulai tak tenang. Nafas mulai
tersengal, entah karena mijit atau terangsang, atau keduanya. Aku tak
hanya memijit, terkadang mengelusnya, habis tak tahan. Tapi Tante diam
saja.

Kedua paha yang diluar, yang tak tertutup daster selesai kupijit. Entah
karena aku sudah "tinggi" atau aku mulai nakal, tanganku terus ke atas
menerobos dasternya.

"Eeeh," desahnya pelan. Hanya mendesah, tidak protes ! Kedua tanganku
ada di paha kirinya terus memijit. Kenyal, padat. Tepi dasternya dengan
sendirinya terangkat karena gerakan pijitanku. Kini seluruh paha
kirinya
terbuka gamblang, bahkan sebagian pantatnya yang melambung itu tampak.
Pindah ke paha kanan aku tak ragu-ragu lagi menyingkap dasternya.

"Enak To, kamu pintar juga memijit."

Aku hampir saja berkomentar, "Paha Tante indah sekali." Untung aku
masih
bisa menahan diri. Terus memijit, sekali-kali mengelus.

"Ke atas lagi To." Suaranya jadi serak.

Ini yang kuimpikan ! Sudah lama aku ingin meremas pantat yang menonjol
indah ke belakang itu, kini aku disuruh memijitnya ! Dengan senang hati
Tante ! Aku betul-betul meremas kedua gundukan itu, bukan memijit, dari
luar daster tentunya. Dengan gemas malah ! Keras dan padat. Ah, Tante.
Tante tidak tahu dengan begini justru menyiksa saya ! kataku dalam
hati.
Rasanya aku ingin menubruk, menindihkan kelaminku yang keras ini ke dua
gundukan itu. Pasti lebih nikmat dibandingkan ketika memeluk tubuh mbak
Mar dari belakang.

"Ih, geli To. Udah ah, jangan di situ terus," ujarnya menggelinjang
kegelian. Barusan aku memang meremas pinggir pinggulnya, dengan sengaja
!

"Cape, To ?" tanyanya lagi.

"Sama sekali engga, Tante," jawabku cepat, khawatir saat menyenangkan
ini berakhir.

"Bener nih ? Kalau masih mau terus, sekarang punggung, ya ?" Aha,
"daerah jamahan" baru ! Bahunya kanan dan kiri kupencet.

"Eeh," desahnya pelan.

Turun ke sekitar kedua tulang belikat. Lagi-lagi melenguh. Daster tak
berlengan ini menampakkan keteknya yang licin tak berbulu. Rajin
bercukur, mungkin. Ah, di bawah ketek itu ada pinggiran buah putih.
Dada
busungnya tergencet, jadi buah itu "terbuang" ke samping. Nakalku
kambuh. Ketika beroperasi di bawah belikat, tanganku bergerak ke
samping.

Jari-jariku menyentuh "tumpahan" buah itu. Tidak langsung sih, masih
ada
lapisan kain daster dan kutang, tapi kenyalnya buah itu terasa.
Punggungnya sedikit berguncang, aku makin terangsang. Ke bawah lagi,
aku
menelusuri pinggangnya.

"Cukup, To.." Kedua tangannya lurus ke atas. Ia tengkurap total.
Nafasnya terengah-engah.

"Depannya Tante ?" usulku nakal. Lancang benar kau To. Tante sampai
menoleh melihatku, kaget barangkali atas usulku yang berani itu.

"Kaki depannya 'kan belum Tante." Aku cepat-cepat meralat usulku. Takut
dikiranya aku ingin memijit "depannya punggung" yang artinya buah dada
!

"Boleh aja kalau kamu engga cape." Ya jelas engga dong ! Tante berbalik
terlentang. Sekejap aku sempat menangkap guncangan dadanya ketika ia
berbalik. Wow ! Guncangan tadi menunjukkan "eksistensi" kemolekan buah
dadanya ! Aduuh, bagaimana aku bisa bertahan nih ? Tubuh molek
terlentang dekat di depanku. Ia cepat menarik dasternya ke bawah,
sebagai reaksi atas mataku yang menatap ujung celana dalamnya yang
tiba-tiba terbuka, karena gerakan berbalik tadi. Silakan ditutup saja
Tante, toh aku sudah tahu apa yang ada dibaliknya, rambut-rambut halus
agak lurus, hitam, mengkilat, dan lebat. Lagi pula aku masih bisa
menikmati "sisanya": sepasang paha dan kaki indah ! Aku mulai memijit
tulang keringnya. Singkat saja karena aku ingin cepat-cepat sampai ke
atas, ke paha. Lutut aku lompati, takut kalau ia kesakitan, langsung ke
atas lutut, kuremas dengan gemas.

"Iih, geli." Aku tak peduli, terus meremas. Paha selesai, untuk
mencapai
paha atas aku ragu-ragu, disingkap atau jangan. Singkap ? Jangan ! Ada
akal, diurut saja. Mulai dari lutut tanganku mengurut ke atas,
menerobos
daster sampai pangkal paha.

"Aaaah, Tooo ...." Biar saja. Kulihat wajahnya, matanya terpejam. Aku
makin bebas. Dengan sendirinya tepi daster itu terangkat karena
terdorong tanganku. Samar-samar ada bayangan hitam di celana dalam
tipis
itu. Jelas rambut-rambut itu. Ke bawah lagi, urut lagi ke atas. Aaah
lagi. Dengan cara begini, sa
« Last Edit: February 16, 2007, 06:03:57 PM by master » Logged
zabimaru
Active Player
**
Posts: 70



View Profile
« Reply #1 on: January 19, 2007, 10:06:01 PM »

kayaknya storinya blum selesai.. bs dilanjut? thnaks
Logged
chacha
Agile Player
**
Posts: 85



View Profile Email
« Reply #2 on: January 22, 2007, 09:49:59 AM »

sorry.... cing....

sah-sah saja kalau jempol tanganku menyentuh
selangkangannya. Sepertinya basah di sana. Ah masak. Coba ulangi lagi
untuk meyakinkan. Urut lagi. Ya, betul, basah ! Kenapa basah ? Ngompol
?
Aku tidak mengerti.

"To ..." panggilnya tiba-tiba. Aku memandangnya, kedua tanganku
berhenti
di pangkal pahanya. Matanya sayu menantang mataku, nafasnya memburu,
dadanya naik-turun.

"Ya, Tante." Mendadak suaraku serak. Dia tak menyahut, matanya tetap
memandangiku, setengah tertutup. Ada apa nih ? Apakah Tante ..... ? Ah,
mana mungkin. Kalau Tante terangsang, mungkin saja, tapi kalau mengajak
? Jangan terlalu berharap, To ! Aku meneruskan pekerjaanku. Kini tak
memijit lagi, tapi menelusuri lengkungan pinggulnya yang indah itu,
membelai. Habis tak tahan.

"Uuuuh," desahnya lagi menanggapi kenakalanku. Keterlaluan aku
sekarang,
kedua tanganku ada di balik dasternya, mengelus mengikuti lengkungan
samping pinggul.

"Too .... " panggilnya lagi. Kulepas tanganku, kudekati wajahnya dengan
merangkak di atas tubuhnya bertumpu pada kedua lutut dan telapak
tanganku, tidak menindihnya.

"Ada apa, Tante," panggilku mesra. Mukaku sudah dekat dengan wajahnya.
Matanya kemudian terpejam, mulut setengah terbuka. Ini sih ajakan. Aku
nekat, sudah kepalang, kucium bibir Tante perlahan.

"Ehhmmmm." Tante tidak menolak, bahkan menyambut ciumanku. Tangan
kirinya memeluk punggungku dan tangan kanannya di belakang kepalaku.
Nafasnya terdengar memburu. Aku tidak lagi bertumpu pada lututku,
tubuhku menindih tubuhnya. Menekan. Ia membuka kakinya. Aku menggeser
tubuhku sehingga tepat di antara pahanya yang baru saja ia buka.
Kelaminku yang keras tepat menindih selangkangannya. Kutekan.
Nikmatnya!

"Ehhhmmmmmm," reaksinya atas aksiku.

Kami saling bermain lidah. Sedapnya !

Aku terengah-engah.

Dia tersengal-sengal.

Tangan kananku meremas dada kirinya. Besar, padat, dan kenyal !
Ooooohhhh, aku melayang. He ! Ini Tantemu, isteri Oommu !

Iya, benar. Memangnya kenapa.

Mengapa kamu cium, kamu remas dadanya.

Habis enak, dan ia tak menolak.

Dua kancing dasternya telah kulepas, tanganku menyusup ke balik
kutangnya. Selain besar, padat, dan kenyal, ternyata juga halus dan
hangat ! Tiba-tiba Tante melepas ciumanku.

"Jangan di sini, To," katanya terputus-putus oleh nafasnya.

Tanpa menjawab aku mengangkat tubuhnya, kubopong ia ke kamarnya.
"Uuuuuhhh," lenguhnya lagi.

"Ke kamarmu saja."

Sebelum sampai ke dipanku, Tante minta turun. Berdiri di samping dipan.
Aku memeluknya, dia menahan dadaku.

"Kunci dulu pintunya." Okey, beres.

Kulepas seluruh kancingnya, dasternya jatuh ke lantai. Tinggal kutang
dan celana dalam. Buah dada itu serasa mau meledak mendesak kutangnya !
Kupeluk lagi dia. Dadanya merapat di dadaku.

"Tooo, hhehhhhhhh," katanya gemas seperti menahan sesuatu.

Kami berciuman lagi. Main lidah lagi. Tangannya menyusup ke celanaku,
meremas-remas kelaminku di balik celana.

"Eehhmmmmmm," dengusnya.

Dengan kesulitan ia membuka ikat pinggangku, membuka resleting
celanaku,
merogoh celana dalamku, dan mengeluarkan "isinya".

"Eehhh." Ia melepas ciuman, melihat ke bawah.

"Ada apa Tante," tanyaku di sela-sela dengus nafasku.

"Besar sekali."

Ia mempermainkan penisku. Menggenggam, meremas. Geli, geliii sekali.
Stop Tante, jangan sampai keluar. Aku ingin pengalaman baru, Tante.
Ingin memasuki kelaminmu.. sekarang ! Kutarik tangannya dari penisku.
Untung Tante menurut. Aku tak jadi "keluar". Kulepas tali kutangnya,
tapi yang belakang susah dilepas. Tante membantu. Buah dada itu
terbuka.
Wow.luar biasa indahnya. Belum sempat aku menikmat buah itu, Tante
memelukku. Meraih tangan kananku, dituntunnya menyelip ke celana
dalamnya. Di bawah rambut-rambut itu terasa basah. Diajarinya aku
bagaimana jariku harus bermain di sana : menggesek-gesek antara
benjolan
dan pintu basah itu.

"Uuuuuuhhhhhh, Tooo.."

Dilepasnya bajuku, singletku, celanaku luar dalam. Aku telanjang bulat.
Kutarik juga celana dalamnya. Ia telanjang bulat juga. Luar biasa.
Pinggang itu ramping, perut itu rata, ke bawah melebar lengkungannya
indah. Rambut-rambut halus itu menggemaskan, diapit oleh sepasang paha
yang nyaris bulat. Seluruhnya dibalut kulit yang putih dan mulusnya
bukan main !

Ditariknya aku ke dipan. Ia merebahkan diri. Kakinya ditekuk lalu
dibuka
lebar. Dipegangnya kelaminku, ditariknya, ditempelkannya di
selangkangan. Rasanya terlalu ke bawah. Ah, dia 'kan yang lebih tahu.
Aku nurut saja. Tangannya pindah ke pantatku. Ditariknya aku mendekat
tubuhnya. Sesuatu yang hangat terasa di ujung penisku. Tangannya
memegang penisku lagi. Belum masuk ternyata. Disapu-sapukannya kepala
penisku di pintu itu. Sementara ia menggoyang pantatnya. Geliii, Tante.
Aku manut saja seperti kerbau dicucuk hidung. Memang belum pengalaman !
Didorongnya lagi pantatku. Meleset ! Pernah kupikir waktu pertama kali
aku melihat kelamin Tante beberapa hari lalu, mana cukup lubang
sesempit
itu menampung kelaminku yang lagi tegang ? Tante membuka pahanya lebih
lebar lagi, mengarahkan penisku lagi, dan aku sekarang yang mendorong.
Kepalanya sudah separoh tenggelam, tapi macet !

"Kelaminmu besar, sih !" keluhnya. Padahal barusan ia mengaguminya.

Ia menggoyang pantatnya dan... bless. Masuk separoh.

"Aaaaahhh," teriak kami berbarengan. Terasa ada sesuatu yang menjepit
penisku, hangat, enak ! Pantatnya bergoyang lagi, tumitnya mendorong
pantatku. Blesss.. masuk lagi. Makin hangat, makin sedap, dan geli.
Goyang lagi, aku dorong sekarang. Masuk semuanya Seedaaaaaaaaap ! Tante
bergoyang. Nikmaaaaaaaat ! Tante menjepit. Geliiiiiiiiiiiiiiii !
Kutarik
pelan. Terasa gesekan, enak. Ya, digesek begini enak. Tarik sedikit
lagi, dan kudorong lagi.

"Idiiiiiiiiiiih, sedaaaaapp Too." Tante berteriak, agak keras.

Geli di ujung sana. Tariik, dorooong.

Makin geli..

Geli sekali...

Tak tahaaaaaann...

"Tahan dulu, To."

Tak mungkin, sudah geli sekali.lalu..

Aku melambung, melayang, melepas..

"Aaaaaahhhhhhh," teriakku. Nikmatnya sampai ke ubun-ubun. Mengejang,
melepas lagi, berdenyut, enak, melepas lagi, nikmat sekali..!

"Genjot lagi, To," teriaknya

Mana bisa.

"Ayo, To."

Aku sudah selesai !

Tante masih menggoyang.

Aku ikut saja, pasif.

"Tooooo .."

Tante gelisah, goyangnya tak kubalas. Aku sudah selesai !

"Eeeeeeeeehh," keluhnya, sepertinya kecewa.

Bergerak-gerak tak karuan, menendang, menggeliat, gelisah..

Penisku mulai menurun, di dalam sana.

Tante berangsur diam, lalu sama sekali diam, kecewa.

Tinggal aku yang bingung.

Beberapa menit yang lalu aku mengalami peristiwa yang luar biasa, yang
baru kali ini aku melakukan. Baru kali ini pula aku merasakan
kenikmatan
yang luar biasa. Kenikmatan berhubungan kelamin. Nikmatnya susah
digambarkan. Hubungan kelamin antara pria yang mulai menginjak dewasa
dengan wanita dewasa muda. Sama-sama diinginkan oleh keduanya. Keduanya
yang memulai. Berdua pula yang melanjutkan, keterusan dan... kepuasan.
Kepuasan ? Aku memang puas sekali, tapi Tante ? Itulah masalahnya
sekarang. Aku menangkap wajah kecewa pada Tante. Perilakunya yang
gelisah juga menandakan itu. Aku jadi merasa bersalah. Aku egois. Aku
mendapatkan kenikmatan luar biasa sementara aku tak mampu memberi
kepuasan kepada "lawan mainku", Tante Yani. Terlihat tadi, ia ingin
terus sementara aku sudah selesai. Aku bingung bagaimana mengatasi
kebisuan ini. Aku masih menindih tubuhnya. Penisku masih di dalam. Buah
dadanya masih terasa kencang mengganjal dadaku. Pandangannya lurus ke
atas melihat plafon. Aku harus ambil inisiatif. Kucium pipinya mesra,
penuh perasaan.

"Maafkan saya, Tante."

Tante menoleh, tersenyum dan balas mencium pipiku. Sementara aku agak
lega, Tante tak marah.

"Kamu engga perlu minta maaf, To."

"Harus Tante, saya tadi nikmat sekali, sebaliknya Tante belum
merasakan.
Saya engga mampu, Tante. Saya belum pengalaman Tante. Baru kali ini
saya
melakukan itu."

"Betul ? Baru pertama kamu melakukan ?"

"Sungguh Tante."

"Engga apa-apa, To. Tante bisa mengerti. Kamu bukannya tidak mampu.
Hanya karena belum biasa saja. Syukurlah kalau kamu tadi bisa
menikmati."

"Nikmaaat sekali, Tante."

Tante diam lagi, mengelus-elus punggungku. Nyaman sekali aku seperti
ini.

"To, " panggilnya.

"Ya, Tante."

"Ini rahasia kita berdua saja ya ? Tante minta kamu jangan katakan hal
ini pada siapapun."

"Tentu Tante, tadinya saya pun mau bilang begitu." Tiba-tiba aku ingat
sesuatu. Mendadak aku jadi cemas.

"Tante."

"Hhmm."

"Gimana kalau Tante nanti .." Aku tak berani meneruskan.

"Nanti apa ?"

"Akibat perbuatan tadi, lalu Tante .."

"Hamil ?" potongnya.

"Ya."

"Engga usah kamu pikirkan. Tante sudah jaga-jaga."

"Saya engga mengerti Tante."

"To, lain kali saja ya Tante jelasin. Sekarang Tante harus mandi, Oommu
'kan sebentar lagi datang."

Ah, celaka. Sampai lupa waktu. Aku bangkit hendak mencabut.

"Pelan-pelan To," katanya sambil menyeringai, lalu matanya terpejam.

"Eeeeeehhh," desahnya hampir tak terdengar, ketika aku mencabut
kelaminku. Kubantu ia mengenakan kutangnya. Buah dada itu belum sempat
aku nikmati. Lain kali pasti !

"Tante." Aku memanggil ketika ia sudah rapi kembali.

Kupeluk ia erat sekali, kubisikkan di dekat kupingnya, "Terima kasih,
Tante." Lalu kucium pipinya.

"Ya," jawabnya singkat.

"Sana mandi, cuci yang bersih niih," katanya lagi sambil menggenggam
penisku waktu bilang 'niih'.

Ooohhh, nikmatnya hari ini aku. Malam ini pertama kali aku ciuman
dengan
nikmat, pacaran sampai "keterusan". Pertama kali penisku memasuki
kelamin wanita. Pertama kali aku menumpahkan "air" ku ke dalam tubuh
wanita, tidak ke perut atau ke lantai. Lebih istimewa lagi, wanita itu
adalah Tante Yani. Wanita dengan tubuh yang luar biasa. Bentuknya,
potongannya, halusnya, padatnya, putihnya, bulunya..... Padahal wanita
itu sudah 26 tahun, sepuluh tahun di atas usiaku. Tapi lebih padat dari
Si Ani yang 17 tahun, lebih manis dari Si Yuli yang sepantaranku, lebih
indah dari Si Rika yang seumurku. Yang masih mengganjal, wanita itu
Tanteku, isteri Oom Ton. Ya, aku meniduri isteri Oomku ! Aku
mendapatkan
pengalaman baru dari isterinya ! Aku memperoleh kenikmatan dari
meniduri
isterinya. Isteri orang yang membiayai sekolahku, yang memberiku makan
dan tempat tinggal ! Betapa jahatnya aku. Betapa kurangajarnya aku. Aku
sekarang jadi pengkhianat ! Mengkhianati adik misan ayahku ! Tapi,
keliru kalau semua kesalahan ditimpakan kepadaku. Siapa yang menyuruh
memijat ? Okey, seharusnya memijat saja, kenapa pakai mengelus ?
Pakai meremas pantat ? Habis, siapa yang tahan ? Aku masih 16 tahun,
masih sangat muda, tapi sudah matang secara seksual, mudah terangsang.
Tante sendiri, kenapa tidak menolak ? Bisa saja ia menempelengku ketika
aku mau mencium bibirnya di karpet itu. Bisa saja ia menolak waktu aku
membopongnya ke kamarku. Dan aku, bisa saja memberontak waktu ia
merogoh
celana dalamku, waktu ia menggenggam kelaminku dan diarahkan ke
kelaminnya.... Kesimpulannya : salah kami berdua ! Tapi, aku ingin
mengulangi .......... !

***

Paginya, kami sarapan bertiga, Aku, Oom, dan Tante. Aku jadi tidak
berani menatap mata Oom waktu kami berbicara. Mungkin karena ada
perasaan bersalah. Sedangkan Tante, biasa-biasa saja. Sikapnya kepadaku
wajar, seolah tak terjadi apa-apa. Tak ada pembicaraan penting waktu
makan. Tante bangkit menuangkan minuman buat Oom. Kupandangi tubuhnya.
Aku jadi ingat peristiwa
semalam. Rasanya aku tak percaya, tubuh yang ada di depanku ini, yang
sekarang tertutup rapat, sudah pernah aku tiduri. Aku ngaceng lagi..

Susah sekali aku berkonsentrasi menerima pelajaran hari ini. Pikiranku
ke rumah terus, ke Tante. Bagaimana ia "menuntunku" masuk. Bagaimana
aku
mulai belajar "menggesek", terus keenakan. Aku ingin lagi...! Tante
bagaimana ya, apakah ia ingin lagi ? Aku meragukannya, mengingat
semalam
ia tidak puas. Jangan-jangan ia kapok. Tadi pagi sikapnya biasa saja.
Mestinya sedikit lebih mesra kepadaku. Memangnya kamu ini siapa. Lebih
baik begitu, wajar saja, 'kan ada suaminya.

***

Dua hari kemudian ketika aku pulang sekolah, kulihat ada mobil Oom di
garasi. Apakah Oom Ton tak ke kantor hari ini ? Atau jangan-jangan Oom
tahu kalau aku .. Ah, jangan berpikir begitu. Dua hari terakhir ini
sikap Oom kepadaku tak ada perubahan apa-apa. Sikap Tante juga
wajar-wajar saja. Justru aku yang kelimpungan. Bayangkan. Setiap hari
ketemu Tante. Aku selalu membayangkan "dalam"-nya, walau pakaian Tante
tertutup rapat. Lalu, terbayang, aku sudah pernah menjamah tubuh itu,
dan terangsang lagi. Selama dua hari ini aku betul-betul tersiksa.
Terlihat paha Tante yang sedikit tersingkap saja, aku langsung "naik".
Ooh..! Aku ingin lagiiiiii.

Siang ini aku makan sendirian. Kamar Tante tertutup rapat. Oom pasti
ada
di dalam, mobilnya ada. Tante juga tentunya. Mungkin mereka sedang ...?
Siang-siang ? Biar saja, toh suami-isteri. Sekejap ada rasa tak nyaman.
Tanteku sedang ditiduri suaminya...! Aku iri ! Memangnya kamu siapa ?

Baru saja aku selesai menyantap sendok terakhir makananku, kemudian
mengangkat gelas, ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka, Tante keluar,
mengenakan baju tidur. Aku terpana. Tanganku yang sedang memegang gelas
berhenti, belum sempat minum, terpesona oleh Tante dengan baju
tidurnya.
Kelihatan ia baru bangun tidur, melihatku.

"Sudah pulang, To."

"Udah dari tadi Tante."

Ia tutup pintu kamarnya kembali lalu mendekatiku, dan tiba-tiba mencium
pipiku erat, lenganku merasakan lembutnya sesuatu yang menandakan Tante
tak memakai kutang. Hampir saja aku menumpahkan air minum karena kaget.

"Ada kabar gembira," katanya berbisik.

Sebelum aku bereaksi atas aksinya itu, Tante sudah beranjak ke belakang
meninggalkanku. Aku jadi penasaran. Penasaran pada benda lembut yang
mendesak lenganku tadi, serta pada kabar gembira apa ? Ketika Ia
kembali
lagi, aku berdiri untuk memuaskan rasa penasaran tadi. Tante
menempelkan
telunjuknya ke mulut sambil matanya melirik ke kamar. Aku mengerti
isyarat ini. Jangan ganggu, ada suaminya.

Sejam kemudian kulihat Oom Ton duduk di sofa ruang tengah bersama
Tante.
Oom Ton berpakaian rapi berdasi, seperti hendak ke kantor, sedangkan
Tante mengenakan daster pendek tak berlengan berkancing tengah, daster
kesukaanku. Terlihat segar, baru saja mandi, mungkin.

"Tarto," Oom Ton memanggilku.

"Ya, Oom."

"Oom mau ke Bandung, dua hari. Kamu jaga rumah ya ?"

Ini rupanya kabar gembira itu !

"Baik, Oom, kapan Oom berangkat ?"

"Sebentar lagi, jam tiga."

Dua hari Oom tak ada di rumah, tentunya dua malam juga. Dua malam aku
menjaga rumah, bersama Tante. Dua malam bersama Tante ? Bukan main !
Eit, jangan berharap dulu, ya. 'Kan tadi Ia bilang kabar gembira ? Kok
kamu yakin kabar gembiranya Tante adalah karena Oom ke Bandung ? Jangan
sok pasti ya ! Aku melirik Tante, Ia biasa-biasa saja.

Pak Dadan datang membawa tas di bahunya, masuk garasi menghidupkan
mesin
mobil.

"Papa berangkat ya, Ma."

"Ya, Pa, hati-hati di jalan, ya ?"

"Mama juga hati-hati di rumah."

Oom mencium pipi Tante, lalu menciumi Si Luki.

"Jaga baik-baik, ya To."

"Ya, Oom."

Seisi rumah mengantar Oom sampai depan pintu pagar, melambai sampai
mobilnya berbelok ke jalan Tebet Timur Raya. Semuanya masuk ke rumah
kembali. Hatiku bersorak. Dadaku penuh berharap dan kepalaku penuh
rencana. Luki dibawa pengasuhnya ke rumah sebelah. Mbak meneruskan
pekerjaannya di belakang. Aman. Tinggal aku dan Tante. Kuberanikan
diriku. Kupeluk Tante dari belakang. Betul 'kan, Tante tak memakai
kutang. Wah, sudah lama sekali aku tak menyentuhnya. Tante sedikit
kaget, lalu berbalik membalas pelukanku. Cuma sebentar, melepaskan
diri.

"Sabar, dong To."

"Tante ..." Serak suaraku.

"Nanti malam saja."

Aha, rencana di kepalaku bisa terlaksana malam ini.

Kami duduk berdampingan di sofa, sedikit berjarak. Aku nonton TV, Tante
membaca. Aku tak tahan lagi, penisku sudah tegang dari tadi. Sekarang
baru jam setengah empat sore. Berapa jam lagi aku mesti menunggu ? Oh,
lama sekali. Tante, tolonglah aku. Aku tak sanggup lagi menunggu.
Kulihat sekeliling meyakinkan situasi. Luki masih sama si Tinah di
tetangga. Mbak Mar menyetrika di belakang. Aman ! Kupegang tangan Tante
yang sedang ada di pahanya. Dengan begini aku bisa meremas-remas
tangannya sambil merasakan lembutnya paha. Ia sesekali membalas
remasanku, tetap membaca. Ditariknya tangannya untuk membuka halaman
buku bacaannya, tanganku "tertinggal" di pahanya. Kesempatan. Kuusap
lembut pahanya. Paha itu masih seperti yang kemarin, padat, kenyal,
halus, berbulu lembut. Masih tetap membaca. Aku makin berani, tanganku
bergerak ke atas menyusup dasternya. Kuusap celana dalamnya. Nafasnya
mulai terdengar meningkat "volume"nya. Diletakkannya buku itu sambil
menghela nafas panjang.

"To, kamu engga sabaran, ya ?" katanya sambil memegang tanganku di
bawah
sana.

"Maafkan saya Tante, saya.. saya .. engga kuat lagi Tante, saya ingin
lagi, Tante," kataku terputus-putus menahan birahi yang mendesak.
Kelaminku juga mendesak.

"Masih sore, To."

"Tolonglah, Tante, saya membayangkan terus setiap .. hari," kataku
setengah memohon.

Aku yakin Tante pun sebenarnya telah terangsang, terlihat dari nafasnya
dan aku merasakan basah di celananya. Aku sudah sampai pada titik yang
tak mungkin surut kembali. Situasi sekeliling aman. Jadi, apa lagi
selain berlanjut ?

"Saya mohon, Tante." Kini aku betul-betul memohon.

Ditariknya tanganku dari paha, lalu dituntun ke dadanya. Permohonanku
diterima. Kuremas buah dada itu yang hanya ditutupi selembar kain
daster.

"Eeeeeeehhh," desahnya.

Tiga hari lalu, waktu aku pertama kali meniduri Tante (memang baru
pertama kali aku berhubungan sex), aku belum sempat menikmati buah dada
ini. Waktu itu kami sudah sama-sama terangsang sehabis aku memijatnya.
Aku baru sempat meremasnya, itupun di balik kutang. Lalu ketika
kutangnya sudah terbuka, Tante sudah keburu menuntun kelaminku
memasukinya. Sekaranglah kesempatan untuk menikmati dada itu. Kubuka
kancing dasternya, satu, dua, tiga. Dada itu mengagumkan. Putih, besar,
menonjol, bulat, bergerak maju mundur seirama nafasnya, putingnya kecil
agak panjang tegak lurus ke depan berwarna merah jambu.

Aku berlutut di depannya, kusingkirkan daster itu, kucium belahan
dadanya yang seperti parit kecil di antara dua bukit. Halusnya buah itu
dapat kurasakan di kedua belah pipiku. Mulutku bergerak ke kiri, ke
dada
bagian atas, terus turun, kutelusuri permukaan bukit halus itu dengan
bibir dan lidahku. Sementara tangan kananku mengusapi buah kirinya.
Luar
biasa, kulit itu haluuus sekali ! Tangannya mengusap-usap belakang
kepalaku. Penelusuranku berakhir di puncaknya. Kumasukkan puting itu
kemulutku, kukemot.

"Aaaaaaaahhh," lenguhnya pelan sekali.

Tangannya menekan kepalaku.

Kukemot lagi, kuhisap, kupermainkan dengan lidahku, putting itu
mengeras. Puting satunya lagi juga mengeras, terasa di antara telunjuk
dan ibujari tangan kananku. Ada kesamaan gerak antara mulut dan tangan
kananku. Kalau mulutku mengulum puting, jari-jariku memilin puting
sebelahnya. Bila bibir dan lidahku merambahi seluruh permukaan buah
yang
sangat halus itu, telapak tanganku merambah pula. Seluruh permukaan
dada
itu demikian halus, sehingga ada sedikit yang tak halus di sebelah
puting agak ke bawah menarik perhatianku. Kulepaskan muluku dari
dadanya, ingin memeriksa. Di sebelah puting dada kiri Tante ada bercak
merah. Kuperhatikan dan kuraba. Seperti bekas gigitan. Oh. Aku ingat
tadi siang waktu makan. Ini pasti "hasil kerja" Oom Ton di kamar yang
terkunci tadi.. Akupun ingin. Betapa enaknya menggigit buah kenyal ini.
Dada kanan bagianku. Kucium puting itu kembali, geser sedikit, aku
mulai
menggigit. Tiba-tiba Tante mendorong kepalaku.

"Jangan, To. Kamu.. mikir, dong," katanya sambil terengah-engah.

Ah, bodohnya aku. Kalau kugigit tentu nanti berbekas, jelas pemilik
sahnya, Oom Ton, akan curiga !

"Maafkan saya Tante, habis gemas sih."

"Yahhh engga apa-apa. Kamu harus ingat, ini rahasia kita saja."

Dipegangnya dadanya sendiri lalu disodorkannya ke mulutku. Gantian,
sekarang dada kiri dengan mulutku, yang kanan dengan tangan kiriku....

Sudah saatnya untuk pindah ke kamar. Aku bangkit berdiri. Tante masih
tergolek duduk. Kancing tengah dasternya sudah semuanya terlepas,
menyibak ke samping, tinggal celana dalamnya saja. Dada itu rasanya
makin besar saja. Kutarik kedua tangan Tante, tapi ia melepaskannya.
Dibukanya gesperku, lalu kancing celanaku, dan ditariknya resleting dan
celana dalamku. Penisku yang tegang itu keluar dengan gagahnya persis
di
depan mukanya.

"Uuuuuuuuuhhhh." Tante melenguh pelan memegang kelaminku, dielusnya.

"Kok besar sekali sih To, punyamu ini."

Kuraih badannya, kubimbing ia ke kamarku sambil masih memegang
senjataku, tertatih-tatih kami berdua. Kukunci pintu kamarku,
kurebahkan
Tante perlahan di dipanku, kulucuti pakaianku, dengan bertelanjang
bulat
kudekati Tante. Dengan perlahan kupelorotkan celana merah jambu itu.
Kembali aku bertemu dengan rambut halus hitam mengkilat itu. Ada cairan
bening di sana. Kutindih tubuhnya lalu kakinya menjepit tubuhku.
Kamipun
berciuman, saling menggigit lidah. Lalu akupun tak tahan lagi. Aku
bangkit. Kubuka kakinya lebar. Lubang sempit itu terbuka sedikit,
merah.
Sekarang aku tak perlu dituntun lagi. Aku sudah tahu. Kutempelkan
kepala
penisku ke lubang sempit itu, lalu kudorong hati-hati.

"Aaaaaaaaaaahhhhh, To, sedaaaaaap."

Kepalanya sudah masuk. Nikmaaaaaaaaaat !

Aku heran, lubang sesempit itu bisa "menelan" kepala penis besarku.
Kenapa kupikirkan ? Yang penting enak. Sambil memegangi kedua belah
dadanya, aku mendorong lagi. Enak-enak geli atau geli-geli enak. Entah
mana yang benar. Kudorong lagi, Aaah lagi, enak lagi, geli lagi. Lagi
kudorong, sampai habis, sampai mentok.

"Idiiiiiiiiiiiiih, Toooo, enak sekali."

Nyaman, sudah di dalam seluruhnya. Pinggul Tante mulai berputar. Aku
tahu tugasku, menarik dan mendorong. Mulut Tante mengeluarkan
bunyi-bunyian setiap aku mendorong. Melenguh, mendesah, kadang menjerit
kecil, atau kata-kata yang tak bermakna. Kejadian tiga hari lalu
berulang. Baru beberapa kali "tusuk" aku sudah merasakan geli luar
biasa. Nampaknya aku tak mampu menahan lagi. Ah, kenapa begini ? Aku
tak
bisa tahan lama. Aku cemas jangan-jangan Tante nanti kecewa lagi. Tapi
bagaimana lagi, aku sudah hampir tiba di puncak. Aku coba berhenti
bergerak sambil menahan agar jangan sampai keluar dulu, persis kalau
aku
menahan kencing. Tapi begitu aku diam, pantat Tante langsung berputar.
Seluruh bagian tubuh yang di dalam sana memeras-meras kelaminku. Oh,
aku
tak akan berhasil menahan diri. Langsung saja aku bergerak lagi, makin
cepat malah. Ocehan Tante pun makin ngawur. Aku jadi cepat, makin cepat
dan semakin cepat, lalu ....... badanku bergetar hebat, mengejang,
berulang, memuntahkan, mengejang lagi, muntah lagi... Tante berhenti
berputar, lalu menjepit kakiku, menerima pelepasanku. Rasanya aku
mengeluarkan banyak sekali Lalu akupun ambruk di atas tubuh Tante. Aku
selesai. Selesai menggetar, selesai mengejang, selesai melepas, selesai
semuanya. Tanteku selesai terpaksa. Aku yakin ia kecewa lagi.

"Tante, gimana Tante, saya engga bisa menahan lagi ..."

"Hmmm, To."

"Maafkan lagi saya, Tante. Saya gagal."

"Sudahlah, To."

"Saya hanya memuaskan diri sendiri."

"Tante bilang sudahlah, kamu lumayan tadi."

"Lumayan gimana Tante ?"

"Ada kemajuan dibanding yang lalu. Tante merasa enak, tadi."

"Tante bohong ! Tante cuma menghibur saya."

"Benar, To. Memang Tante merasa belum "tuntas", tapi kocokanmu tadi
bisa
Tante nikmati." Aku agak tenteram.

"Ini karena kamu belum biasa, To. Tante yakin, lama-lama kamu akan
mampu. Barangmu kerasnya luar biasa."

"Gimana caranya supaya saya bisa lama, Tante ?"

"Nanti kamu akan tahu sendiri."

"Ajarin saya ya, Tante."

Tante tak menjawab. Akupun berdiam diri. Lama kami berdua membisu.
Tante
melihat jam, pukul empat sore, lalu bangkit mencari-cari pakaiannya
yang
berserakan.

"Tante mandi dulu, ya ?"

Aku membantunya berpakaian. Merapikan karet celana dalamnya,
mengkaitkan
kutangnya, mengancingkan dasternya. Ada sesuatu yang lain kurasakan.
Aku
merasa demikian "mesra" membantunya berpakaian. Aku serasa membantu
isteriku ! Ya, barusan aku merasa meniduri isteriku. Kupeluk Tante erat
sekali, agak lama. Lalu kucium pipinya dalam-dalam.

"Tante."

"Apa, To ?"

"Tarto sayang Tante," kataku tiba-tiba.

Dipandangnya mataku lurus-lurus.

"Apa maksudmu To."

"Engga tahu Tante, pokoknya saya sayang sama Tante. Tante jangan kapok,
ya ? Tarto ingin kita terus begini."

"Oh, itu maksudmu. Asal kamu bisa jaga rahasia."

"Bisa, Tante."

"Juga harus hati-hati."

"Iya,Tante."

Tanpa kusadari, penisku bangun lagi.

"Sudah, mandi sana." Tante ke luar kamarku.

***

Malam itu aku nonton TV sendirian. Tante ada di kamarnya, tertutup. Aku
kesepian. Aku mengharapkan Tante akan ke luar dari kamar menemaniku di
sini. Kemudian aku mendekatinya, lalu ciuman, raba-raba, dan ...
diakhiri dengan hubungan suami-isteri. Heran aku, baru tadi sore aku
dipuaskan oleh Tante di kamarku, malam ini aku ingin lagi ! Aku ingin
kenikmatan itu lagi. Aku tetap menunggu.

Jam 9 malam. Tante belum juga muncul.

Pukul 9.30, tidak juga.

Kemarilah Tante, aku merindukanmu.

Malam ini adalah malam pertama Oom tak ada di rumah. Ayolah Tante, ini
kesempatan yang tak boleh dilewatkan. Atau kuketuk saja pintunya, lalu
aku masuk ? Ah jangan. Itu kurang ajar, namanya. Tubuh indah itu
sendirian di kamar. Buah dada putih itu tak ada yang mengelusnya.
Kelamin berambut halus itu tak ada yang memasukinya malam ini. Kenapa
engkau tidak ke luar ? Barangkali Tante memang tidak membutuhkannya.
Paling tidak malam ini. Ya, kalau ia butuh tentunya akan mendekatiku.

Jam 10, belum ada tanda-tanda.

Aku putuskan, malam ini memang Tante tak mau diganggu. Biar sajalah.
Toh
besok siang, sore, atau malam masih ada kesempatan. Oom Ton menginap di
Bandung dua malam. Yah, besok sajalah. Tapi aku ingin malam ini ! Aku
ingin malam ini kelaminku masuk dan kemudian mengeluarkan cairan dengan
nikmat ! Kemudian aku mengeluarkan penisku yang sudah tegang itu. Kata
Tante punyaku ini besar. Entah benar-benar besar, aku tak tahu. Sebab
aku belum pernah lihat punya orang lain.

Karena tidak ada Oom Ton, aku jadi makin berani menggoda Tanteku.
Seperti waktu sarapan tadi. Aku mengelus-elus bahu dan lengan atasnya
yang terbuka di meja makan. Bahkan mencium pipinya.

"Hati-hati, To."

"Ya, Tante, Kan saya lihat-lihat keadaan dulu."

"Mar ada di belakang," katanya.

"Tante."

"Ehm ?"

"Tarto sayang Tante."

"Aku udah ada yang punya, To," katanya sambil mencubit pahaku. Aku
senang.

"Ya. Pokoknya saya sayang." Jangan-jangan aku jatuh cinta benar-benar
sama Tanteku ini.

"Semalam Tante ke mana. Saya tunggu-tunggu."

"Ya. Tante tahu, kamu nonton TV. Kamu masuk kamar jam 10 'kan ? Masa'
mau terus-terusan." Aku lega, Tante tak tahu perbuatanku semalam yang
menyelinap ke kamar Mbak Mar.

"Iya dong. Mumpung ada kesempatan. Sekarang juga saya mau," kataku
nakal.

"Gila, kamu To. Awas jangan sampai mengganggu sekolahmu !"

"Habis Tante betul-betul menggemaskan." Aku ngaceng lagi !

"Udah ah, berangkat sana, nanti telat."

"Tapi nanti lagi ya Tante, janji dulu."

"Lihat dulu nanti."

Bagaimana tidak mengganggu sekolah, seharian aku ingat Tante terus.
Membayangkan apa yang akan kuperbuat nanti bersama Tante.

***

Di kelas aku jadi sering melamun, membayangkan waktu aku menyelusuri
seluruh permukaan dada Tante dengan mulut dan lidahku. Membayangkan
bagaimana kelaminku secara perlahan memasukinya...

Bel tanda pulang berbunyi. Aku bersorak. Ingat ke rumah, ingat malam
ini
Tante menjadi milikku. Akan kureguk semua kenikmatan dari tubuh Tante.
Pokoknya nanti akan kunikmati seluruhnya, mulai dari ujung rambut
sampai
ujung kaki, sampai puas.

Memang aku bisa puas, tapi bagaimana dengan Tante ? Dua kali aku
berhubungan kelamin dengan Tante, dua-duanya aku bisa mengeluarkan
spermaku ke dalam lubang kelamin Tante, sampai puncak, sampai puas.
Tapi
Tante tidak. Aku jadi cemas, jangan-jangan nanti aku juga begitu. Tapi
aku ingat, yang kedua kemarin tante bilang aku ada kemajuan. Hal ini
sedikit menghiburku. Mudah-mudahan yang ketiga nanti dengan
bertambahnya
pengalamanku, ada kemajuan lagi. Aku agak tenang sekarang.

Di rumah sepi-sepi saja. Tak ada siapapun, juga Tante. Aku makan siang
sendirian. Tante mungkin ada di kamar, pintu kamarnya tertutup.
Kuselesaikan makan siangku dengan cepat, lalu duduk saja di meja makan,
berharap Tante akan keluar dari kamarnya. Setengah jam berlalu, masih
sendiri. Aku ke ruang keluarga nonton TV. Duduk di sofa lalu ingat,
kemarin di sini aku menikmati buah dada Tante dengan tuntas. Diam-diam
punyaku mulai tegak, padahal hanya membayangkan yang kemarin. Ditambah
lagi acara TV menyajikan fashion show di Sydney, Australia. Peragawati
cantik-cantik yang berlenggok di catwalk itu umumnya tak memakai
kutang.
Kalau model bajunya berdada rendah, belahan dadanya jelas. Kalau
bahannya tipis, putingnya menonjol. Apalagi peragawati yang punya dada
besar, buahnya berguncang waktu ia melenggang. Aku tambah tegang, makin
pusing karena terangsang. Oh. Tante sayang, ke manakah engkau. Aku
membutuhkanmu sekarang !

Tiba-tiba pintu kamar Tante terbuka. Aku menoleh. Kepala Tante nongol
memberi isyarat padaku dengan mengangguk-angguk. Nasibku memang
beruntung. Jelas ini isyarat ajakan masuk. Tapi masak di kamar itu,
kamar pribadi Oom dan Tante. Aku ragu, bengong saja belum bereaksi atas
isyaratnya. Sekali lagi Tante mengangguk, kali ini sambil mengedipkan
kedua matanya. Dengan pasti aku melangkah menuju kamarnya. Kepala Tante
lenyap. Aku masuk langsung menutup pintu kamarnya dan mengunci.

Di ranjang besar itu Tante terlentang. Mengenakan baju tidur tipis,
sehingga samar-samar celana dalam dan kutangnya terlihat. Matanya sayu
memandangku, berkaca-kaca. Kutang itu bergerak naik-turun menandakan
nafas Tante sudah memburu. Aku tak tahan melihat pemandangan yang
menggairahkan ini, segera saja aku menghampirinya. Tapi...

"Tunggu dulu. Buka dulu dong, pakaianmu," perintahnya. Okey, tanpa
diminta pun aku akan membuka. Sementara aku membuka pakaian sampai
telanjang bulat, Tante memelorotkan celana dalamnya dengan posisi masih
terlentang. Kini di balik baju tidur tipis itu nampak rambut-rambut
halus yang menggemaskan itu.

Belum sempat aku bergerak, ada lagi 'ulah' Tante. Ditariknya gaun tidur
tipis itu perlahan, memperlihatkan paha bulat itu. Ditarik lagi ke atas
sampai pusarnya nongol. Kelamin berambut halus dan perutnya terbuka
terhidang di depanku. Luar biasa. Tante menyajikan 'strip tease show'
di
depanku ! Ada-ada saja Tante ini.

Dengan 'senjata' yang tegak keras aku menghampiri tubuh indah ini.
Kucium rambut-rambut halus itu sebentar. Gemasnya aku.

"Aaaaaaaahhhh," teriak Tante.

Aku berpindah ke atas, kulumat bibirnya sambil meremas sebelah dadanya.
Kutang itu perlu disingkirkan dulu seharusnya, tapi aku tak sempat.
Tanganku sebelah lagi bergerak ke bawah. Eh, Tante sudah basah !
Benjolan dan pintu itu licin.

"Hhhhhhhhmmmmmmmm.." Tante tak mampu melenguh karena bibirnya aku kunci
dengan bibirku.

Disingkirkannya tanganku yang sedang asyik di bawah, dipegangnya
kelaminku, lalu diarahkannya ke 'pintu'. Rupanya Tante ingin memulai
sekarang. Mungkin sama dengan aku, sudah sama-sama terangsang lebih
dulu
sebelum bergumul. Aku terangsang oleh bayanganku dan peragawati tadi,
Tante terangsang entah oleh apa.

Aku mulai 'masuk'.

"Aduhh ! Pelan-pelan, To !" Tante mengaduh, memang masukku tadi agak
kasar.

"Maaf Tante, habis engga tahan sih.." kataku tersengal.

Kami pun saling menggenjot. Lucu kelihatannya kali ini. Tante masih
mengenakan gaun tidur dan kutangnya, kelamin kami sudah saling pagut...

Hasilnya, seperti kemarin. Aku 'keluar' lebih dulu, sementara Tante
belum terpuaskan benar. Kentara dari pinggulnya yang masih mencoba
menggoyang sambil kakinya menjepit pinggangku. Kembali aku kecewa.

Kalau kelaminku sudah bergesekan dengan kelamin Tante, di samping rasa
nikmat, juga rasa geli luar biasa. Jika sudah geli begitu, aku tak
sanggup lagi menahan untuk jangan sampai ke puncak dulu. Kembali aku
gagal memuaskan Tante. Kembali aku berusaha menetralkan suasana yang
tak
enak ini.

Kuelus buah dada yang putingnya masih tegang itu dengan penuh perasaan,
lalu kucium perlahan. Tante mengusap kepalaku. Kucium pipinya dengan
mesra.

"Tante.."

"Hmmm."

"Saya.. engga.."

"Udahlah..Tante tahu. Kamu engga usah merasa apa-apa. Tante maklum kok.
Kamu tadi lumayan, sudah ada kemajuan."

"Tapi Tante kan belum ..."

"Engga usah kamu pikirin. Tante mengerti," katanya menentramkan sambil
mengelus-elus dadaku.

"Saya engga bisa bertahan lama, Tante."

"Sudah lumayan, kok. Tante tadi juga merasa nikmat. Kamu udah mulai
pintar mengocok tadi."

"Saya bisa merasakan Tante tadi belum puas."

"Iya, memang wanita membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding
laki-laki. Tapi kamu tadi ada kemajuan dibanding kemarin."

"Tak adil rasanya. Saya merasakan kenikmatan luar biasa, sedangkan
Tante
belum."

"Sudahlah, To. Tak perlu kamu pikirkan. Tante mengerti."

"Terima kasih Tante." Kupeluk tubuhnya erat. Erat sekali.

Diciumnya pipiku, lalu merebahkan kepalanya di dadaku. Aku mengelus
rambutnya.

"Tubuhmu atletis sekali. Dadamu bidang," katanya sambil tangannya
menelusuri dadaku.

"Iya, Tante. Dulu saya kerja di kebun. Saya juga sering olahraga."

Tiba-tiba tangan Tante ke bawah menggenggam punyaku.

"Kelaminmu besar sekali."

"Ah, masa Tante. Saya kira biasa-biasa saja."

"Apalagi kalau lagi tegang." Kulirik punyaku, sudah agak surut.

"Tubuh Tante luar biasa," balasku.

"Kalau lagi tegang keras dan panas," komentarnya lagi masih tentang
penisku, mengabaikan pujianku.

"Buah dada Tante indah sekali."

"Ah, masa. Dibanding punya siapa," pancingnya.

"Siapa saja." Aku pura-pura terpancing.

"Berarti kamu sering lihat buah dada, ya." Kubalikkan badannya.

"Besar, bulat, kenyal, putih, licin, halus lagi," kataku sambil melihat
dekat-dekat buah itu.

"Buah dada siapa yang kamu lihat," tanyanya sambil menggoyang-goyang
kelaminku yang masih berada digenggamannya.

"Cuma baru ini," jawabku sambil mulai merabai permukaan dadanya.

"Jujur aja, To. Dada siapa yang pernah kamu lihat," katanya lagi. Tante
penasaran rupanya.

"Sungguh mati Tante. Cuma punya Tante yang pernah saya lihat."

"Yang bener, To," tangannya tidak menggenggam lagi, tapi mengelus
kelaminku.

"Benar Tante."

"Kok tahu bagus ?"

"Saya hanya lihat punya teman-teman sekolah. Itupun dari luar."

"Pernah kamu pegang ?" Tangannya masih mengelus, aku mulai terangsang.

"Ih, engga lah, Tante. Bisa gempar, dong."

"Jadi, tahunya punya Tante bagus, dari mana ?"

"Pokoknya, dari luar, punya Tante paling besar" Ujung jariku
mempermainkan putingnya. Puting itu mulai mengeras.

"Tante."

"Hmm ?"

"Apa setiap buah dada ujungnya begini ?"

"Begini gimana."

"Panjang, mungil, tapi keras."

"Mungkin. Punyamu mulai keras."

Aku seperti disadarkan. Memang aku sudah terangsang akibat percakapan
tentang dada dan elusan Tante pada kelaminku. Aku mau lagi. Kenapa
tidak
? Mumpung masih ada kesempatan. Oom Ton paling cepat besok siang
pulangnya. Segera saja kukulum puting yang sejak tadi kupermainkan.

"Eeeeehhhhhmmmmmmm.." Tante melenguh panjang.

Tanganku ke bawah mencari-cari di antara 'rambut-rambut'. Basah di
sana.
Kugosok yang basah itu.

"Uuhmmmm.... Aaahhhhhhh.. Uuhhmmmmm," desahnya agak keras, mengikuti
irama gosokanku. Kelaminku diremas-remas. Enak.

"To... Hhheeeehhhggh.. sedap, To.. Hhheeeeeghh."

Tante makin ribut, aku khawatir kalau sampai terdengar dari luar kamar.
Ah, tak ada orang ini. Aku makin giat menggosoki tonjolan kecil di
bawah
sana. Tante makin ribut, menceracau tak karuan. Gosok lagi. Teriak dia
lagi. Akhirnya...

"Udah, To. Ampun.. Ayo To, sekarang To, sekarang...!"

Aku bangkit. Kelaminku yang sudah keras kupegang pangkalnya, kuarahkan.
Tante membuka kakinya lebar-lebar. Demikian lebarnya sampai kedua
lututnya ke atas, menyuguhkan kelaminnya yang membasah, tepat di depan
kelaminku. Aku masuk. Kudorong perlahan.

"Oooohhh, To.. sedapnya...."

Sudah tenggelam separoh. Kudorong lagi.

"Aduuuuhhhh, mamaaaa, nikmatnya..." teriaknya lagi.

Kudorong lagi. Sudah masuk seluruhnya. Kurebahkan tubuhku menindih
tubuhnya. Tanganku ke belakang punggungnya. Kudekap erat tubuhnya, lalu
aku mulai menggenjot. Sedaaaaaaaapp. Bertumpu pada kedua lututku, aku
menarik dan mendorong pinggulku. Nikmaaaaaaaaaattt. Entah kata apa saja
yang keluar dari mulut Tante aku tak peduli. Terus saja menggenjot,
naik-turun, keluar-masuk. Aku nikmati benar gesekan kelaminku pada
dinding vagina Tante. Kadang selagi punyaku didalam, Tante "mengikat"
pahaku dengan kakinya sambil memutar pantatnya. Kurasakan sentuhan
seluruh relung kelaminnya pada kelaminku. Luar biasa sedapnya.

"To... hhehh.. kamu... hhehh.. kok.. hhehh.." Tante mencoba bicara di
sela-sela nafasnya yang memburu.

"Keenaapaa.. hheehh.. Taanntee... hhehh."

"Kamu.... kok... lama..."

Baru aku menyadari, sudah puluhan kali kelaminku kugenjot
keluar-masuk-putar, tapi aku tak merasakan geli seperti biasanya. Yang
kurasakan hanya nikmat. Rasa geli yang tak bisa kutahan yang kemudian
membuat aku ke 'puncak', kali ini tak kurasakan ! Heran !

"Engga ... tahu.. Tante.."

"To, Oh my God.. heeeehhhhhh."

"Enak... Tante...?"

"Wooow.... luar biasa..."

Genjot dan genjot lagi.

"Kamu.. masih... lama.. To..?"

"Masih... Tante."

Memang aku belum merasakan "geli menuju puncak".

"Diam dulu... To."

Aku menghentikan genjotanku. Posisiku masih "di dalam". Tangan Tante
memeluk erat punggungku, sementara kakinya mengikat pahaku. Lalu
tubuhnya bergerak miring hendak merobohkan tubuhku. Aku bertahan, tak
tahu maksudnya.

"Gantian, To... Tante di atas."

Baru aku tahu maksud gerakan Tante ini. Kuikuti gerakannya, tapi..

"Jangan sampai... lepasss."

Rupanya gerakan robohku terlalu cepat, sehingga kelaminku sedikit
tercabut. Untung Tante cepat mengimbangi gerakanku, hingga punyaku
"masuk lagi".

Sekarang kami sudah sempurna berbalik posisi. Tante yang menindihku.
Hanya sebentar. Tante lalu perlahan bangkit mendudukiku. Kelamin kami
tak terlepas. Tante mulai bergerak. Aneh, gerakannya maju-mundur !
Rasanya lain pula, tapi sama sedapnya ! Dengan posisi begini gesekannya
terasa lain. Kadang diputar, seperti diperas. Kadang Tante "jongkok",
pantatnya naik-turun, sedap juga.

"Aaaahhhh.. kamu.. nakal," teriaknya ketika dia berjongkok membenamkan
kelaminku, aku mengangkat pantatku.

Kedua tanganku diraih, dituntun ke dadanya. Kuremas dada yang tambah
licin kena keringat.

Entah sudah berapa lama akhirnya Tante capek juga. Dia rebahkan
tubuhnya. Kupeluk. Kumiringkan, aku ingin di atas lagi. Tante menurut.
Dengan hati-hati kami mengubah posisi, agar jangan terlepas. Aku
berhasil.

"Kamu... udah.. pintar.." pujinya.

Dengan posisi di atas aku jadi bebas menggenjot. Lagi-lagi Tante
teriak,
"Terus.. To... Tante... hampir..."

Terus. Tusukanku makin menggila. Teriakannya makin keras.

Rasa geli datang, dimulai dari ujung penis, terus menjalar ke seluruh
tubuh. Makin geli. Makin cepat aku menarik-tusuk. Kesemutan...
mengambang.. melayang.. dan.......

"Aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh...."

Seeeerrr, denyut-denyut, seeerrr, bergetar, serrrrr, berguncang.. seer.
Entah sudah berapa kali seerr, yang jelas setiap kali keluar aku
merasakan kenikmatan yang tak bisa kugambarkan dengan kata-kata. Begitu
nikmat. Aku sampai lupa memperhatikan tingkah Tante. Badannya telah
bergeser ke atas karena ku"dorong" dengan tusukanku. Bantalnya bukan
lagi di kepala, tapi di punggung. Sedangkan kepala terkulai, mata
melihat ke atas, bibir terkatub rapat seluruh tubuh gemetaran.
Teriakannya ? Tak perlu kuceritakan. Agak lama juga aku dan Tante
bergetaran begini, merasakan puncaknya kenikmatan hubungan
kelamin.......

Lalu, hanya nafas kami berdua yang terdengar, seolah berebut mengisap
oksigen untuk mengembalikan enerji yang keluar. Lalu barangsur pelan,
makin beraturan. Tante masih "terkapar". Aku lunglai di atas tubuhnya.

Ini keempat kalinya aku bersetubuh dengan Tante. Yang terakhir inilah
kurasakan sangat berbeda dibanding tiga kali yang terdahulu. Lebih
nikmat, lebih memuncak, lebih lama, lebih banyak aku mengeluarkan
"air"ku, lebih bergetar, pokoknya ..... susah diceritakan. Pengalaman
baru tentang rasa nikmat. Dan lagi, mudah-mudahan pengamatanku tak
salah, Tante begitu menggelepar, mengerang, teriak, berbeda dengan
sebelumnya, Tante kali ini kelihatan "selesai". Semoga begitu.

"Ooh.. To.. kamu hebat." Diciumnya pipiku dengan gemasnya.

"Apanya yang hebat, Tante."

"Kamu betul-betul lelaki," tambahnya.

"Memang dari dulu saya laki-laki. Ini buktinya." Kusodorkan kelaminku,
menusuk perutnya.

"Laki-laki yang jantan." Diremasnya penisku dengan gemas.

"Auu," teriakku.

"To... luar biasa.." Tak putus-putusnya ia memujiku.

"Enak engga tadi, Tante ?"

"Wow. bukan main. Sangat !"

Kupeluk tubuhnya. Aku merasa bahagia sekali.

"Tante sayang.." Aku berbisik semesra mungkin.

Agak kaget Tante memandangku, lalu tersenyum. Manis sekali !

"Ada apa 'yang ?" Wuih, mesra banget. Tante memanggilku 'yang'.

"Saya sayang Tante." Kucium bibirnya.

"Hhmmmmmmm," lenguhnya.

"Kalau lama, enak sekali ya Tante."

"Kok kamu tadi bisa lama."

"Engga tahu, Tante. Mungkin karena tadi ronde kedua."

"Atau mungkin karena kamu udah mulai pandai."

"Yang pandai gurunya."

"Huuuu," cibirnya sambil mencubit kontolku. Aku senang.

"Guruku yang cantik."

Dicubitnya hidungku.

"Dan berpengalaman," godaku lagi.

"Aaah, udahlah, To."

Kami diam lagi.

"To," panggilnya tiba-tiba.

"Ya, sayang."

"Jangan tinggalin Tante, Ya."

"Oo, engga dong. Masa Tante yang jelita begini mau ditinggalin."

"Tante serius, To."

"Saya juga serius, Tante. Saya membutuhkan Tante. Saya ingin begini
setiap hari, Tante."

"Saya butuh kamu." Nah ini baru pernyataan. Ini pernyataan baru. Tante
membutuhkanku ? Bukankan ia punya suami ?

"Oom Ton gimana Tante."

Tiba-tiba wajah Tante berubah, agak sedih kulihat.

"Tante.... ah engga. Pokoknya kita harus hati-hati, To. Ingat pesanku
'kan ? Tante juga senang kita bisa begini terus. Tapi hati-hati, ya ?"

"Pasti, Tante. Saya akan hati-hati. Tapi Tante mau kan, tiap hari."

"Nanti kamu bosan."

"Saya sudah bilang, Tarto sayang Tante. Tarto butuh Tante. Tarto ingin
menikmati setiap hari. Tadi Tante bilang membutuhkan Tarto. Maksudnya
gimana Tante ?"

"Iya, sama seperti kamu, Tante juga ingin setiap hari."

Klop 'kan ? Keinginan yang sama, saling membutuhkan, saling memuaskan,
dan.... saling menyayangi. Apakah ini yang dinamakan cinta ? Ya, apakah
kami saling mencintai ? Aku memang tak ingin kehilangan Tante, tapi
Tante sendiri bagaimana ? Apakah ia membutuhkanku karena mencintai
keponakannya ini ? Atau karena aku baru saja memuaskannya ? Bagaimana
dengan suaminya ? Jangan-jangan ia tak mendapatkan kepuasan dari Oom
Ton ? Aku ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaan terakhir ini, tapi
mana berani aku menanyakan langsung kepada Tante. Ah, itu tak penting.
Yang penting, aku sekarang punya kekasih yang luar biasa, yang bisa
membuatku melayang-layang di puncak kenikmatan.

Lelah benar aku malam ini. Bayangkan, malam ini dua kali aku
"bertempur". Terutama yang terakhir tadi, permainan lama yang
betul-betul menguras tenagaku. Aku sekarang ingin istirahat. Masih agak
sempoyongan aku bangkit mengumpulkan pakaianku.

"Mau ke mana To ?"

"Saya ingin tidur, Tante."

"Sudah tidur sini aja, temanin Tante."

"Saya senang sekali Tante, tapi besok Oom 'kan pulang ?"

"Paling cepat besok siang." Aku memperhatikan Tante yang dengan malas
bangkit. Tubuh wanita ini memang luar biasa. Aku benar-benar beruntung
mendapatkannya. Masih telanjang bulat Tante berjalan menuju kamar
mandi.
Tak lepas mataku menatapnya.

"Kenapa, To." Tante merasa aku tatap begitu.

"Tante memang indah," kataku sambil bergantian menatap dada dan
'rambut'
bawahnya.

"Kamu memang nakal. Sudahlah, bersih-bersih dulu baru kita tidur."

Di dalam kamar tidur Tante yang luas ini ada kamar mandi yang luas
pula.
Ada dua wastafel cermin lebar, bath-tube, dan tempat untuk mengguyur
(douce) yang berpintu kaca agak buram. Di bath-tube kami saling
membersihkan, Tante menyabun tubuhku sementara aku mengguyur tubuhnya,
lalu gantian. Ah, mesra sekali. Lalu berdua kami tidur berpelukan di
bawah selimut yang hangat, tanpa pakaian. Tante yang punya ide begini.
Enak juga. Jam dinding menunjuk waktu 11.32. Dua ronde permainan makan
waktu hampir 3 jam. Pantas saja aku lelah.

Dengan tergagap aku terbangun. Dimana aku ini ? Tante masih ada di
pelukanku. Kulihat sekeliling, ah aku tidur di kamar pribadi Oom Ton
dan
Tante Yani ! Ada rasa enak di bawah sana. Ooh, Tante sedang asyik
mengelus-elus penisku yang tegang. Setiap bangun pagi, tanpa dielus pun
penisku memang tegang. Elusan ini yang membuat aku terbangun. Kulihat
jam dinding, pukul 05.17. Ah, sudah pagi, aku harus siap-siap. Tapi
Tante ini..

Tante memandangku, tersenyum, seperti biasa : manis.

"Punyamu udah keras, To." Buah dada itu menyembul karena terpepet
dadaku. Aku terangsang. Langsung saja aku raih buah indah itu.
Putingnya
sudah keras. Kami berpagutan. Aku ingin tahu kesiapan Tante pagi ini,
tanganku ke bawah sana. Sudah basah rupanya. Mengingat waktu, aku ingin
segera mulai. Tante pun paham.

Kembali aku melakukan 'pertempuran' panjang melawan Tante. Rasanya
jalan
ke puncak masih lama. Aku mempercepat "pompaan"ku. Belum juga. Aku
terus
melumat bibir Tante, mencegah "kicauan"nya yang makin keras, khawatir
terdengar Mar yang sangat mungkin sudah bangun. Ganti posisi Percepat
lagi. Hampir. Ubah posisi. Akhirnya, aku makin yakin seperti yang Tante
katakan, bahwa aku lelaki tulen, jantan, hebat.... Pagi yang melelahkan
sekaligus menyegarkan......!

TAMAT

Logged
rudal
Hot Newbie
*
Posts: 10


View Profile
« Reply #3 on: March 12, 2007, 11:12:33 AM »

enak ya punya tante kaya' gitu...mau dong
Logged
belanda
Fresh Newbie

Posts: 1


View Profile Email
« Reply #4 on: July 16, 2008, 11:49:28 AM »

 Laughing cukup memancing birah...i.  ehm..ehm.. Drooling
Logged
godspeed
Fresh Newbie

Posts: 3


View Profile Email
« Reply #5 on: July 29, 2008, 12:00:33 PM »

 Two Thumbs Up Drooling
Logged
leosusilo
Cool Newbie

Posts: 8


Hey Girls

plontos_69@yahoo.com
View Profile
« Reply #6 on: January 13, 2009, 04:04:46 PM »

 Wink Wink Drooling Drooling Drooling
Logged
maycifa
Fresh Newbie

Posts: 1


cute

maycifa maycifa
View Profile
« Reply #7 on: February 05, 2010, 12:30:33 PM »

cirita ini gue dapat dari milis tetangga

Jakarta ! Ya, akhirnya jadi juga aku ke Jakarta. Kota impian semua
orang, paling tidak bagi orang sedesaku di Gumelar, Kabupaten Banyumas,
23 Km ke arah utara Purwokerto, Jawa Tengah. Aku memang orang desa.
Badanku tidak menggambarkan usiaku yang baru menginjak 16 tahun,
bongsor
berotot dengan kulit sawo gelap. Baru saja aku menamatkan ST (Sekolah
Teknik) Negeri Baturaden, sekitar 5 Km dari Desa Gumelar, atau 17 Km
utara Purwokerto. Kegiatanku sehari-hari selama ini kalau tidak
sekolah, membantu Bapak dan Emak berkebun. Itulah sebabnya badanku jadi
kekar dan kulit gelap. Kebunku memang tak begitu luas, tapi cukup untuk
menopang kehidupan keluarga kami sehari-hari yang hanya 5 orang. Aku
punya 2 orang adik laki-laki semua, 12 dan 10 tahun.

Boleh dikatakan aku ini orangnya 'kuper'. Anak dari desa kecil yang
terdiri dari hanya belasan rumah yang terletak di kaki Gunung Slamet.
Jarak antar rumahpun berjauhan karena diselingi kebun-kebun, aku jadi
jarang bertemu orang. Situasi semacam ini mempengaruhi kehidupanku
kelak. Rendah diri, pendiam dan tak pandai bergaul, apalagi dengan
wanita. Pengetahuanku tentang wanita hampir dapat dikatakan nol, karena
lingkungan bergaulku hanya seputar rumah, kebun, dan sekolah teknik
yang
muridnya 100% lelaki.

Pembaca yang budiman, kisah yang akan Anda baca ini adalah pengalaman
nyata kehidupanku sekitar 9 sampai 6 tahun lalu. Pengalaman nyata ini
aku ceritakan semuanya kepada Mas Joko, kakak kelasku, satu-satunya
orang yang aku percayai yang hobinya memang menulis. Dia sering menulis
untuk majalah dinding, buletin sekolah, koran dan majalah lokal yang
hanya beredar di seputar Purwokerto. Mas Joko kemudian meminta izinku
untuk menulis kisah hidupku ini yang katanya unik dan katanya akan
dipasang di internet. Aku memberinya izin asalkan nama asliku tidak
disebutkan. Jadi panggil saja aku Tarto, nama samaran tentu saja.

Aku ke Jakarta atas seizin orang tuaku, bahkan merekalah yang
mendorongnya. Pada mulanya aku sebenarnya enggan meninggalkan
keluargaku, tapi ayahku menginginkan aku untuk melanjutkan sekolah ke
STM. Aku lebih suka kerja saja di Purwokerto. Aku menerima usulan
ayahku
asalkan sekolah di SMA (sekarang SMU) dan tidak di kampung. Dia memberi
alamat adik misannya yang telah sukses dan tinggal di bilangan Tebet,
Jakarta. Ayahku sangat jarang berhubungan dengan adik misannya itu.
Paling hanya beberapa kali melalui surat, karena telepon belum masuk ke
desaku. Kabar terakhir yang aku dengar dari ayahku, adik misannya itu,
sebut saja Oom Ton, punya usaha sendiri dan sukses, sudah berkeluarga
dengan satu anak lelaki umur 4 tahun dan berkecukupan. Rumahnya lumayan
besar. Jadi, dengan berbekal alamat, dua pasang pakaian, dan uang
sekedarnya, aku berangkat ke Jakarta. Satu-satunya petunjuk yang aku
punyai: naik KA pagi dari Purwokerto dan turun di stasiun Manggarai.
Tebet tak jauh dari stasiun ini.

Stasiun Manggarai, pukul 15.20 siang aku dicekam kebingungan. Begitu
banyak manusia dan kendaraan berlalu lalang, sangat jauh berbeda dengan
suasana desaku yang sepi dan hening. Singkat cerita, setelah "berjuang"
hampir 3 jam, tanya ke sana kemari, dua kali naik mikrolet (sekali
salah
naik), sekali naik ojek yang mahalnya bukan main, sampailah aku pada
sebuah rumah besar dengan taman yang asri yang cocok dengan alamat yang
kubawa.

Berdebar-debar aku masuki pintu pagar yang sedikit terbuka, ketok pintu
dan menunggu. Seorang wanita muda, berkulit bersih, dan .. ya ampun,
menurutku cantik sekali (mungkin di desaku tidak ada wanita cantik),
berdiri di depanku memandang dengan sedikit curiga. Setelah aku
jelaskan
asal-usulku, wajahnya berubah cerah. "Tarto, ya ? Ayo masuk, masuk.
Kenalkan, saya Tantemu." Dengan gugup aku menyambut tangannya yang
terjulur. Tangan itu halus sekali. "Tadinya Oom Ton mau jemput ke
Manggarai, tapi ada acara mendadak. Tante engga sangka kamu sudah
sebesar ini. Naik apa tadi, nyasar, ya ?" Cecarnya dengan ramah.
"Maaar, bikin minuman !" teriaknya kemudian. Tak berapa lama datang
seorang wanita muda meletakkan minuman ke meja dengan penuh hormat.
Wanita ini ternyata pembantu, aku kira keponakan atau anggota keluarga
lainnya, sebab terlalu 'trendy' gaya pakaiannya untuk seorang pembantu.

Sungguh aku tak menduga sambutan yang begitu ramah. Menurut cerita yang
aku dengar, orang Jakarta terkenal individualis, tidak ramah dengan
orang asing, antar tetangga tak saling kenal. Tapi wanita tadi, isteri
Oomku, Tante Yani namanya ("Panggil saja Tante," katanya akrab) ramah,
cantik lagi. Tentu karena aku sudah dikenalkannya oleh Oom Ton.

Aku diberi kamar sendiri, walaupun agak di belakang tapi masih di rumah
utama, dekat dengan ruang keluarga. Kamarku ada AC-nya, memang seluruh
ruang yang ada di rumah utama ber-AC. Ini suatu kemewahan bagiku.
Dipanku ada kasur yang empuk dan selimut tebal. Walaupun AC-nya cukup
dingin, rasanya aku tak memerlukan selimut tebal itu. Mungkin aku cukup
menggunakan sprei putih tipis yang di lemari itu untuk selimut. Rumah
di
desaku cukup dingin karena letaknya di kaki gunung, aku tak pernah
pakai
selimut, tidur di dipan kayu hanya beralas tikar. Aku diberi
"kewenangan" untuk mengatur kamarku sendiri.

Aku masih merasa canggung berada di rumah mewah ini. Petang itu aku tak
tahu apa yang musti kukerjakan. Selesai beres-beres kamar, aku hanya
bengong saja di kamar. "Too, sini, jangan ngumpet aja di kamar," Tante
memanggilku. Aku ke ruang keluarga. Tante sedang duduk di sofa nonton
TV. "Sudah lapar, To ?" "Belum Tante." Sore tadi aku makan kue-kue yang
disediakan Si Mar. "Kita nunggu Oom Ton ya, nanti kita makan malam
bersama-sama." Oom Ton pulang kantor sekitar jam 19 lewat. "Selamat
malam, Oom," sapaku. "Eh, Ini Tarto ? Udah gede kamu." "Iya Oom."
"Gimana kabarnya Mas Kardi dan Yu Siti," Oom menanyakan ayah dan ibuku.
"Baik-baik saja Oom." Di meja makan Oom banyak bercerita tentang
rencana sekolahku di Jakarta. Aku akan didaftarkan ke SMA Negeri yang
dekat rumah. Aku juga diminta untuk menjaga rumah sebab Oom
kadang-kadang harus ke Bandung atau Surabaya mengurusi bisnisnya. "Iya,
saya kadang-kadang takut juga engga ada laki-laki di rumah," timpal
Tante. "Berapa umurmu sekarang, To ?" "Dua bulan lagi saya 16 tahun,
Oom." "Badanmu engga sesuai umurmu."

***

Hari-hari baruku dimulai. Aku diterima di SMA Negeri 26 Tebet, tak jauh
dari rumah Oom dan Tanteku. Ke sekolah cukup berjalan kaki. Aku memang
belum sepenuhnya dapat melepas kecanggunganku. Bayangkan, orang udik
yang kuper tamatan ST (setingkat SLTP) sekarang sekolah di SMA
metropolitan. Kawan sekolah yang biasanya lelaki melulu, kini banyak
teman wanita, dan beberapa diantaranya cantik-cantik. Cantik ? Ya,
sejak
aku di Jakarta ini jadi tahu mana wanita yang dianggap cantik, tentunya
menurut ukuranku. Dan tanteku, Tante Yani, isteri Oom Ton menurutku
paling cantik, dibandingkan dengan kawan-kawan sekolahku, dibanding
dengan tante sebelah kiri rumah, atau gadis (mahasiswi ?) tiga rumah ke
kanan. Cepat-cepat kuusir bayangan wajah tanteku yang tiba-tiba muncul.
Tak baik membayangkan wajah tante sendiri.

Pada umumnya teman-teman sekolahku baik, walaupun kadang-kadang mereka
memanggilku 'Jawa', atau meledek cara bicaraku yang mereka sebut
'medok'. Tak apalah, tapi saya minta mereka panggil saja Tarto.
Alasanku, kalau memanggil 'Jawa', toh orang Jawa di sekolah itu bukan
hanya aku. Mereka akhirnya mau menerima usulanku. Terus terang aku di
kelas menjadi cepat populer, bukan karena aku pandai bergaul.
Dibandingkan teman satu kelas tubuhku paling tinggi dan paling besar.
Bukan sombong, aku juga termasuk murid yang pintar. Aku memang serius
kalau belajar, kegemaranku membaca menunjang pengetahuanku.

Kegemaranku membaca inilah yang mendorongku bongkar-bongkar isi rak
buku
di kamarku di suatu siang pulang sekolah. Rak buku ini milik Oom Ton.
Nah, di antara tumpukan buku, aku menemukan selembar majalah bergambar,
namanya Popular.

Rupanya penemuan majalah inilah merupakan titik awalku belajar mandiri
tentang wanita. Tidak sendiri sebetulnya, sebab ada "guru" yang
diam-diam membimbingku. Kelak di kemudian hari aku baru tahu tentang
"guru" itu.

Majalah itu banyak memuat gambar-gambar wanita yang bagus, maksudnya
bagus kualitas fotonya dan modelnya. Dengan berdebar-debar satu-persatu
kutelusuri halaman demi halaman. Ini memang majalah hiburan khusus
pria. Semua model yang nampang di majalah itu pakaiannya terbuka dan
seronok. Ada yang pakai rok demikian pendeknya sehingga hampir seluruh
pahanya terlihat, dan mulus. Ada yang pakai blus rendah dan membungkuk
memperlihatkan bagian belahan buah dada. Dan, ini yang membuat
jantungku
keras berdegup : memakai T-shirt yang basah karena disiram, sementara
dalamnya tidak ada apa-apa lagi. Samar-samar bentuk sepasang buah
kembar
kelihatan. Oh, begini tho bentuk tubuh wanita. Dasarnya aku sangat
jarang ketemu wanita. Kalau ketemu-pun wanita desa atau embok-embok,
dan
yang aku lihat hanya bagian wajah. Bagaimana aku tidak deg-deg-an baru
pertama kali melihat gambar tubuh wanita, walaupun hanya gambar paha
dan
sebagian atas dada.

Sejak ketemu majalah Popular itu aku jadi lain jika memandang wanita
teman kelasku. Tidak hanya wajahnya yang kulihat, tapi kaki, paha dan
dadanya "kuteliti". Si Rika yang selama ini aku nilai wajahnya lumayan
dan putih, kalau ia duduk menyilangkan kakinya ternyata memiliki paha
mulus agak mirip foto di majalah itu. Memang hanya sebagian paha bawah
saja yang kelihatan, tapi cukup membuatku tegang. Ya tegang. "Adikku"
jadi keras! Sebetulnya penisku menjadi tegang itu sudah biasa setiap
pagi. Tapi ini tegang karena melihat paha mulus Rika adalah pengalaman
baru bagiku. Sayangnya dada Rika tipis-tipis saja. Yang dadanya besar
si Ani, demikian menonjol ke depan. Memang ia sedikit agak gemuk. Aku
sering mencuri pandang ke belahan kemejanya. Dari samping terkadang
terbuka sedikit memperlihatkan bagian dadanya di sebelah kutang. Walau
terlihat sedikit cukup membuatku "ngaceng". Sayangnya, kaki Ani tak
begitu bagus, agak besar. Aku lalu membayangkan bagaimana bentuk dada
Ani seutuhnya, ah ngaceng lagi ! Atau si Yuli. Badannya biasa-biasa
saja, paha dan kaki lumayan berbentuk, dadanya menonjol wajar, tapi
aku senang melihat wajahnya yang manis, apalagi senyumnya. Satu lagi,
kalau ia bercerita, tangannya ikut "sibuk". Maksudku kadang mencubit,
menepuk, memukul, dan, ini dia, semua roknya berpotongan agak pendek.
Ah, aku sekarang punya "wawasan" lain kalau memandang teman-teman cewe.

Ah ! Tante Yani ! Ya, kenapa selama ini aku belum "melihat dengan cara
lain"? Mungkin karena ia isteri Oomku, orang yang aku hormati, yang
membiayai hidupku, sekolahku. Mana berani aku "menggodanya" meskipun
hanya dari cara memandang. Sampai detik ini aku melihat Tante Yani
sebagai : wajahnya putih bersih dan cantik. Tapi dasar setan selalu
menggoda manusia, bagaimana tubuhnya ? Ah, aku jadi pengin cepat-cepat
pulang sekolah untuk "meneliti" Tanteku. Jangan ah, aku menghormati
Tanteku.

Aduh ! Kenapa begini ? Apanya yang begini ? Tante Yani ! Seperti biasa,
kalau pulang aku masuk dari pintu pagar langsung ke garasi, lalu masuk
dari pintu samping rumah ke ruang keluarga di tengah-tengah rumah.
Melewati ruang keluarga, sedikit ke belakang sampai ke kamarku. Isi
ruang keluarga ini dapat kugambarkan : di tengahnya terhampar karpet
tebal yang empuk yang biasa digunakan tante untuk membaca sambil
rebahan, atau sedang dipijit Si Mar kalau habis senam. Agak di belakang
ada satu set sofa dan pesawat TV di seberangnya. Sewaktu melewati ruang
keluarga, aku menjumpai Tante Yani duduk di kursi dekat TV menyilang
kaki sedang menyulam, berpakaian model kimono. Duduknya persis si Rika
tadi pagi, cuma kaki Tante jauh lebih indah dari Rika. Putih, bersih,
panjang, di betis bawahnya dihiasi bulu-bulu halus ke atas sampai paha.
Ya, paha, dengan cara duduk menyilang, tanpa disadari Tante belahan
kimononya tersingkap hingga ke bagian paha agak atas. Tanpa sengaja
pula aku jadi tahu bahwa tante memiliki paha selain putih bersih juga
berbulu lembut. Sejenak aku terpana, dan lagi-lagi tegang. Untung aku
cepat sadar dan untung lagi Tante begitu asyik menyulam sehingga tidak
melihat ulah keponakannya yang dengan kurang ajar "memeriksa" pahanya.
Ah, kacau.

Sebenarnya tidak sekali ini aku melihat Tante memakai kimono. Kenapa
aku
tadi terangsang mungkin karena "penghayatan" yang lain, gara-gara
majalah itu. Selesai makan ada dorongan aku ingin ke ruang tengah,
meneruskan "penelitianku" tadi. Aku ada alasan lain tentu saja, nonton
TV swasta, hal baru bagiku. Mungkin aku mulai kurang ajar : mengambil
posisi duduk di sofa nonton TV tepat di depan Tante, searah-pandang
kalau mengamati pahanya ! "Gimana sekolahmu tadi To ?" tanya Tante
tiba-tiba yang sempat membuatku kaget sebab sedang memperhatikan bulu-
bulu kakinya. "Biasa-biasa saja Tante." "Biasa gimana ? Ada kesulitan
engga ?" "Engga Tante." "Udah banyak dapat kawan ?" "Banyak, kawan
sekelas." "Kalau kamu pengin main lihat-lihat kota, silakan aja."
"Terima kasih, Tante. Saya belum hafal angkutannya." "Harus dicoba, yah
nyasar-nyasar dikit engga apa-apa, toh kamu tahu jalan pulang." "Iya
Tante, mungkin hari Minggu saya akan coba." "Kalau perlu apa-apa, uang
jajan misalnya atau perlu beli apa, ngomong aja sama Tante, engga usah
malu-malu." Gimana kurang baiknya Tanteku ini, keponakannya saja yang
nakal. Nakal ? Ah 'kan cuma dalam pikiran saja, lagi pula hanya
"meneliti" kaki yang tanpa sengaja terlihat, apa salahnya. "Terima
kasih Tante, uang yang kemarin masih ada kok." "Emang kamu engga jajan
di sekolah ?" Berdesir darahku. Sambil mengucapkan 'jajan' tadi Tante
mengubah posisi kakinya sehingga sekejap, tak sampai sedetik, sempat
terlihat warna merah jambu celana dalamnya ! Aku berusaha keras
menenangkan diri. "Jajan juga sih, hanya minuman dan makanan kecil."
Akupun ikut-ikutan mengubah posisi, ada sesuatu yang mengganjal di
dalam celanaku. Untung Tante tidak memperhatikan perubahan wajahku.
Sepanjang siang ini aku bukannya nonton TV. Mataku lebih sering ke arah
Tante, terutama bagian bawahnya!

Hari-hari berikutnya tak ada kejadian istimewa. Rutin saja, sekolah,
makan siang, nonton TV, sesekali melirik kaki Tante. Oom Ton pulang
kantor selalu malam hari. Saat ketemu Oomku hanya pada makan malam,
bertiga. Si Luki, anak lelakinya 4 tahun biasanya sudah tidur. Kalau
Luki sudah tidur, Tinah, pengasuhnya pamitan pulang. Pada acara makan
malam ini, sebetulnya aku punya kesempatan untuk "menikmati" (cuma
dengan mata) paha mulus berbulu Tante, sebab malam ini ia memakai rok
pendek, biasanya memakai daster. Tapi mana berani aku menatap
pemandangan indah ini di depan Oom. Betapa bahagianya mereka menurut
pandanganku. Oom tamat sekolahnya, punya usaha sendiri yang sukses,
punya isteri yang cantik, putih, mulus. Anak hanya satu. Punya sopir,
seorang pembantu, Si Mar dan seorang baby sitter Si Tinah. Sopir dan
baby sitter tidak menginap, hanya pembantu yang punya kamar di
belakang. Praktis Tante Yani banyak waktu luang. Anak ada yang
mengasuh, pekerjaan rumah tangga beres ditangan pembantu. Oh ya, ada
seorang lagi, pengurus taman biasa di panggil Mang Karna, sudah agak
tua yang datang sewaktu-waktu, tidak tiap hari.

Keesokkan harinya ada kejadian 'penting' yang perlu kuceritakan.
Pagi-pagi ketika aku sedang menyusun buku-buku yang akan kubawa ke
sekolah, ada beberapa lembar halaman yang mungkin lepasan atau sobekan
dari majalah luar negeri terselip di antara buku-buku pelajaranku. Aku
belum sempat mengamati lembaran itu, karena buru-buru mau berangkat
takut telat. Di sekolah pikiranku sempat terganggu ingat sobekan
majalah
berbahasa Inggris itu, milik siapa ? Tadi pagi sekilas kulihat ada
gambarnya wanita hanya memakai celana jean tak berbaju. Inilah yang
mengganggu pikiranku. Sempat kubayangkan, bagaimana kalau Ani hanya
memakai jean. Kaki dan pahanya yang kurang bagus tertutup, sementara
bulatan dadanya yang besar terlihat jelas. Ah.. nakal kamu To !

Pulang sekolah tidak seperti biasa aku tidak langsung ke meja makan,
tapi ngumpet di kamarku. Pintu kamar kukunci dan mulai mengamati
sobekan
majalah itu. Ada 4 lembar, kebanyakan tulisan yang tentu saja tidak
kubaca. Aku belum paham Bahasa Inggris. Di setiap pojok bawah lembaran
itu tertulis: Penthouse. Langsung saja ke gambar. Gemetaran aku
dibuatnya. Wanita bule, berpose membusungkan dadanya yang besar, putih,
mulus, dan terbuka seluruhnya ! Paha dan kakinya meskipun tertutup jean
ketat, tapi punya bentuk yang indah, panjang, persis kaki milik Tante.
Hah, kenapa aku jadi membandingkan dengan tubuh Tante ? Peduli amat,
tapi itulah yang terbayang. Kenapa aku sebut kejadian penting, karena
baru sekaranglah aku tahu bentuk utuh sepasang buah dada, meskipun
hanya dari foto. Bulat, di tengah ada bulatan kecil warna coklat, dan
di
tengah-tengah bulatan ada ujungnya yang menonjol keluar. Segera saja
tubuhku berreaksi, penisku tegang, dada berdebar-debar. Halaman
berikutnya membuatku lemas, mungkin belum makan. Masih wanita bule yang
tadi tapi sekarang di close-up. Buah dadanya makin jelas, sampai ke
pori-porinya. Ini kesempatanku untuk "mempelajari" anatomi buah kembar
itu. Dari atas kulit itu bergerak naik, sampai puting yang merupakan
puncaknya, kemudian turun lagi "membulat". Ya, beginilah bentuk buah
dada wanita. Putingnya, apakah selalu menonjol keluar seperti menunjuk
ke depan ? Jawabannya baru tahu kelak kemudian hari ketika aku
"praktek". Tiba-tiba terlintas pikiran nakal, Tante Yani ! Bagaimana
ya bentuk buah dada Tanteku itu ? Ah, kenapa selama ini aku tak
memperhatikannya. Asyik lihat ke bawah terus sih ! Memang kesempatannya
baru lihat paha. Kimono Tante waktu itu, kalau tak salah, tertutup
sampai dibawah lehernya. Tapi 'kan bisa lihat bentuk luarnya. Ah,
memang mataku tak sampai kesitu. Melihat bentuk paha dan kaki cewe bule
ini mirip milik Tante, aku rasa bentuk dadanyapun tak jauh berbeda,
begitu aku mencoba memperkirakan. Begitu banyak aku berdialog dengan
diri sendiri tentang buah dada. Begitu banyak pertanyaan yang bermuara
pada pertanyaan inti : Bagaimana bentuk buah dada Tanteku yang cantik
itu ? Untungnya, atau celakanya, pertanyaanku itu segera mendapat
jawaban, di meja makan. Di pertengahan makan siangku, Tante muncul
istimewa. Mengenakan baju-mandi, baju mirip kimono tapi pendek dari
bahan seperti handuk tapi lebih tipis warna putih dan ada pengikat di
pinggangnya. Tante kelihatan lain siang itu, segar, cerah.
Kelihatannya baru selesai mandi dan keramas, sebab rambutnya diikat
handuk ke atas mirip ikat kepala para syeh. "Oh, kamu sudah pulang,
engga kedengaran masuknya," sapanya ramah sambil berjalan menuju ke
tempatku. "Dari tadi Tante," jawabku singkat. Ia berhenti, berdiri tak
jauh dari dudukku. Kedua tangannya ke atas membenahi handuk di
rambutnya. Posisi tubuh Tante yang beginilah memberi jawaban atas
pertanyaanku tadi. Luar biasa ! Besar juga buah dada Tante ini, persis
seperti perkiraanku tadi, bentuknya mirip punya cewe bule di Penthouse
tadi.

Meskipun aku melihatnya masih "terbungkus" baju-mandi, tapi jelas
alurnya, bulat menonjol ke depan. Di bagian kanan baju mandinya rupanya
ada yang basah, ini makin mempertegas bentuk buah indah itu.
Samar-samar
aku bisa melihat lingkaran kecil di tengahnya. Sehabis mandi mungkin
hanya baju-mandi itu saja yang membungkus tubuhnya sekarang. Bawahnya
aku tak tahu. Bawahnya ! Ya, aku melupakan pahanya. Segera saja mataku
turun. Kini lebih jelas, bulu-bulu lembut di pahanya seperti diatur,
berbaris rapi. Ah aku sekarang lagi tergila-gila buah dada. Pandanganku
ke atas lagi. Mudah-mudahan ia tak melihatku melahap (dengan mata)
tubuhnya. Memang ia tidak memperhatikanku, pandangannya ke arah lain
masih terus asyik merapikan rambutnya. Tapi aku tak bisa berlama-lama
begini, disamping takut ketahuan, lagipula aku 'kan sedang makan.
Kuteruskan makanku. Bagaimana reaksi tubuhku, susah diceritakan. Yang
jelas kelaminku tegang luar biasa. Tiba-tiba ia menarik kursi makan di
sebelahku dan duduk. Ah, wangi tubuhnya terhirup olehku. "Makan yang
banyak, tambah lagi tuh ayamnya." Bagaimana mau makan banyak, kalau
"diganggu" seperti ini. Aku mengiakan saja. Rupanya "gangguan nikmat"
belum selesai. Aku duduk menghadap ke utara. Di dekatku duduk si
Badan-sintal yang habis mandi, menghadap ke timur. Aku bebas
melihat tubuhnya dari samping kiri. Ia menundukkan kepalanya dan
mengurai rambutnya ke depan. Dengan posisi seperti ini, badan agak
membungkuk ke depan dan satu-satunya pengikat baju ada di pinggang,
dengan serta merta baju mandinya terbelah dan menampakkan pemandangan
yang bukan main. Buah dada kirinya dapat kulihat dari samping dengan
jelas. Ampun.. putihnya, dan membulat. Kalau aku menggeser kepalaku
agak ke kiri, mungkin aku bisa melihat putingnya. Tapi ini sih ketahuan
banget. Jangan sampai. Betapa tersiksanya aku siang ini. Tersiksa tapi
nikmat ! Oh Tuhan, janganlah aku Kau beri siksa yang begini. Aku
khawatir tak sanggup menahan diri. Rasa-rasanya tanganku ingin
menelusup ke belahan baju mandi ini lalu meremas buah putih itu...
Kalau itu terjadi, bisa-bisa aku dipulangkan, dan hilanglah
kesempatanku meraih masa depan yang lebih baik. Apa yang kubilang pada
ayahku ? Dapat kupastikan ia marah besar, dan artinya, kiamat bagiku.

Untung, atau sialnya, Tante cepat bangkit menuju ke kamar sambil
menukas: "Teruskan ya makannya." "Ya Tante," sahutku masih gemetaran.
Aah., aku menemukan sesuatu lagi. Aku mengamati Tante berjalan ke
kamarnya dari belakang, gerakan pinggulnya indah sekali. Pinggul yang
tak begitu lebar, tapi pantatnya demikian menonjol ke belakang. Tubuh
ideal, memang.

Malamnya aku disuruh makan duluan sendiri. Tante menunggu Oom yang
telat
pulang malam ini. Masih terbayang kejadian siang tadi bagaimana aku
menikmati pemandangan dada Tante yang membuat aku tak begitu selera
makan. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh kedatangan Tante yang muncul dari
kamarnya. Masih mengenakan baju-mandi yang tadi, rambutnya juga masih
diikat handuk. Langsung ia duduk disebelahku persis di kursi yang tadi.
Belum habis rasa kagetku, tiba-tiba pula ia pindah dan duduk di
pangkuanku ! Bayangkan pembaca, bagaimana nervous-nya aku. Yang jelas
penisku langsung mengeras merasakan tindihan pantat Tante yang padat.
Disingkirkannya piringku, memegang tangan kiriku dan dituntunnya
menyelinap ke belahan baju-mandinya. Aku tidak menyia-nyiakan
kesempatan
emas ini. Kuremas dadanya dengan gemas. Hangat, padat dan lembut.
Tantepun menggoyang pantatnya, terasa enak di kelaminku. Goyangan makin
cepat, aku jadi merasa geli di ujung penisku. Rasa geli makin meningkat
dan meningkat, dan .. Aaaaah, aku merasakan nikmat yang belum pernah
kualami, dan eh, ada sesuatu terasa keluar berbarengan rasa nikmat
tadi, seperti pipis dan... aku terbangun. Sialan ! Cuma mimpi rupanya.
Masa memimpikan Tante, aku jadi malu sendiri. Kejadian siang tadi
begitu membekas sampai terbawa mimpi. Eh, celanaku basah. Mana mungkin
aku ngompol. Lalu apa dong ? Cepat-cepat aku periksa. Memang aku
ngompol ! Tapi tunggu dulu, kok airnya lain, lengket-lengket agak
kental. Ah, kenapa pula aku ini ? Apa yang terjadi denganku ? Besok
coba aku tanya pada Oom. Gila apa ! Jangan sama Oom dong. Lalu tanya
kepada Tante, tak mungkin juga. Coba ada Mas Joko, kakak kelasku di ST
dulu. Mungkin teman sekolahku ada yang tahu, besok aku tanyakan.

***

Esoknya aku ceritakan hal itu kepada Dito teman paling dekat. Sudah
barang tentu kisahnya aku modifikasi, bukan Tante yang duduk di
pangkuanku, tapi "seseorang yang tak kukenal". "Kamu baru mengalami
tadi
malam ?" "Ya, tadi malam." "Telat banget. Aku sudah mengalami sewaktu
kelas 2 SMP, dua tahun lalu. Itu namanya mimpi basah." "Mimpi basah ?"
"Ya. Itu tandanya kamu mulai dewasa, sudah aqil-baliq. Lho, emangnya
kamu belum pernah dengar ?" Malu juga aku dibilang telat dan belum tahu
mimpi basah. Tapi juga ada rasa sedikit bangga, aku mulai dewasa!
"Rupanya kamu badan aja yang gede, pikiran masih anak-anak." Ah biar
saja. Beberapa hari sebelum mimpi basah itu toh aku sudah "menghayati"
wanita sebagai orang dewasa! "Kamu punya pacar ?" "Engga." "Atau pernah
pacaran ?" "Engga juga." "Pantesan telat kalau begitu. Waktu kelas 3
SMP
aku punya pacar, teman sekelas. Enak deh, sekolah jadi semangat."
"Kalau
pacaran ngapain aja sih ?" tanyaku lugu. Memang betul aku belum tahu
tentang pacaran. Tentang wanitapun aku baru tahu beberapa hari lalu.
"Ha.. ha.. ha.! Kampungan lu ! Ya tergantung orangnya. Kalau aku sih
paling-paling ciuman, raba-raba, udah. Kalau si Ricky kelewatan, sampai
pacarnya hamil." Ciuman, raba-raba. Aku pernah lihat orang ciuman di
filem TV, enak juga kelihatannya, belum pernah aku membayangkan. Kalau
meraba, pernah kubayangkan meremas dada Tante. "Hamil ?" Pelajaran baru
nih. "Ada juga yang sampai 'gitu' tapi engga hamil. Engga tahu aku
caranya gimana." "Gitu gimana ?" "Kamu betul-betul engga tahu ?" Lalu
ia
cerita bagaimana hubungan kelamin itu. Dengan bisik-bisik tentunya. Aku
jadi tegang. Pantaslah aku dibilang kampungan, memang betul-betul baru
tahu saat ini. Kelamin lelaki masuk ke kelamin wanita, keluar bibit
manusia, lalu hamil. Bibit ! Mungkin yang keluar dari kelaminku semalam
adalah bibit manusia. Bagaimana mungkin kelaminku sebesar ini bisa
masuk
ke lubang pipis wanita ? Sebesar apa lubangnya, dan di mana ? Yang
pernah aku lihat kelamin wanita itu kecil, berbentuk segitiga terbalik
dan ada belahan kecil di ujung bawahnya. Tapi yang kulihat dulu itu di
desa adalah kelamin anak-anak perempuan yang sedang mandi di pancuran.
Kelamin wanita dewasa sama sekali aku belum pernah lihat. Bagaimana
bentuknya ya ? Mungkin segitiganya lebih besar. Ah, pikiranku terlalu
jauh. Ciuman saja dulu. Aku sependapat dengan Dito, kalau pacaran
ciuman dan raba-raba saja. Aku jadi ingin pacaran, tapi siapa yang mau
pacaran sama aku yang kuper ini ? Ya dicari dong! Si Rika, Ani atau
Yuli ? Siapa sajalah, asal mau jadi pacarku, buat ciuman dan diraba-
raba. Sepertinya sedap.

Dalam perjalanan pulang aku membayangkan bagaimana seandainya aku
pacaran sama Rika. Pahanya yang lumayan mulus enak dielus-elus.
Tanganku
terus ke atas membuka kancing bajunya, lalu menyelusup dan... sopir
Bajaj itu memaki-maki membuyarkan lamunanku. Tanpa sadar aku berjalan
terlalu ke tengah. Di balik kutang Rika hanya ada sedikit tonjolan, tak
ada "pegangan", kurang enak ah. Tiba-tiba Rika berubah jadi Ani.
Melamun
itu memang enak, bisa kita atur semau kita. Ketika membuka kancing baju
Ani aku mulai tegang. Kususupkan empat jariku ke balik kutang Ani. Nah
ini, montok, keras walau tak begitu halus. Telapak tanganku tak cukup
buat "menampung" dada Ani. Aku berhenti, menunggu lampu penyeberangan
menyala hijau. Sampai di seberang jalan kusambung khayalanku. Ani telah
berubah menjadi Yuli. Anak ini memang manis, apalagi kalau tersenyum,
bibirnya indah, setidaknya menurutku. Aku mulai mendekatkan mulutku ke
bibir Yuli yang kemudian membuka mulutnya sedikit, persis seperti di
film TV kemarin. Kamipun berciuman lama. Kancing baju seragam Yulipun
mulai kulepas, dua kancing dari atas saja cukup. Kubayangkan, meski
dari luar dada Yuli menonjol biasa, tak kecil dan tak besar, ternyata
dadanya besar juga. Kuremas-remas sepuasnya sampai tiba di depan rumah.

Aku kembali ke dunia nyata. Masuk melalui pintu garasi seperti biasa,
membuka pintu tengah sampai ke ruang keluarga. Juga seperti biasa kalau
mendapati Tante sedang membaca majalah sambil rebahan di karpet, atau
menyulam, atau sekedar nonton TV di ruang keluarga. Yang tidak biasa
adalah, kedua bukit kembar itu. Tante membaca sambil tengkurap
menghadap
pintu yang sedang kumasuki. Posisi punggungnya tetap tegak dengan
bertumpu pada siku tangannya. Mengenakan daster dengan potongan dada
rendah, rendah sekali. Inipun tak biasa, atau karena aku jarang
memperhatikan bagian atas. Tak ayal lagi, kedua bukit putih itu hampir
seluruhnya tampak. Belahannya jelas, sampai urat-urat lembut agak
kehijauan di kedua buah dada itu samar-samar nampak. Aku tak melewatkan
kesempatan emas ini. Tante melihat sebentar ke arahku, senyum sekejap,
terus membaca lagi. Akupun berjalan amat perlahan sambil mataku tak
lepas dari pemandangan amat indah ini...

Hampir lengkap aku "mempelajari" tubuh Tanteku ini. Wajah dan
"komponen"nya mata, alis, hidung, pipi, bibir, semuanya indah yang
menghasilkan : cantik. Walaupun dilihat sekejap, apalagi berlama-lama.
Paha dan kaki, panjang, semuanya putih, mulus, berbulu halus. Pinggul,
meski baru lihat dari bentuknya saja, tak begitu lebar, proporsional,
dengan pantat yang menonjol bulat ke belakang. Pinggang, begitu sempit
dan perut yang rata. Ini juga hanya dari luar. Dan yang terakhir buah
dada. Hanya puting ke bawah saja yang belum aku lihat langsung. Kalau
daerah pinggul, bagian depannya saja yang aku belum bisa membayangkan.
Memang aku belum pernah membayangkan, apalagi melihat kelamin wanita
dewasa. Aku masih penasaran pada yang satu ini.
Keesokan harinya, siang-siang, Dito memberiku sampul warna coklat agak
besar, secara sembunyi-sembunyi.

"Nih, buat kamu."

"Apa nih ?"

"Simpan aja dulu, lihatnya di rumah, Hati-hati." Aku makin penasaran.
"Lanjutan pelajaranku kemarin. Gambar-gambar asyik," bisiknya.

Sampai di rumah aku berniat langsung masuk kamar untuk memeriksa benda
pemberian Dito. Tante lagi membaca di karpet, kali ini terlentang,
mengenakan daster dengan kancing di tengah membelah badannya dari atas
ke bawah. Kancingnya yang terbawah lepas sebuah yang mengakibatkan
sebagian pahanya tampak, putih. "Suguhan" yang nikmat sebenarnya, tapi
kunikmati hanya sebentar saja, pikiranku sedang tertuju ke sampul
coklat. Dengan tak sabaran kubuka sampul itu, sesudah mengunci pintu
kamar, tentunya. Wow, gambar wanita bule telanjang bulat! Sepertinya
ini
lembaran tengah suatu majalah, sebab gambarnya memenuhi dua halaman
penuh. Wanita bule berrambut coklat berbaring terlentang di tempat
tidur. Segera saja aku mengeras. Buah dadanya besar bulat, putingnya
lagi-lagi menonjol ke atas warna coklat muda. Perutnya halus, dan ini
dia, kelaminnya! Sungguh beda jauh dengan apa yang selama ini
kuketahui.
Aku tak menemukan "segitiga terbalik" itu. Di bawah perut itu ada
rambut-rambut halus keriting. Ke bawah lagi, lho apa ini ? Sebelah kaki
cewe itu dilipat sehingga lututnya ke atas dan sebelahnya lagi
menjuntai
di pinggir ranjang memperlihatkan selangkangannya. Inilah rupanya
lubang
itu. Bentuknya begitu "rumit". Ada daging berlipat di kanan kirinya,
ada
tonjolan kecil di ujung atasnya, lubangnya di tengah terbuka sedikit.
Mungkin di sinilah tempat masuknya kelamin lelaki. Tapi, mana cukup ?
Oo, seperti inilah rupanya wujud kelamin wanita dewasa. Tiba-tiba
pikiran nakalku kambuh : begini jugakah punya Tante? Pertanyaan yang
jelas-jelas tak mungkin mendapatkan jawaban! Bagaimana dengan punya
Rika, Ani, atau Yuli? Sama susahnya untuk mendapatkan jawaban. Lupakan
saja. Tunggu dulu, barangkali Si Mar pembantu itu bisa memberikan
"jawaban". Orangnya penurut, paling tidak dia selalu patuh pada
perintah
majikannya, termasuk aku. Bahkan dulu itu tanpa aku minta membantuku
beres-beres kamarku, dengan senang pula. Orangnya lincah dan ramah.
Tidak terlalu jelek, tapi bersih. Kalau sudah dandan sore hari ngobrol
dengan pembantu sebelah, orang tak menyangka kalau ia pembantu. Dulu
waktu pertama kali ketemu pun aku tak mengira bahwa ia pembantu. Setiap
pagi ia menyapu dan mengepel seluruh lantai, termasuk lantai kamarku.
Kadang-kadang aku sempat memperhatikan pahanya yang tersingkap sewaktu
ngepel, bersih juga. Yang jelas ia periang dan sedikit genit. Tapi masa
kusuruh ia membuka celana dalamnya, "Coba Mar aku pengin lihat punyamu,
sama engga dengan yang di majalah." Gila ! Jangan langsung begitu,
pacari saja dulu. Ah, pacaran kok sama pembantu. Apa salahnya? Dari
pada tidak pacaran sama sekali. Okey, tapi bagaimana ya cara memulainya
? Ah, dasar kuper!

Aku jadi lebih memperhatikan Si Mar. Mungkin ia setahun atau dua tahun
lebih tua dariku, sekitar 18 lah. Wajahnya biasa-biasa saja, bersih dan
selalu cerah, kulit agak kuning, dadanya tak begitu besar, tapi sudah
berbentuk. Paha dan kaki bersih. Mulai hari ini aku bertekat untuk
mulai
menggoda Si Mar, tapi harus hati-hati, jangan sampai ketahuan oleh
siapapun. Seperti hari-hari lainnya ia membersihkan kamarku ketika aku
sedang sarapan. Pagi ini aku sengaja menunda makan pagiku menunggu Si
Mar. Tante masih ada di kamarnya. Si Mar masuk tapi mau keluar lagi
ketika melihat aku ada di dalam kamar.

"Masuk aja mbak, engga apa-apa," kataku sambil pura-pura sibuk
membenahi
buku-buku sekolah. Masuklah dia dan mulai bersih-bersih. Tanganku terus
sibuk berbenah sementara mataku melihatnya terus. Sepasang pahanya
nampak, sudah biasa sih lihat pahanya, tapi kali ini lain. Sebab aku
membayangkan apa yang ada di ujung atas paha itu. Aku mengeras. Sekilas
tampak belahan dadanya waktu ia membungkuk-bungkuk mengikuti irama
ngepel. Tiba-tiba ia melihatku, mungkin merasa aku perhatikan terus.

"Kenapa, Mas." Kaget aku.

"Ah, engga. Apa mbak engga cape tiap hari ngepel."

"Mula-mula sih capek, lama-lama biasa, memang udah kerjaannya,"
jawabnya
cerah.

"Udah berapa lama mbak kerja di sini ?"

"Udah dari kecil saya di sini, udah 5 tahun."

"Betah ?"

"Betah dong, Ibu baik sekali, engga pernah marah. Mas dari mana sih
asalnya ?" tanyanya tiba-tiba. Kujelaskan asal-usulku.

"Oo, engga jauh dong dari desaku. Saya dari Cilacap."

Pekerjaannya selesai. Ketika hendak keluar kamar aku mengucapkan terima
kasih.

"Tumben," katanya sambil tertawa kecil. Ya, tumben biasanya aku tak
bilang apa-apa.

***

"Mana, yang kemarin ?" Dito meminta gambar cewe itu.

"Lho, katanya buat aku."

"Jangan dong, itu aku koleksi. Kembaliin dulu entar aku pinjamin yang
lain, lebih serem !"

"Besok deh, kubawa."

Sampai di rumah Si Luki sedang main-main di taman sama pengasuhnya.
Sebentar aku ikut bermain dengan anak Oomku itu. Tinah sedikit lebih
putih dibanding Si Mar, tapi jangan dibandingkan dengan Tante, jauh.
Orangnya pendiam, kurang menarik. Dadanya biasa saja, pinggulnya yang
besar. Tapi aku tak menolak seandainya ia mau memperlihatkan miliknya.
Pokoknya milik siapa saja deh, Rika, Ani, Yuli, Mar, atau Tinah asal
itu
kelamin wanita dewasa. Penasaran aku pada "barang" yang satu itu.
Apalagi milik Tante, benar-benar suatu karunia kalau aku "berhasil"
melihatnya ! Di dalam ada Si Mar yang sedang nonton telenovela buatan
Brazil itu. Aku kurang suka, walaupun pemainnya cantik-cantik.
Ceritanya
berbelit. Duduk di karpet sembarangan, lagi-lagi pahanya nampak.
Rasanya
si Mar ini makin menarik.

"Mau makan sekarang, Mas ?"

"Entar aja lah."

"Nanti bilang, ya. Biar saya siapin."

"Tante mana mbak?"

"Kan senam." Oh ya, ini hari Rabu, jadwal senamnya. Seminggu Tante
senam
tiga kali, Senin, Rabu dan Jumat. Ketika aku selesai ganti pakaian, aku
ke ruang keluarga, maksudku mau mengamati Si Mar lebih jelas. Tapi Si
Mar cepat-cepat ke dapur menyiapkan makan siangku. Biar sajalah, toh
masih banyak kesempatan. Kenapa tidak ke dapur saja pura-pura bantu ?
Akupun ke dapur.

"Masak apa hari ini ?" Aku berbasa-basi.

"Ada ayam panggang, oseng-oseng tahu, sayur lodeh, pilih aja."

"Aku mau semua," candaku. Dia tertawa renyah. Lumayan buat kata
pembukaan.

"Sini aku bantu."

"Ah, engga usah." Tapi ia tak melarang ketika aku membantunya. Ih,
pantatnya menonjol ke belakang walau pinggulnya tak besar. Aku ngaceng.
Kudekati dia. Ingin rasanya meremas pantat itu. Beberapa kali kusengaja
menyentuh badannya, seolah-olah tak sengaja. 'Kan lagi membantu dia.
Dapat juga kesempatan tanganku menyentuh pantatnya, kayaknya sih padat,
aku tak yakin, cuma nyenggol sih. Mar tak bereaksi. Akhirnya aku tak
tahan, kuremas pantatnya. Kaget ia menolehku.

"Iih, Mas To genit, ah," katanya, tapi tidak memprotes.

"Habis, badanmu bagus sih." Sekarang aku yakin, pantatnya memang padat.

"Ah, biasa saja kok."

Akupun berlanjut, kutempelkan badan depanku ke pantatnya. Barangku yang
sudah mengeras terasa menghimpit pantatnya yang padat, walaupun
terlapisi sekian lembar kain. Aku yakin iapun merasakan kerasnya
punyaku. Berlanjut lagi, kedua tanganku ke depan ingin memeluk
perutnya.
Tapi ditepisnya
tanganku.

"Ih, nakal. Udah ah, makan dulu sana !"

"Iya deh makan dulu, habis makan terus gimana ?"

"Yeee !" sahutnya mencibir tapi tak marah. Tangannya berberes lagi
setelah tadi berhenti sejenak kuganggu. Walaupun penasaran karena
aksiku
terpotong, tapi aku mendapat sinyal bahwa Si Mar tak menolak kuganggu.
Hanya tingkat mau-nya sampai seberapa jauh, harus kubuktikan dengan
aksi-aksi selanjutnya !

Kembali aku menunda sarapanku untuk "aksi selanjutnya" yang telah
kukhayalkan tadi malam. Ketika ia sedang menyapu di kamarku, kupeluk ia
dari belakang. Sapunya jatuh, sejenak ia tak bereaksi. Amboi .. dadanya
berisi juga! Jelas aku merasakannya di tanganku, bulat-bulat padat.
Kemudian Si Mar pun meronta.

"Ah, Mas, jangan !" Protesnya pelan sambil melirik ke pintu. Aku
melepaskannya, khawatir kalau ia berteriak. Sabar dulu, masih banyak
kesempatan.

"Terima kasih," kataku waktu ia melangkah keluar kamar. Ia hanya
mencibir memoncongkan mulutnya lucu. Mukanya tetap cerah, tak marah.
Sekarang aku selangkah lebih maju !

***

Aku ingat janjiku hari ini untuk mengembalikan foto porno milik Dito.
Tapi di mana foto itu ? Jangan-jangan ada yang mengambilnya. Aku yakin
betul kemarin aku selipkan di antara buku Fisika dan Stereometri (kedua
buku itu memang lebar, bisa menutupi). Nah ini dia ada di dalam buku
Gambar. Pasti ada seseorang yang memindahkannya. Logikanya, sebelum
orang itu memindahkan, tentu ia sempat melihatnya. Tiba-tiba aku cemas.
Siapa ya ? Si Mar, Tinah, atau Tante ? Atau lebih buruk lagi, Oom Ton ?
Aku jadi memikirkannya. Siapapun orang rumah yang melihat foto itu,
membuatku malu sekali! Yang penting, aku harus kembalikan ke Dito
sekarang.

Siangnya pulang sekolah ketika aku masuk ke ruang keluarga, Si Mar
sedang memijit punggung Tante. Tante tengkurap di karpet, Si Mar
menaiki
pantat Tante. Punggung Tante itu terbuka 100 %, tak ada tali kutang di
sana. Putihnya mak..! Si Mar cepat-cepat menutup punggung itu ketika
tahu mataku menjelajah ke sana, sambil melihatku dengan senyum penuh
arti. Sialan! Si Mar tahu persis kenakalanku. Aku masuk kamar. Hilang
kesempatan menikmati punggung putih itu. Tadi pagi aku lupa membawa
buku
gambar gara-gara mengurus foto si Dito. Aku berniat mempersiapkan dari
sekarang sambil berusaha melupakan punggung putih itu. Sesuatu jatuh
bertebaran ke lantai ketika aku mengambil buku gambar. Seketika dadaku
berdebar kencang setelah tahu apa yang jatuh tadi. Lepasan dari majalah
asing. Di tiap pojok bawahnya tertulis "Hustler" edisi tahun lalu. Satu
serial foto sepasang bule yang sedang berhubungan kelamin! Ada tiga
gambar, gambar pertama Si Cewe terlentang di ranjang membuka kakinya
sementara Si Cowo berdiri di atas lututnya memegang alatnya yang tegang
besar (mirip punyaku kalau lagi tegang cuma beda warna, punyaku gelap)
menempelkan kepala penisnya ke kelamin Cewenya. Menurutku, dia
menempelnya kok agak ke bawah, di bawah "segitiga terbalik" yang penuh
ditumbuhi rambut halus pirang.

Gambar kedua, posisi Si Cewe masih sama hanya kedua tangannya memegang
bahu si Cowo yang kini condong ke depan. Nampak jelas separoh batangnya
kini terbenam di selangkangan Si Cewe. Lho, kok di situ masuknya ?
Kuperhatikan lebih saksama. Kayaknya dia "masuk" dengan benar, karena
di
samping jalan masuk tadi ada "yang berlipat-lipat", persis gambar milik
Dito kemarin. Menurut bayanganku selama ini, "seharusnya" masuknya
penis
agak lebih ke atas. Baru tahu aku, khayalanku selama ini ternyata
salah!
Gambar ketiga, kedua kaki Si Cewe diangkat mengikat punggung Si Cowo.
Badan mereka lengket berimpit dan tentu saja alat Si Cowo sudah
seluruhnya tenggelam di "tempat yang layak" kecuali sepasang "telornya"
saja menunggu di luar. Mulut lelaki itu menggigit leher wanitanya,
sementara telapak tangannya menekan buah dada, ibujari dan telunjuk
menjepit puting susunya. Gemetaran aku mengamati gambar-gambar ini
bergantian. Tanpa sadar aku membuka resleting celanaku mengeluarkan
milikku yang dari tadi telah tegang. Kubayangkan punyaku ini separoh
tenggelam di tempat si Mar persis gambar kedua. Kenyataannya memang
sekarang sudah separoh terbenam, tapi di dalam tangan kiriku. Akupun
meniru gambar ketiga, tenggelam seluruhnya, gambar kedua, setengah,
ketiga, seluruhnya.. geli-geli nikmat... terus kugosok... makin geli..
gosok lagi.. semakin geli... dan.. aku terbang di awan.. aku melepas
sesuatu... hah.. cairan itu menyebar ke sprei bahkan sampai bantal,
putih, kental, lengket-lengket. Enak, sedap seperti waktu mimpi basah.
Sadar aku sekarang ada di kasur lagi, beberapa detik yang lalu aku
masih
melayang-layang. He! Kenapa aku ini? Apa yang kulakukan ? Aku panik.
Berbenah. Lap sini lap sana. Kacau ! Kurapikan lagi celanaku, sementara
si Dia masih tegang dan berdenyut, masih ada yang menetes. Aku
menyesal,
ada rasa bersalah, rasa berdosa atas apa yang baru saja kulakukan. Aku
tercenung. Gambar-gambar sialan itu yang menyebabkan aku begini.
Masturbasi. Istilah aneh itu baru aku ketahui dari temanku beberapa
hari
sesudahnya. Si Dito menyebutnya 'ngeloco'. Aneh. Ada sesuatu yang lain
kurasakan, keteganganku lenyap. Pikiran jadi cerah meski badan agak
lemas..

***

Sehari itu aku jadi tak bersemangat, ingat perbuatanku siang tadi.
Rasanya aku telah berbuat dosa. Aku menyalahkan diriku sendiri. Bukan
salahku seluruhnya, aku coba membela diri. Gambar-gambar itu juga punya
dosa. Tepatnya, pemilik gambar itu. Eh, siapa yang punya ya ? Tahu-tahu
ada di balik buku-bukuku. Siapa yang menaruh di situ ? Ah, peduli amat.
Akan kumusnahkan. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, tidak
akan
masturbasi lagi. Perasaan seperti ini masih terbawa sampai keesokkan
harinya lagi. Sehingga kulewatkan kesempatan untuk meraba dada Mar
seperti kemarin. Ia telah memberi lampu hijau untuk aku
"tindaklanjuti".
Tapi aku lagi tak bersemangat. Masih ada rasa bersalah.

Hari berikutnya aku "harus" tegang lagi. Bukan karena Si Mar yang
(menurutku) bersedia dijamah tubuhnya. Tapi lagi-lagi karena Si Putih
molek itu, Tante Yani. Siang itu aku pulang agak awal, pelajaran
terakhir bebas. Sebentar aku melayani Luki melempar-lempar bola di
halaman, lalu masuk lewat garasi, seperti biasa. Hampir pingsan aku
ketika membuka pintu menuju ruang keluarga. Tante berbaring terlentang,
mukanya tertutupi majalah "Femina", terdengar dengkur sangat halus dan
teratur. Rupanya ketiduran sehabis membaca. Mengenakan baju-mandi
seperti dulu tapi ini warna pink muda, rambut masih terbebat handuk.
Agaknya habis keramas, membaca terus ketiduran. Model baju mandinya
seperti yang warna putih itu, belah di depan dan hanya satu pengikat di
pinggang. Jelas ia tak memakai kutang, kelihatan dari bentuk buah
dadanya yang menjulang dan bulat, serta belahan dadanya
seluruhnya terlihat sampai ke bulatan bawah buah itu. Sepasang buah
bulat itu naik-turun mengikuti irama dengkurannya. Berikut inilah yang
membuatku hampir pingsan. Kaki kirinya tertekuk, lututnya ke atas,
sehingga belahan bawah baju-mandi itu terbuang ke samping, memberiku
"pelajaran" baru tentang tubuh wanita, khususnya milik Tante. Tak ada
celana dalam di sana. Tanteku ternyata punya bulu lebat. Tumbuh
menyelimuti hampir seluruh "segitiga terbalik". Berwarna hitam legam,
halus dan mengkilat, tebal di tengah menipis di pinggir-pinggirnya.
"Arah" tumbuhnya seolah diatur, dari tengah ke arah pinggir sedikit ke
bawah kanan dan kiri. Berbeda dengan yang di gambar, rambut Tante yang
di sini lurus, tak keriting. Wow, sungguh "karya seni" yang indah
sekali
! Kelaminku tegang luar biasa. Aku lihat sekeliling. Si Tinah sedang
bermain dengan anak asuhnya di halaman depan. Si Mar di belakang,
mungkin sedang menyetrika. Kalau Tante sedang di ruang ini, biasanya Si
Mar tidak ke sini, kecuali kalau diminta Tante memijit. Aman !

Dengan wajah tertutup majalah aku jadi bebas meneliti kewanitaan Tante,
kecuali kalau ia tiba-tiba terbangun. Tapi aku 'kan waspada. Hampir tak
bersuara kudekati milik Tante. Kini giliran bagian bawah rambut indah
itu yang kecermati. Ada "daging berlipat", ada benjolan kecil warna
pink, tampaknya lebih menonjol dibanding milik bule itu. Dan di bawah
benjolan itu ada "pintu". Pintu itu demikian kecil, cukupkah punyaku
masuk ke dalamnya ? Punyaku ? Enak saja ! Memangnya lubang itu milikmu
?
Bisa saja sekarang aku melepas celanaku, mengarahkan ujungnya ke situ,
persis gambar pertama, mendorong, seperti gambar kedua, dan ... Tiba-
tiba Tante menggerakkan tangannya. Terbang semangatku. Kalau ada cermin
di situ pasti aku bisa melihat wajahku yang pucat pasi. Dengkuran halus
terdengar kembali. Untung, nyenyak benar tidurnya. Bagian atas
baju-mandinya menjadi lebih terbuka karena gerakan tangannya tadi.
Meski
perasaanku tak karuan, tegang, berdebar, nafas sesak, tapi pikiranku
masih waras untuk tidak membuka resleting celanaku. Bisa berantakan
masa
depanku. Aku "mencatat" beberapa perbedaan antara milik Tante dengan
milik bule yang di majalah itu. Rambut, milik Tante hitam lurus, milik
bule coklat keriting. Benjolan kecil, milik Tante lebih "panjang",
warna
sama-sama pink. Pintu, milik Tante lebih kecil. Lengkaplah sudah aku
mempelajari tubuh wanita. Utuhlah sudah aku mengamati seluruh tubuh
Tante. Seluruhnya ? Ternyata tidak, yang belum pernah aku lihat sama
sekali : puting susunya. Kenapa tidak sekarang ? Kesempatan terbuka di
depan mata, lho ! Mataku beralih ke atas, ke bukit yang bergerak naik-
turun teratur. Dada kanannya makin lebar terbuka, ada garis tipis warna
coklat muda di ujung kain. Itu adalah lingkaran kecil di tengah buah,
hanya pinggirnya saja yang tampak. Aku merendahkan kepalaku mengintip,
tetap saja putingnya tak kelihatan. Ya, hanya dengan sedikit menggeser
tepi baju mandi itu ke samping, lengkaplah sudah "kurikulum" pelajaran
anatomi tubuh Tante. Dengan amat sangat hati-hati tanganku menjangkau
tepi kain itu. Mendadak aku ragu. Kalau Tante terbangun bagaimana ?
Kuurungkan niatku. Tapi pelajaran tak selesai dong ! Ayo, jangan
bimbang, toh dia sedang tidur nyenyak. Ya, dengkurannya yang teratur
menandakan ia tidur nyenyak. Kembali kuangkat tanganku. Kuusahakan
jangan sampai kulitnya tersentuh. Kuangkat pelan tepi kain itu, dan
sedikit demi sedikit kugeser ke samping. Macet, ada yang nyangkut
rupanya. Angkat sedikit lagi, geser lagi. Kutunggu reaksinya. Masih
mendengkur. Aman. Terbukalah sudah.. Puting itu berwarna merah jambu
bersih. Berdiri tegak menjulang, bak mercusuar mini. Amboi, indahnya
buah dada ini. Tak tahan aku ingin meremasnya. Jangan, bahaya. Aku
harus
cepat-cepat pergi dari sini. Bukan saja khawatir Tante terbangun, tapi
takut aku tak mampu menahan diri, menubruk tubuh indah tergolek hampir
telanjang bulat ini.

***

Aku jadi tak tenang. Berulang kali terbayang rambut-rambut halus
kelamin
dan puting merah jambu milik Tante itu. Apalagi menjelang tidur. Tanpa
sadar aku mengusap-usap milikku yang tegang terus ini. Tapi aku segera
ingat janjiku untuk tidak masturbasi lagi. Mendingan praktek langsung.
Tapi dengan siapa ?

Hari ini aku pulang cepat. Masih ada dua mata pelajaran sebetulnya, aku
membolos, sekali-kali. Toh banyak juga kawanku yang begitu. Percuma di
kelas aku tak bisa berkonsentrasi. Di garasi aku ketemu Tante yang
siap-siap mau pergi senam. Dibalut baju senam yang ketat ini Tante jadi
istimewa. Tubuhnya memang luar biasa. Dadanya membusung tegak ke depan,
bagian pinggang menyempit ramping, ke bawah lagi melebar dengan pantat
menonjol bulat ke belakang, ke bawah menyempit lagi. Sepasang paha yang
nyaris bulat seperti batang pohon pinang, sepasang kaki yang panjang
ramping. Walaupun tertutup rapat aku ngaceng juga. Lagi-lagi aku
terangsang. Diam-diam aku bangga, sebab di balik pakaian senam itu aku
pernah melihatnya, hampir seluruhnya ! Justru bagian tubuh yang
penting-penting sudah seluruhnya kulihat tanpa ia tahu ! Salah sendiri,
teledor sih. Ah, salahku juga, buktinya kemarin aku menyingkap
putingnya.

"Lho, kok udah pulang, To," sapanya ramah. Ah bibir itu juga menggoda.

"Iya Tante, ada pelajaran bebas," jawabku berbohong. Kubukakan pintu
mobilnya. Sekilas terlihat belahan dadanya ketika ia memasuki mobil.
Uih, dadanya serasa mau "meledak" karena ketatnya baju itu.

"Terima kasih," katanya. "Tante pergi dulu ya." Mobilnya hilang dari
pandanganku.

***

Selasai mandi hari sudah hampir gelap. Di ruang keluarga Tante sedang
duduk di sofa nonton TV sendiri.

"Senamnya di mana Tante ?" Aku coba membuka percakapan. Aku
memberanikan
diri duduk di sofa yang sama sebelah kanannya.

"Dekat, di Tebet Timur Dalam." Malam ini Tante mengenakan daster pendek
tak berlengan, ada kancing-kancing di tengahnya, dari atas ke bawah.

"Tumben, kamu tidur siang."

"Iya Tante, tadi main voli di situ," jawabku tangkas.

"Kamu suka main voli ?"

"Di kampung saya sering olah-raga Tante." Aku mulai berani memandangnya
langsung, dari dekat lagi. Ih, bahu dan lengan atasnya putih banget !

"Pantesan badanmu bagus." Senang juga aku dipuji Tanteku yang rupawan
ini.

"Ah, Kalau ini mungkin saya dari kecil kerja keras di kebun, Tante."
Wow, buah putih itu mengintip di antara kancing pertama dan kedua di
tengah dasternya. Ada yang bergerak di celanaku.

"Kerja apa di kebun ?"

"Mengolah tanah, menanam, memupuk, panen." Buah dada itu rasanya mau
meledak keluar.

"Apa saja yang kamu tanam ?" tanyanya lagi sambil mengubah posisi
duduknya, menyilangkan sebelah kakinya.

Kancing terakhir daster itu sudah terlepas. Waktu sebelah pahanya
menaiki pahanya yang lain, ujung kain daster itu tidak "ikut", jadi 70
%
paha Tante tersuguh di depan mataku. Putih licin. Yang tadi bergerak di
celanaku, berangsur membesar.

"Macam-macam tergantung musimnya, Tante. Kentang, jagung, tomat."
Hampir
saja aku ketahuan mataku memelototi pahanya.

"Kalau kamu mau makan, duluan aja."

"Nanti aja Tante, nunggu Oom." Aku memang belum lapar. Adikku mungkin
yang "lapar"

"Oom tadi nelepon ada acara makan malam sama tamu dari Singapur,
pulangnya malam."

"Saya belum lapar," jawabku supaya aku tidak kehilangan momen yang
bagus
ini.

"Kamu betah di sini ?" Ia membungkuk memijit-mijit kakinya. Betisnya
itu...

"Kerasan sekali, Tante. Cuman saya banyak waktu luang Tante, biasa
kerja
di kampung, sih. Kalau ada yang bisa saya bantu Tante, saya siap."

"Ya, kamu biasakan dulu di sini, nanti Tante kasih tugas."

"Kenapa kakinya Tante ?" Sekedar ada alasan buat menikmati betisnya.

"Pegel, tadi senamnya habis-habisan."

Di antara kancing daster yang satu dengan kancing lainnya terdapat
"celah". Ada yang sempit, ada yang lebar, ada yang tertutup. Celah
pertama, lebar karena busungan dadanya, menyuguhkan bagian kanan atas
buah dada kiri. Celah kedua memperlihatkan kutang bagian bawah. Celah
ketiga rapat, celah keempat tak begitu lebar, ada perutnya. Celah
berikutnya walaupun sempit tapi cukup membuatku tahu kalau celana dalam
Tante warna merah jambu. Ke bawah lagi ada sedikit paha atas dan
terakhir, ya yang kancingnya lepas tadi.

"Mau bantu Tante sekarang ?"

"Kapan saja saya siap."

"Betul ?"

"Kewajiban saya, Tante. Masa numpang di sini engga kerja apa-apa."

"Pijit kaki Tante, mau ?"

Hah ? Aku tak menyangka diberi tugas mendebarkan ini.

"Biasanya sama Si Mar, tapi dia lagi engga ada."

"Tapi saya engga bisa mijit Tante, cuma sekali saya pernah mijit kaki
teman yang keseleo karena main bola." Aku berharap ia jangan
membatalkan
perintahnya.

"Engga apa-apa. Tante ambil bantal dulu." Goyang pinggulnya itu...

Sekarang ia tengkurap di karpet. Hatiku bersorak. Aku mulai dari
pergelangan kaki kirinya. Aah, halusnya kulit itu. Hampir seluruh tubuh
Tante pernah kulihat, tapi baru inilah aku merasakan mulus kulitnya.
Mataku ke betis lainnya mengamati bulu-bulu halus.

"Begini Tante, kurang keras engga ?"

"Cukup segitu aja, enak kok."

Tangan memijit, mata jelalatan. Lekukan pantat itu bulat menjulang,
sampai di pinggang turun menukik, di punggung mendaki lagi. Indah.
Kakinya sedikit membuka, memungkinkan mataku menerobos ke celah
pahanya.
Tanganku pindah ke betis kanannya aku menggeser dudukku ke tengah,
dan..
terobosan mataku ke celah paha sampai ke celana dalam merah jambu itu.
Huuuh, sekarang aku betul-betul keras.

"Aah," teriaknya pelan ketika tanganku menjamah ke belakang lututnya.

"Maaf Tante."

"Engga apa-apa. Jangan di situ, sakit. Ke atas saja."

Ke atas ? Berarti ke pahanya ? Apa tidak salah nih ? Jelas kok,
perintahnya. Akupun ke paha belakangnya. Ampuuun, halusnya paha itu.
Kulit Tante memang istimewa. Kalau ada lalat hinggap di paha itu,
mungkin tergelincir karena licin ! Aku mulai tak tenang. Nafas mulai
tersengal, entah karena mijit atau terangsang, atau keduanya. Aku tak
hanya memijit, terkadang mengelusnya, habis tak tahan. Tapi Tante diam
saja.

Kedua paha yang diluar, yang tak tertutup daster selesai kupijit. Entah
karena aku sudah "tinggi" atau aku mulai nakal, tanganku terus ke atas
menerobos dasternya.

"Eeeh," desahnya pelan. Hanya mendesah, tidak protes ! Kedua tanganku
ada di paha kirinya terus memijit. Kenyal, padat. Tepi dasternya dengan
sendirinya terangkat karena gerakan pijitanku. Kini seluruh paha
kirinya
terbuka gamblang, bahkan sebagian pantatnya yang melambung itu tampak.
Pindah ke paha kanan aku tak ragu-ragu lagi menyingkap dasternya.

"Enak To, kamu pintar juga memijit."

Aku hampir saja berkomentar, "Paha Tante indah sekali." Untung aku
masih
bisa menahan diri. Terus memijit, sekali-kali mengelus.

"Ke atas lagi To." Suaranya jadi serak.

Ini yang kuimpikan ! Sudah lama aku ingin meremas pantat yang menonjol
indah ke belakang itu, kini aku disuruh memijitnya ! Dengan senang hati
Tante ! Aku betul-betul meremas kedua gundukan itu, bukan memijit, dari
luar daster tentunya. Dengan gemas malah ! Keras dan padat. Ah, Tante.
Tante tidak tahu dengan begini justru menyiksa saya ! kataku dalam
hati.
Rasanya aku ingin menubruk, menindihkan kelaminku yang keras ini ke dua
gundukan itu. Pasti lebih nikmat dibandingkan ketika memeluk tubuh mbak
Mar dari belakang.

"Ih, geli To. Udah ah, jangan di situ terus," ujarnya menggelinjang
kegelian. Barusan aku memang meremas pinggir pinggulnya, dengan sengaja
!

"Cape, To ?" tanyanya lagi.

"Sama sekali engga, Tante," jawabku cepat, khawatir saat menyenangkan
ini berakhir.

"Bener nih ? Kalau masih mau terus, sekarang punggung, ya ?" Aha,
"daerah jamahan" baru ! Bahunya kanan dan kiri kupencet.

"Eeh," desahnya pelan.

Turun ke sekitar kedua tulang belikat. Lagi-lagi melenguh. Daster tak
berlengan ini menampakkan keteknya yang licin tak berbulu. Rajin
bercukur, mungkin. Ah, di bawah ketek itu ada pinggiran buah putih.
Dada
busungnya tergencet, jadi buah itu "terbuang" ke samping. Nakalku
kambuh. Ketika beroperasi di bawah belikat, tanganku bergerak ke
samping.

Jari-jariku menyentuh "tumpahan" buah itu. Tidak langsung sih, masih
ada
lapisan kain daster dan kutang, tapi kenyalnya buah itu terasa.
Punggungnya sedikit berguncang, aku makin terangsang. Ke bawah lagi,
aku
menelusuri pinggangnya.

"Cukup, To.." Kedua tangannya lurus ke atas. Ia tengkurap total.
Nafasnya terengah-engah.

"Depannya Tante ?" usulku nakal. Lancang benar kau To. Tante sampai
menoleh melihatku, kaget barangkali atas usulku yang berani itu.

"Kaki depannya 'kan belum Tante." Aku cepat-cepat meralat usulku. Takut
dikiranya aku ingin memijit "depannya punggung" yang artinya buah dada
!

"Boleh aja kalau kamu engga cape." Ya jelas engga dong ! Tante berbalik
terlentang. Sekejap aku sempat menangkap guncangan dadanya ketika ia
berbalik. Wow ! Guncangan tadi menunjukkan "eksistensi" kemolekan buah
dadanya ! Aduuh, bagaimana aku bisa bertahan nih ? Tubuh molek
terlentang dekat di depanku. Ia cepat menarik dasternya ke bawah,
sebagai reaksi atas mataku yang menatap ujung celana dalamnya yang
tiba-tiba terbuka, karena gerakan berbalik tadi. Silakan ditutup saja
Tante, toh aku sudah tahu apa yang ada dibaliknya, rambut-rambut halus
agak lurus, hitam, mengkilat, dan lebat. Lagi pula aku masih bisa
menikmati "sisanya": sepasang paha dan kaki indah ! Aku mulai memijit
tulang keringnya. Singkat saja karena aku ingin cepat-cepat sampai ke
atas, ke paha. Lutut aku lompati, takut kalau ia kesakitan, langsung ke
atas lutut, kuremas dengan gemas.

"Iih, geli." Aku tak peduli, terus meremas. Paha selesai, untuk
mencapai
paha atas aku ragu-ragu, disingkap atau jangan. Singkap ? Jangan ! Ada
akal, diurut saja. Mulai dari lutut tanganku mengurut ke atas,
menerobos
daster sampai pangkal paha.

"Aaaah, Tooo ...." Biar saja. Kulihat wajahnya, matanya terpejam. Aku
makin bebas. Dengan sendirinya tepi daster itu terangkat karena
terdorong tanganku. Samar-samar ada bayangan hitam di celana dalam
tipis
itu. Jelas rambut-rambut itu. Ke
Logged
Pages: [1]
Print
Jump to:  

Theme orange-lt created by panic